Berita Mimbar Magazine
To be part of the sharing world through advancing the Words of God.
Semua Doa Terjawab
Jangan lekas percaya bahwa tidak semua doa dijawab Tuhan. Jawaban-Nya sering jauh lebih bermanfaat dari yang kita minta. Ketika Paulus minta kesembuhan. yang ia peroleh adlh perubahan karakter yaitu kerendahan hati untuk merendahkan diri. Jika ia tidak memiliki kerendahan hati mana mungkin ia merasa layak untuk bermegah dalam Tuhan karena menjadi orang yang dipakai-Nya untuk memberkati banyak jemaat. “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. (2Kor 12:7). "Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Maz 56:9)
Masih Ada Tuhan
”Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya”. (Lukas 7:14-15):
DASAR REWEL (Dialog: Tuhan & Hamba-Nya)
H: Tuhan, mengapa Engkau membiarkan Aku terpuruk justru saat aku berapi-api melayanimu.
T: Supaya kamu terus bergantung pada-Ku
H: Tapi aku sudah tidak tahan, Tuhan.
T: Kamu pasti tahan, Aku akan menyertaimu dan memberi jalan keluar bagimu..
H: Kalau sudah habis kesabaranku bagaimana?
T: Kalau memang begitu apa yang akan kau lakukan.
H: Menurutku lebih baik aku meninggalkanMu dan tidak lagi perlu melayaniMu.
T: Kalau begitu silahkan saja.
H: Apakah nantinya Engkau tidak merasa kehilangan Aku?
T: Sudah pasti Aku kehilangan sekali atas kepergianmu?
H: Apakah Engkau akan bisa menemukan penggantiku?
T: Sudah pasti, masih banyak yang bisa menggantikanmu dan ia pasti mau.
H: Rasanya tidak adil dan merepotkan Engkau sendiri.
T: Kenapa begitu?
H: Daripada Engkau kerepotan mencari penggantiku apa tidak lebih baik Engkau
menyelesaikan masalahku sekarang supaya aku tidak meninggalkanMu.
T: Aturan mainnya tidak begitu. Dasar rewel.
H: Tapi aku sudah tidak tahan, Tuhan.
T: Kamu pasti tahan, Aku akan menyertaimu dan memberi jalan keluar bagimu..
H: Kalau sudah habis kesabaranku bagaimana?
T: Kalau memang begitu apa yang akan kau lakukan.
H: Menurutku lebih baik aku meninggalkanMu dan tidak lagi perlu melayaniMu.
T: Kalau begitu silahkan saja.
H: Apakah nantinya Engkau tidak merasa kehilangan Aku?
T: Sudah pasti Aku kehilangan sekali atas kepergianmu?
H: Apakah Engkau akan bisa menemukan penggantiku?
T: Sudah pasti, masih banyak yang bisa menggantikanmu dan ia pasti mau.
H: Rasanya tidak adil dan merepotkan Engkau sendiri.
T: Kenapa begitu?
H: Daripada Engkau kerepotan mencari penggantiku apa tidak lebih baik Engkau
menyelesaikan masalahku sekarang supaya aku tidak meninggalkanMu.
T: Aturan mainnya tidak begitu. Dasar rewel.
Mujizat
Mereka berkata terhadap Allah: "Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun? - Mazmur 78:19
Beberapa waktu yang lalu saya melihat film lama, Ten Commandments, cerita tentang pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Saat melihat visualisasi dari cerita-cerita Alkitab itu, saya bisa bayangkan betapa dahsyat mujijat demi mujijat yang Tuhan lakukan di depan mata bangsa Israel. Betapa tidak? Sepuluh tulah terjadi, dan yang lebih luar biasa lagi, mata mereka melihat tongkat Musa membelah laut Kolsom! Tak berapa lama kemudian mata mereka juga melihat tentara Mesir dikubur hidup-hidup di laut itu juga.
Tuhan sudah membuat banyak mujijat di depan bangsa Israel, namun yang mengherankan adalah melihat kenyataan bahwa mereka tetap saja meragukan Tuhan. Mereka protes dan marah-marah saat tidak ada air. Mereka mengancam akan kembali ke Mesir saat tidak mendapatkan makanan. Mereka meragukan Tuhan. Menurut saya ini pola pikir mereka ini cukup aneh, jika Tuhan dengan mudah bisa membelah Laut Kolsom, masakan Tuhan yang sama tak bisa menyediakan air dan makanan bagi mereka?
Saya mentertawakan cara berpikir bangsa Israel yang bodoh, tapi sesungguhnya saya juga sering melakukan hal itu. Saya tahu bahwa Tuhan sudah melakukan mujijat demi mujijat yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Namun giliran saya menemui sedikit masalah dalam hidup saya, kadangkala saya meragukan pertolongan Tuhan. Saya tergoda untuk berpikir, apakah Tuhan bisa menolong dari masalah yang sedemikian kompleks?
Apakah Anda juga mengalami hal ini? Tak seharusnya kita meragukan pertolongan Tuhan, sebab sampai hari ini mujijatNya terus terjadi. Jika Tuhan bisa menyembuhkan orang yang hampir mati bahkan membangkitkan orang yang sudah mati, masakan Tuhan yang sama tak bisa menyembuhkan kita? Jika Tuhan bisa memberkati nelayan sederhana macam Petrus dengan tangkapan yang sangat banyak, masakan Tuhan yang sama tak bisa memberkati usaha kita? Jika Tuhan bisa membawa orang sulit macam Zakheus untuk bertobat, masakan Ia tak bisa melakukannya untuk keluarga kita? Masalahnya hanya satu, kita seringkali meragukannya. Jika saja kita hidup bukan dengan apa yang kita lihat, tetapi dengan apa yang kita percayai, maka kita akan melihat mujijat demi mujijat terjadi.
Sumber:
http://www.renungan-spirit.com/renungan-kristen.html
Ingin Mengalami Mujizat? Datang Kepada Tuhan!
Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2013
Baca: Mazmur 77:1-21
"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala." Mazmur 77:12
Baca: Mazmur 77:1-21
"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala." Mazmur 77:12
Mujizat-mujizat yang tertulis di dalam Alkitab bukanlah cerita fiksi pengantar tidur, tapi merupakan kisah nyata sebagai bukti bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang ajaib dan berkuasa. Mengapa Alkitab mencatat tiap-tiap kejadian secara detil? Supaya kita makin kuat dan teguh di dalam Tuhan. Mungkin ada yang berkata, "Ah, itu
Contoh mujizat di masa lampau tertulis dalam 2 Raja-Raja 4:1-7. Kisah seorang janda miskin yang sedang mengalami persoalan berat: berutang banyak, menghadapi penagih utang dan anaknya hendak diambil sebagai jaminan. Dalam keadaan terjepit mengadulah ia kepada Elisa, nabi yang mendapat pengurapan dua kali lipat. Tanya Elisa, "Apa yang kau punya?" Janda itu menjawab ia hanya punya sedikit minyak dalam buli-buli. Lalu Elisa memerintahkan janda itu untuk mengumpulkan bejana kosong sebanyak-banyaknya, sampai ia harus meminjam kepada tetangganya. Apa yang terjadi? Waktu minyak itu dituang, minyak itu mengalir terus-menerus sampai seluruh bejana kosong terisi penuh, hingga janda itu dapat membayar seluruh utangnya.
Saat dalam pergumulan berat, janda itu datang ke alamat yang tepat (nabi Tuhan), bukan mencari 'alamat palsu', artinya mencari Tuhan dan berseru kepadaNya. Saat diperintahkan mengumpulkan bejana-bejana kosong, janda ini pun taat. Inilah iman yang hidup yaitu iman yang disertai perbuatan. Akhirnya ia pun mengalami mujizat luar biasa!
Mutiara Kata
Be optimistic, be energetic, & be lively.
Tuhan masih ada dan masih berkerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, untuk mempedulikan kita & mengarahkah langkah kita keluar dari kerikil-kerikil yang menghambat perjalanan hidup kita.
“Engkau tidak meninggalkan mereka di padang gurun karena kasih sayang-Mu yang besar. Tiang awan tidak berpindah dari atas mereka pada siang hari untuk memimpin mereka pada perjalanan, begitu juga tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui.” (Neh 9:19)
*****************************
Kerinduan-Nya
Kerinduan-Nya
adalah bertemu dengan kita, apapun keadaan dan keberadaan kita. "Zakheus,
segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. " (Luk 19:5). So,
sebenarnya Dia tidak pernah jauh, apalagi menjauhi kita.
*****************************
Saya Tidak Sanggup
Seringkali reaksi pertama kita atas masalah atau tugas yang kita anggap berat adalah "Saya tidak sanggup". Namun firman Tuhan meneguhkan kita bahwa "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Itu berarti kita dimungkinkan untuk menangani atau menghadapi setiap persoalan yang ada ketika kita melibatkan Kristus di dalamnya. Sederhananya, tidak berlebihan jika kita mengharapkan sesuatu terjadi di luar jangkauan kesanggupan kita "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37).
*****************************
Menyenangkan Hati Tuhan
Mestinya yang kita perjuangkan dalam hidup ini mengarah pada "menyenangkan hati Tuhan. Ketika Dia merasa senang atas apa yang kita sudah lakukan, apa sih yang tidak akan Ia berikan untuk kita? Di saat kita masih menjadi seteru-Nya, Ia memberi anak-Nya yang tunggal, bukan anak yang ke sekian. Itu berarti Ia memberi kita segala yang Ia punya. Terlebih ketika kita sudah menjadi anak-anak-Nya, makin tergerak dan bersukacitalah hati-Nya untuk memenuhi semua keperluan kita. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19).
*****************************
ASAL TIDAK BIMBANG
"Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?”’ (Yer 32:27)
Ketika kita sedang menghadapi sesuatu yang nampaknya tidak mungkin untuk kita atasi, milikilah iman karena tiada yang mustahil ketika Allah di pihak kita. Bukankah firman Tuhan mengatakan “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia “? (1Yoh 4:4)
Oleh karena itu jangan menyerah ketika menghadapi apa yang nampaknya mustahil karena kita percaya muzijat itu masih ada dan masih berlangsung.
Ingatlah juga apa yang Yesus ucapkan "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mrk 11:23-24).
Akhirnya, ketika suatu saat kita terjebak dalam perasaan bahwa sesuatu tidak mungkin terjadi; ingatlah firman Tuhan ini “Berdirilah dengan teguh dalam iman! (1Kor 16:13). Jika kehendak Tuhan meliputi kita, apapun bisa terjadi!
Pastor Allen
Kesungguhan dalam berurusan dengan Rumah Tuhan
(1Tawarikh 22:1-16)
Biasanya orang berdoa memohon kepada Tuhan untuk bisa memiliki rumah. Namun dalam bacaan 1Tawarikh 22:1-16 kita bisa menemukan adanya orang-orang yang membuatkan rumah untuk Tuhan. Apa Tuhan itu kalau tidak dibuatkan rumah terus tidak bisa berteduh? Tentu saja tidak. Pengertian rumah Tuhan adalah tempat bagi pertemuan dua hati yaitu hati Tuhan dan hati umat-Nya. Ini tentang orang-orang yang peduli pada Tuhan, tentang mereka yang menghormati Tuhan. Dengan usahanya, mereka ingin menyenangkan hati Tuhan.Bagi Raja Daud, membangun Bait Allah / Rumah Allah merupakan prioritas dalam hidupnya. Walaupun tidak diizinkan membangun sendiri, dia berusaha sungguh-sungguh untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembangunan Bait Allah tersebut.
Biasanya orang berdoa memohon kepada Tuhan untuk bisa memiliki rumah. Namun dalam bacaan 1Tawarikh 22:1-16 kita bisa menemukan adanya orang-orang yang membuatkan rumah untuk Tuhan. Apa Tuhan itu kalau tidak dibuatkan rumah terus tidak bisa berteduh? Tentu saja tidak. Pengertian rumah Tuhan adalah tempat bagi pertemuan dua hati yaitu hati Tuhan dan hati umat-Nya. Ini tentang orang-orang yang peduli pada Tuhan, tentang mereka yang menghormati Tuhan. Dengan usahanya, mereka ingin menyenangkan hati Tuhan.Bagi Raja Daud, membangun Bait Allah / Rumah Allah merupakan prioritas dalam hidupnya. Walaupun tidak diizinkan membangun sendiri, dia berusaha sungguh-sungguh untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembangunan Bait Allah tersebut.
Sikap Raja Daud
tersebut amat mengesankan bila kita mengingat bahwa yang akan mendapat
penghormatan bila Bait Allah itu telah berhasil dibangun bukan dirinya,
melainkan anak-Nya-Salomo. Raja Daud berusaha melakukan yang
terbaik-tidak asal-asalan, bukan untuk kesuksesan dirinya sendiri,
melainkan untuk ketenaran anaknya.
Bait Allah adalah
lanjutan dari Kemah Suci. Kemah Suci/Kemah Pertemuan/Tabernakel adalah
Kaabah Allah. Kemah Suci dibuat di kaki gunung Sinai di bawah pimpinan
Musa dengan teliti sesuai petunjuk dari Allah.Kemah itu dibongkar
pasang selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel dari Sinai sampai ke
tanah Kanaan. Bait Allah melambangkan "Kehadiran Allah yang menetap",
Bait Allah adalah tempat pertemuan Allah dengan umat-Nya. Jika Bait
Allah terbengkelai maka yang terjadi adalah "jadilah kehendak saya"
Melalui Kristus, setiap orang percaya bisa menjadi Bait Allah/Kaabah
Allah, karena Allah menetap/tinggal/diam di sana. Di jaman anugerah ini
Kaabah Allah bisa ada di mana-mana, dimanapun orang percaya ada di
sana.(Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1Kor 3:16)
Ay 1. “Maka kata Daud, Di sinilah rumah TUHAN, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel."
è Setiap anak Tuhan perlu memiliki kepekaan dan keyakinan akan
pimpinan Tuhan. Biarlah Tuhan yang mendahului setiap rencana kita dan
menunjukkan kepada kita suatu tempa yang Ia kehendaki untuk melakukan sesuatu.Ay 5. “dan
rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa besarnya
sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri" è
Biarlah segala sesuatu yang kita lakukan adalah bagi hormat dan
kemasyhuran nama-Nya, bukan untuk kemuliaan kita para pelayan-Nya.
Ay 6. “Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel”
Daud naik tahta melalui liku-liku dan keringat perjuangan, tapi Ia
tidak diijinkan Allah mendirikan Bait Allah. Sebaliknya Salomo naik
tahta dengan hanya satu tugas yakni membangun rumah bagi Allah Israel.
Ay 8. “tetapi
firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat
banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak
akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab sudah banyak darah
kautumpahkan ke tanah di hadapan-Ku. è Meskipun sebagian besar
peperangan yang dijalani Daud adalah atas dasar perintah dan
pertolongan Tuhan namun Allah tidak menghendaki adanya ingatan akan
telah adanya peperangan/kekerasan. Tangan Daud berlumuran darah juga
karena peristiwa Batsyeba/Uria”
Ay 9. “Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya.”
è Salomo/ shalom= Kedamaian, Rumah Tuhan bukanlah tempat pertumpahan
darah. “Rumah Allah” ini harus melambangkan kedamaian/perdamaian.
Gereja bukanlah tempat untuk merusak jiwa tapi tempat menyelamatkan
jiwa.” Bukan tempat huru-hara.
Ay 14. ”Sesungguhnya,
sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu
seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak
tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah
menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi.” è Daud menyadari
bahwa jumlah itu mungkin tidak cukup, tetapi Daud pun hanya mampu
menyediakan sejumlah itu bagi Salomo, karena kondisi kerajaan Israel
pada waktu itu pun dalam kesusahan, karena adanya peperangan dan
pemberontakan yang cukup menguras kas negara. Akan tetapi, Daud pun
memberikan hal terakhir yang ia miliki kepada Salomo, yaitu
semangatnya.
Ay 16. “Mulailah bekerja! TUHAN kiranya menyertai engkau!"
è Saat kita menyadari bahwa Allah menyertai kita, janganlah hal itu
menjadikan kita malah malas untuk berusaha. Karena Allah menyertai kita
di sepangjang hidup kita, maka mari kita melakukan sesuatu bersama Dia
Mari kita Lebih Serius dalam berurusan dengan Rumah Tuhan.
Dijagai-Nya Yang Teguh Dan Yang Percaya
“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wah 2:4)
Banyak carut marut kehidupan diakibatkan oleh hilangnya cinta mula-mula, diawali dengan meninggalkan cinta kepada Tuhan diikuti oleh hilangnya cinta kepada sesama. Betapa hebat daya rusak dari hilangnya cinta mula-mula.
Ketika kita mengasihi Dia dengan cinta mula-mula, kita akan terus mempercayai campur tangan Dia dalam kehidupan kita. Terpeliharanya cinta mula-mula memungkinkan terpeliharanya iman dari rongrongan persoalan hidup. Ketika kita mengasihi Dia dengan cinta mula-mula kita akan memelihara iman dan melakukan perbuatan iman yang ajeg, bersikap dan bertindak seperti yang dikehendaki oleh Dia yang kita kasihi. Sebaliknya, Meninggalkan kasih mula-mula berakibat pada :kegersangan, kehampaan, kekeringan rohani, ketakutan, kekejaman dsb. Meninggalkan cinta mula-mula berarti menghilangkan kasih yang pernah kita berikan kepada-Nya dan berarti berhentinya kita dari mengandalkan Dia sebagai Penolong kita. Tanpa cinta mula-mula tak akan ada lagi rasa sungkan dan hormat kita kepada-Nya. Cinta mula-mula dimungkinkan tinggal sebagai kenangan yang pernah kita miliki. Ketika hal itu terjadi maka penyembahan dan pelayanan kita hanya akan menjadi rutinitas yang monoton, begitu-begitu saja, hanya sebagai kepatutan agamawi.
Kalau akibat dari hilangnya cinta mula-mula adalah kerunyaman, sebaliknya buah dari terpeliharanya cinta mula-mula “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” (Yes 26:3)
Berbahagialah yang teguh mempercayai Tuhan, yang mengasihi Tuhan dan berbahagialah yang teguh dalam melayani Tuhan.
Akhirnya,
Landasilah dengan kasih jerih payahmu dan ketekunanmuLandasilah dengan kasih ketidaksabaranmu terhadap orang-orang jahatLandasilah dengan kasih kesabaranmu karena nama-Nya ;Landasilah dengan kasih jerih-lelahmu dalam melayani-Nya.
Persungutan, Kecemberutan & Kekecutan hati
Salah satu alasan mengapa kita mengeluh adalah karena kita merasa tidak memperoleh yang kita harapkan atau justru karena mendapatkan yang tidak kita harapkan. Namun ada saatnya yang terjadi dalam kehidupan adalah yang tidak bisa kita hindari. Itulah yang menimbulkan persungutan, kecemberutan serta kekecutan hati. Semua itu berpengaruh pada penampilan keluar jasmaniah kita maupun ketergerusan batiniah kita. Pilihan yang tepat untuk masalah tersebut tidak lain adalah mengenyahkan keluhan, karena di luar itu bukan pilihan. Yang mendasari dari tidak adanya alasan untuk mengeluh adalah bahwa “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu” (Maz. 34-20). Persungutan tidak merubah keadaan. Sebaliknya “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amz 17:22).
Kalau “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom 8:28), maka kebaikan yang akan Ia datangkan akan lebih mudah terjadi saat kita memelihara hati yang bersyukur dan mempercayai kesetiaan dan pemeliharaan-Nya. -Yanrose
KERENDAHAN HATI DI MASA SULIT
“Rendahkanlah
dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”
(Yak
4:10)
Kadangkala kita mengalami perasaan tertekan karena berbagai peristiwa dalam kehidupan. Perasaan ini juga dialami rasul Paulus ketika ia mengatakan “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2Kor 4:8-9).
Ketika kita mengalami hal yang sama ingatlah apa yang diucapkan Raja Daud saat ia menulis “Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.” (Maz 138:7).
Oleh
karena itu kita tidak perlu patah semangat dalam menghadapi setiap kesulitan. Ketika
rasul Paulus merasakan tekanan hidup ia memiliki ketegaran yang mana kitapun
diharapkan memiliki ketegaran yang sama. “Sebab
itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin
merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini,
mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih
besar dari pada penderitaan kami. Sebab
kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena
yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”
(2Kor 4:16-18).
Akhirnya,
“rendahkanlah dirimu di bawah tangan
Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala
kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1Pet 5:6-7).
Pastor
Allen
Subscribe to:
Posts (Atom)