Dalam Penjagaan-Nya

Kita memahami bahwa jawaban-Nya atas doa kita adalah “ya”, “belum”, dan “tidak”. Yang paling tidak kita harapkan dan mematahkan semangat kita adalah yang terakhir. Namun ketika kita tetap memiliki pengenalan yang mendalam akan Dia dan berada dalam keadaan “Jiwaku melekat kepada-Mu” (Maz 63:9a), maka kita justru akan makin mempercayai kehendak-Nya yang jauh lebih baik dari yang kita doakan. Dalam penantian kita akan hal terbaik dariNya itu, kita akan tetap berada dalam penjagaan-Nya karena “tangan kanan-Mu menopang aku” (Maz 63:9b).

Tak Sebatas “Tuhan itu Ada”

Dicantumkannya agama dalam kartu identitas kita menunjukkan bahwa kita percaya Tuhan itu ada. Namun seringkali kepercayaan kita memang hanya sebatas Tuhan itu ada. Itulah mengapa Tuhan yang tak terbatas menjadi terbatasi untuk berkarya sebagai pusat kehidupan yang menghidupkan hidup kita. Oleh karena itu libatkan Dia untuk berkuasa atas segala situasi dan di setiap detik aktifitas yang kita jalani. Jangan biarkan kita merasa segalanya telah runyam. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Maz 62:2).

MENGAPA KITA PERLU MENGAKU DOSA PADA SESAMA?

By Spiros Zodhiates,  Th.D

Rasul Yakobus dengan jelas mengatakan,  “Hendaklah kamu saling mengaku dosamu.”  Setelah membaca ayat ini, kita segera sampai pada simpulan bahawa Yakobus tidak sedang membicarakan tentang pengkuan dosa-dosa kita, tetapi tentang kesalahan-kesalahan kita.  Ada dua macam dalam ayat ini,  yang pertama mempergunakan kata hamartias, yang biasanya di terjemahkan “dosa,” dan berikut adalah paraptoomata, yang artinya” keluar garis atau keluar jalur.”  Sama sekali tidak ada perbedaan mana yang  dapat kita pilih  di antara kedua kata ini di pakai sebagai yang pailing tepat, yang \pertama hamartias, artinya dosa dalam pengertian kehilangan tanda yang di berikan kepada kita oleh Allah; dan yang kedua paraptoomata artinya dosa dalam pengertian keluar dari tilas yang telah di tinggalkan oleh Tuhan  untuk kita tapak-tilasi.  Yang kedua menyiratkan yang pertama, karena kalau kita keluar dari jalan yang seharusnya kita lalui, kita tidak pernah sampai ketempat yang kita tuju.  Kalau dari Solo kita hendak ke Jakarta, kita tidak akan pernah tiba di Surabaya.  Kita harus mengambil jalan yang tepat untuk tiba di tempat tujuan yang kita tetapkan sebelumnya.  Karena itu, apapun arti dari kata itu, kata itu menunjuk pada menjadi atau berbuat sesuatu yang asing baik untuk jalan maupun tujuan.

Tak pelak lagi bahwa Yakobus di sini sedang membicarakan orang Kristen.  Ia harus saja mengakhiri cerita tentang seorang saudara yang sakit yang di kunjungi oleh para penatua gereja lokal yang mengurutnya dengan minyak dan mendoakan dia  supaya sembuh.  Yakobus mengatakan keppada kita bahawa  walaupun orang itu berdosa, Tuhan akan mengampuni dia.  Dari perkataan ini, sangat mungkin bahawa orang itu sakit karena dosa, kendatipun kasus ini tidak selalu terkenak pada setiap orang yang sakit.

Ada suatu hubungan yang nyata antara ayat sebelumnya dan ayat ini.  Hubungan ini terlihat dengan di gunakan kata oun, yang artinya, “karena itu.” Mengapa “karena itu”?  Ini merupakan prinsip umum bagi suatu kondisi khusus.  Maka, dalam ayat ini kita mengerti bahawa harus ada pengakuan dosa dalam dua ayat sebelumnya dalam kasus saudara yang sakit.  Ia harus mnengaku dosanya kepada para penatua gereja yang ia panggil untuk datang dan mengunjungi dia.  Dalam prinsip umum ini, Yakobus menyerukan kita  untuk melakukan apa yang di lakukan oleh saudara yang sakit dan berdosa itu.

Tetapi ia kuatir kalau-kalau penatua gereja lokal  itu merasa bahawa  mereka dapat menggolongkan diri mereka sebagai “bapa pengakuan,” Seperti yang di perbuat orang pada akhir-akhir ini.  Kita harus ingat di sini Yakobus tidak mengatakan, “karena itu, akuilah dosamu kepada para penatua.”  Melainkan, “hendaklah kamu saling mengakui dosamu.”  Ini sungguh menarik, Yakobus sedang berbicara kepada orang Kristen secara umum tatkala  ia berkata, “Hendaklah kamu saling mengakui dosa.”
Kalau benar bahawa umat awam, orang biasa yang berdosa, harus mengakui dosa-dosa mereka kepada para penatua gereja  mereka, maka sama benarnya pula para penatua itu harus mengakui dosa-dosa mereka.  Tidak harus kepada sesama penatua, tapi bisa kepada sesama saudaranya di dalam Kristus, saudara mereka secara rohani.  Setelah penyembuhannya, saudara yang sakit ini tidak dapat lagi menyimpan rahasia dosa di dalam dirinya yang membuat dia mengalami penyakit jasmani , sehingga ia menceritakannya kepada tamu-tamu Kristennya itu.  Bahkan seandainya tamu-tamunya itu bukan penatua yang mengemban tanggung jawab tertentu, kita yakin bahawa saudara yang sakit akan tetap mengakui dosa-dosanya kepada mereka.  Dan siapa yang tahu apakah para penatua ini, pada saat ketika saudara yang sudah di sembuhkan membuka hatinya dan mengakui dosanya kepada mereka,  berbalik mengakui dosa-dosa mereka juga kepadanya?

Kata alleelois yang di terjemahkan “saling” sangat menarik. Kata itu berasal dari kata Yunani allos,  “lain.”  Namun masih ada kata Yunani yang lain yang juga mempunyai arti yang sama, yaitu heteros.  Dari kata inilah asal kata “heterogen.”  Alos mengungkap suatu perbedaan menurut angka dan menunjuk pada sesuatu yang lain dari jenis yang sama,  sementara heteros mengungkapkan suatu perbedaan sifat dan menunjuk pada sesuatu yang lain dari jenis yang berbeda.   Ada sesuatu yang Roh Kudus hendak ajarkan kepada kita.  Kata allelois yang di gunakan Yakobus di sini menunjuk pada “orang lain dari kelompok atau golongan yang sama,”  dan berdasarkan sifat kata ini kita tiba pada simpulan bahawa Yakobus menganggap para penatua itu sekualitas dan sederajad  dengan sudara mereka yang mereka doakan itu.
Saudara itu tidak lebih rendah dari mereka, atau mereka lebih tinggi dari dia.  Ia mengakui dosa-dosanya kepada mereka, dan mereka dapat mengakui dosa-dosa mereka kepadanya.  Kenyataan bahawa mereka tidak sakit tidak berarti bahawa mereka bukan orang-orang berdosa, sebaliknya bahawa seseorang sakit tidak selalu karena ia orang berdosa.  Jadi arti mutlak dari ayat ini ialah sebagai orang kristen kita semua pada dasarnya sma, sejauh yang menyangkut kerentanan terhadap dosa, dan dalam mengakui dosa satu terhadap yang lain tanpa membedakan derajad, bahkan pun antara umat awam dan imam.  Seorang imam setelah mendengarkan pengakuan dosa  anggota jemaatnya yang menyesal harus mempunyai keberanian dan daya tahan moral untuk berbalik mengaku dosa-dosanya kepada anggota jemaatnya.  Itulah yang di ajarkan oleh rasul Yakobus.
Tetapi belum aman mendasarkan suatu doktrin pokok yang penting seperti ini pada satu ayat Alkitab saja.  Mari kita selidiki bagian-bagian lain dari Alkitab untuk melihat apakah pada zaman rasuli ada praktek tertentu dari apa yang di kenal sebagai pengakuan dosa.  Dapatkah kita menemukan di dalam Perjsanjian Baru ayat atau kisah yang menunjukan bahawa ada rasul yang menunggu di sebuah ruang kecil.  Menunggu orang yang akan mendatangi mereka dan mengakui dosa-dosa mereka?  Alkitab sama sekali sepi dari persolan ini.  Baik Petrus maupun Yohanes atau Paulus dan tulisan-tulisan mereka tidak pernah menceritakan bahawa da orang yang menghadap mereka untuk mengakui dosa-dosa merreka dan mereka di ampuni.  Apakah itu karena mereka yang bertobat dalam pelayanan mereka menjadi tanpa dosa?  Tidak. Karena mereka terus menyalahkan anak-anak rohani mereka karena keseiringan mereka berbuat dosa. Tidak, tidak ada pengakuan-pengakuan seperti ini di dalam Perjanjian Baru.

Pengakuan dosa pada masa rasul-rasul merupakan sesuatu yang insidental yang tidak di sokong oleh kewajiban dan peraturan rasuli, tetapi yang berasal dari paksaan sengaja dari jiwa pribadi yang membuat pengakuan itu.  Kalau orang tidak mengakui dosanya kepada Paulus, tidak berarti bahawa orang itu akan masuk kedalam nereka.  Pencuri yang di salibkan di sebelah Tuhan Yesus tidak mengakui dosa kepada rasul, karena tidak ada rasul pada waktu itu.  Tetapi ia menangis kepada Kristus, dan puji Tuhan, Kristus siap untuk setiap orang!  Maka kita dapati bahawa tidak ada satu contoh pun di mana ada murid-murid Kristus atau rasul-rasul tertentu  mengajak seseorang untuk datang dan mengakui dosanya kepada mereka.

Ingat perselisihan antara Petrus dengan seseorang yang bernama Simon, yang mencoba menawarkan uang kepadanya untuk mendapatkan karunia Roh Kudus? Petrus menyuruh dia bertobat, tetapi tidak memintanya mengakui dosa-dosanya kepadanya,  melainkan mengakui dosa-dosanya kepada Allah dan menerima pengampunan dari Dia.  “Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengamouni niat hatimu ini.” (Kis. 8:22).  Petrus, tidak seperti mereka yang mengklaim menjadi penerusnya menurut suksesi rasuli, tidak pernah menyuruh Simon mengakui dosa kepadanya, atau memberikan pengampunan dosa kepadanya.

Seluruh dunia kristen mengulangi ucapan doa Bapa kami, setiap kali kita mengulangi doa-doa itu, kita menyatakan bahawa pengakuan dosa itu di tujukan kepada Allah saja dan bahwa pengampunan juga hanya berasal dari Dia dan bukan dari orang biasa.  Kita ucapkan, “Bapa kami di sorga…..ampunilah kesalahan kami” (mat.6 :9,12).

Seorang pemungut cukai mencari belas kasihan, bukan dari manusia melainkan dari Allah, tatkala Ia berkata, “ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,” (Luk. 18:13).  Justru wajar dan logis bahawa pengakuan dosa harus di sampaikan kepada pribadai yang mampu mengampuni dosa; dan hanya Allah yang mmampu melakukannya, seperti yang di nyatakan oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama, pasal satu, ayat sembilan,”Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kta dan menyucikan kita dari segala kejahatan,”  sama sekali tidak masuk akal pergi ke seorang tukang daging untuk membeli buku theologia.  Sama tidak masuk akal pergi kepada seseorang yang tidak sanggup mengampuni dosa kita untuk meminta pengampunan dosa.  Kita benar-benar akan kecewa.  Marilah kita datang kepada Yesus Kristus, karena “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh. 2:2).


Tetapi apakah pengakuan dosa kita kepada sesama saudara berbeda dari pengakuan dosa kita kepada Allah?  Kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah saja, karena hanya Dia yang sanggup mengampuni kita, yang telah melunasi hutang hukuman terhadap dosa kita, mengapa kita di suruh Yakobus  untuk saling mengakui dosa-dosa kita satu terhadap yang lain?

Sekalipun Tak Ada Dasar untuk Berharap

Saat menghadapi kebuntuan, sering kita tergoda untuk memperkirakan cara yang akan Tuhan pakai untuk menolong kita. Seriusnya persoalan menjadikan kita memperhitungkan bahwa Tuhanpun tidak akan memiliki peluang untuk bertindak. Itulah kelemahan kita karena tidak memahami cara kerja Tuhan yang tak selalu bisa kita lihat. "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya" (Rom 4:18}.

Mengingatkan Dia Supaya Tetap Ingat Janjinya

“Ingatlah firman yang Kaukatakan kepada hamba-Mu, oleh karena Engkau telah membuat aku berharap.” (Maz 119:49), Begitu besar pengharapan pemazmur akan janji pertolongan Tuhan sehingga ia mengingatkan Dia supaya tetap ingat janjiNya. Pengharapan dan keyakinan yang sama besarnya tetap harus kita pelihara dan tujukan kepadaNya untuk mendatangkan pertolongan dariNya. Oleh sebab itu, milikilah iman yang sama dengan seorang perempuan yang memiliki iman dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Mat 9:21)  

Kemerdekaan Yang Utuh

Oleh: Pdt. Wahyu Wahono, A.K., M.Th.
 
Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” ( Yohanes 8: 38 )]
“ Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepadaNya, Maka kata-Nya kepada orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Jawab mereka, “ Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun . Bagaimanakan Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka:”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka”.
Berangkat dari judul atau tema di atas maka perlulah kiranya dimuculkan dua pertanyaan besar yaitu; “Apa dan Mengapa kemerdekaan yang utuh itu? Dan, bagaimana mendapatkan kemerdekaan yang utuh?”
Pengantar
Setiap tanggal 17 Agustus kita dapat mengenang kembali hari kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman, perbudakan dan penindasan kaum kolonial. Hari Proklamasi kemerdekaan itu telah menjadi tonggak sejarah yang amat penting bagi bangsa Indonesia. Sejak saat itu bangsa Indonesia telah bebas dari penjajahan kaum kolonial, walaupun selanjutnya berbagai tantangan harus dihadapi untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai. Tantangan yang datang ternyata bukan datang dari luar saja, tetapi juga dari dalam. Sehingga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI) juga ada dalam tantangan. Oleh karena itu kita sebagai anak bangsa dan seluruh elemen di NKRI ini harus merapatkan barisan dan melawan semua bentuk pemecahbelah, terorisme dan apapun yang mengancam NKRI.
Secara lahir kita telah bebas dari perbudakan penjajah yaitu bangsa lain diantaranya; Belanda, Jepang dan Portugis, namun secara batin kita masih mengahadapi persoalan dan terus­menerus berjuang untuk melawan berbagai-bagai tantangan hidup. Kita belum benar-benar mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang utuh yaitu ketentraman, kedamaian, kemakmuran dan keadilan lahir maupun batin ternyata masih jauh dari kita.

Kita berusaha lepas dari semuanya itu tapi kenyataannya kegagalan yang didapat sehingga membuat hati kita semakin sedih, gelisah, kecewa, frustasi, cemas, setres, dan berbagai kondisi hidup menimpanya. Negeri ini dimana kita sebagai anak bangsa menjerit "Aku ingin bebas, aku ingin kemerdekaan sejati, aku ingin lepas dari itu semua" terdengar disana-sini. Suatu kenyataan yang tidak dapa dipungkiri, bahwa jeritan hati setiap insan yang dibelenggu atau diperhamba oleh persoalan dan masalah hidup masih terdengar disana-sini. Kemerdekaan yang utuh masih jauh, belum tercapai, itulah kenyaataan .

Apa dan Mengapa kemerdekaan yang utuh itu?
Sejak Adam dan Hawa melawan perintah Tuhan, mereka jatuh ke dalam dosa. Sejak itulah dosa masuk ke dalam dunia, dan oleh dosa itu juga maut menjalah semua orang. "Sebab semua orang telah berbuat dosa" dan kuasa maut terus­menerus menindas manusia itu sendiri. Perbudakan, penindasan dosa itu meliputi seluruh manusia yang besar, kecil, tua, muda bahkan sejak dari kandunganpun manusia sudah terinfeksi dosa. Celakanya dosa itu meliputi seluruh unsur manusia yaitul tubuh, jiwa dan rohnya. Keberadaan yang demikianlah maka tidak ada alasan manusia untuk menyelamatkan dirinya dengan bentuk dan cara apapun. Manusia telah rusak moralnya dan semuanya itulah sebabnya dikatakan upahnya adalah maut yaitu api neraka. Sungguh mengerikan bukan?
Manusia berdosa adalah manusia yang ada dalam penjajahan kuasa gelapan. Hati, pikiran dan seluruh keberadaan manusia terjajah dan dibelenggu oleh Ibilis. Manusia tidak dapat melepaskan diri dari cengraman-nya. Manusia ada dalam kemauan dan kehendak setan. Seluruh kehendak dan kemauan manusia terprotek oleh Iblis. Manusia tidak dapat melepaskan dirinya. Seluruh keberadaan manusia ada dalam penjajahanya. Manusia dalam seluruh keberadaannya menjadi hamba Iblis dan hamba dosa. Itulah sebabnya manusia memerlukan pribadi yang dapat memberikan kemerdekaan yang utuh, yaitu yang meliputi; tubuh, jiwa dan rohnya.

Dalam konteks pengetahuan manusia memang banyak yang dianggap benar. Namun suatu kenyataan bahwa benar dalam konteks pengetahuan dunia dan manusia tidak dapat menjadi alat, obat dan pembasmi dosa. “Kebenaran” dalam koteks manusia tidak akan mampu dan dapat menghancurkan kekuasaan Iblis. Hanyalah “KEBENARAN” dalam Tuhan Yesus Kristuslah yang dapat menyelesaikan penyakit yang membahayakan yaitu dosa dan menghancurkan kuasa Iblis. Kebanaran dalam Tuhan Yesus tidak membutuhkan tambahan, sudah cukup untuk menyelesaikan dosa dan menyelematkan manusia dari api jahanam.

Bagian firman Tuhan di atas menunjukkan arti dan perlunya kemerdekaan yang sebenarnya yaitu kemerdekaan yang utuh dalam kehidupan setiap manusia. Karena dikatakan bahwa semua manusia telah terjajah oleh dosa. Semua manusia membutuhkan kemerdekaan. Setiap orang perlu benar-benar merdeka lahir dan batinnya. Setiap orang perlu benar-benar merdeka yaitu mengalami dan mencapai damai sejahtera. Setiap orang perlu benar-benar merdeka yaitu terlepas dari kekangan takut, gelisah, setres dan berbagai penyakit jiwa yang melanda. Setiap orang perlu sadar dari perbudakan guru yang menyesatkan dan membawa kebinasaan yaitu Iblis dan antek-anteknya, dan berpaling serta menyerahkan diri serta menjadi murid dari Guru Agung yang akan dan menjamin hidup dalam kesentosaan. Setiap orang perlu dimerdekakan dari penjajah hati, pikiran bahkan seluruh hidupnya. Setiap orang siapapun dia, dimanapun berada memerlukan kemerdekaan yang utuh.
Bagaimana mendapatkan kemerdekaan yang utuh?
Terungkap secara jelas bahwa prinsip dasar untuk ada dalam kemerdekaan yang utuh adalah percaya. Kita harus masuk dalam areal percaya dengan penuh kesadaran bahwa ada pribadi yang sanggup mengerjakan dan memberikan kemerdekaan yang utuh. Siapapun kita, bukan hanya orang Yahudi, tapi kita juga non Yahudi kalau percaya pasti akan memperolehnya.
Langkah berikut adalah tetap dalam perkataan-Nya atau firman-Nya. Ini berarti kita ada dalam penyerahan secara totol pada bimbingan dan arahan firman-Nya. Kita membuang semua konsep, ajaran-ajaran yang kita pegang dan jadikan sebagai kebanggaan atau unggulkan dari pada Dia yang adalah pencipta dan penguasa satu-satunya. Kita harus berpaut dan beriman pada Dia saja. Kita harus meninggalkan pengalaman dan keberimanan yang lampau, dan mengarahkan diri pada jaminan yang kekal dalam firman-Nya. Karena keselamatan hanya terjamin apabila kita tetap dalam firman-Nya. Murid yang sejati sudah seharusnya senantiasa taat pada perkataan-Nya. Sekarang kita ada pada satu keputusan yaitu tetap dalam kebenaran firman Tuhan, perkataan Tuhan Yesus Kristus, Sang Pembebas dan penolong satu-satunya. Langkah yang kita buat itu ternya akan membawa kita untuk mengetahui kebenaran yang memberikan atau menjamin kemerdekaan yang utuh itu.

. Dan sekarang perlu masuk dan menjadi murid yang sejati agar kemerdekaan itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Sebagai murid sejati yaitu tetap dalam firman atau pengajaran-Nya. Ia tidak akan mendengar dan melakukan yang bukan firman Tuhan. Sebagai murid yang sajati akan tetap dan focus pada pengajaran-Nya. Sebagai murid yang sejati tidak akan pernah walau sedikit melupakan ajaran-Nya. Ia akan memegang apa yang dikatakan, “ Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, “ ( Amsal 3: 1 ).
Sebagai seorang yang telah masuk dan menerima kemerdekaan yang utuh sudah pasti tahu bahwa Allah mengasihi manusia, karena kasihNya yang besar itu maka Ia memberikan Sang Penyelamat atau Sang Pembebas bagi manusia. Perhatikanlah Firman Allah ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga dikaruniakan AnakNya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Yohanes 3:16. Sudah pasti bahwa seorang yang telah menerima kemerdekaan yang utuh tidak akan menyia-nyiakan kasih yang begitu besar dan luar biasa.
Yesus Kristus datang untuk menebus manusia dari dosa­dosanya, agar manusia yang sungguh percaya dan menerima Dia akan memperoleh kemerdekaanyang utuh dan sejati. Dia yang tidak berdosa memerdekakan kita dari kuasa dosa dan maut, dengan cara Ia mati di kayu salib. Kemerdekaan yang utuh dan sejati hanya ada di dalam Yesus Kristus. Di luar Yesus yang ada hanyalah perhambaan dan kehidupan menuju kebinasaan. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun bener-berar merdeka. Yoh 8:36. Sekarang Anda, saya dan kita semua yang percaya, menderima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi ada dan pasti benar-benar merdeka. Untuk itu marilah kita teriakkan yel-yel, “Merdeka, merdeka, merdeka”. Merdeka roh kita, jiwa kita, tubuh kita. Merdeka selama-lamanya yaitu dibumi dan di sorga. Merdeka takkala kita hidup di dunia ini maupun kelak kita meninggalkan dunia ini. “ Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya”. ( I Tesalonika 5: 23,24 ). SALAM MERDEKA, OYE.

Berseru & Bersyukur

Kita berdoa dan berseru dengan mengimani pertolongan-Nya atas kecemasan dan keraguan kita "Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus." (Maz3:5). Kita juga berdoa dan bersyukur mengimani bajwa keadaan baik kita semata-karena kebaikan-Nya. "Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku." (Maz 34:2).

Semua Doa Terjawab

Jangan lekas percaya bahwa tidak semua doa dijawab Tuhan. Jawaban-Nya sering jauh lebih bermanfaat dari yang kita minta. Ketika Paulus minta kesembuhan. yang ia peroleh adlh perubahan karakter yaitu kerendahan hati untuk merendahkan diri. Jika ia tidak memiliki kerendahan hati mana mungkin ia merasa layak untuk bermegah dalam Tuhan karena menjadi orang yang dipakai-Nya untuk memberkati banyak jemaat. “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. (2Kor 12:7). "Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Maz 56:9)

Masih Ada Tuhan


”Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya”. (Lukas 7:14-15):

Peristiwa matinya anak tunggal lakii-laki dari seorang janda sudah terjadi. Kesedihan menghinggapi hati wanita itu . Masalah atau persoalan hidup itu sudah terjadi. Manusia itu hidup untuk menghindarkan diri dari kematian, namun anak itu tidak bisa menghindar. Bersyukur bahwa Tuhan Yesus memiliki hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan. Ia sanggup memberi jalan keluar atas permasalahan keluarga yang berduka ini, bahkan ketika permasalahan itu sudah memuncak. Yesus mempertimbangkan bahwa anak itu masih perlu hidup beberapa tahun lagi supaya ibunya tidak larut dalam kedukaan.

Kalau Yesus bisa membangunkan orang mati berarti Ia bisa melakukan apa saja, kepada siapa saja, hingga hari ini. Di luar sana, orang sudah menganggap Tuhan itu tidak ada. Mereka membunuh Tuhan dengan pikiranNya. Mereka tidak sadar  bahwa sesungguhnya merekalah yang patut dikasihani. Berbahagialah mereka yang mempercayai kasih dan kuasa Yesus bagi hidupnya. Sadarilah bahwa Yesus sedang mempertimbangkan hal baik dan saat yang baik untuk diberikan kepada kita dan dilakukan untuk kita.

DASAR REWEL (Dialog: Tuhan & Hamba-Nya)

H: Tuhan, mengapa Engkau membiarkan Aku terpuruk justru saat aku berapi-api melayanimu.
T: Supaya kamu terus bergantung pada-Ku
H: Tapi aku sudah tidak tahan, Tuhan.
T: Kamu pasti tahan, Aku akan menyertaimu dan memberi jalan keluar bagimu..
H:  Kalau sudah habis kesabaranku bagaimana?
T: Kalau memang begitu apa yang akan kau lakukan.
H: Menurutku lebih baik aku meninggalkanMu dan tidak lagi perlu melayaniMu.
T: Kalau begitu silahkan saja.
H: Apakah nantinya Engkau tidak merasa kehilangan Aku?
T: Sudah pasti Aku kehilangan sekali atas kepergianmu?
H:   Apakah Engkau akan bisa menemukan penggantiku?
T:   Sudah pasti, masih banyak yang bisa menggantikanmu dan ia pasti mau.
H:   Rasanya tidak adil dan merepotkan Engkau sendiri.
T:   Kenapa begitu?
H:   Daripada Engkau kerepotan mencari penggantiku apa tidak lebih baik Engkau
      menyelesaikan masalahku sekarang supaya aku tidak meninggalkanMu.
T:   Aturan mainnya tidak begitu. Dasar rewel.

Mujizat


Mereka berkata terhadap Allah: "Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun? - Mazmur 78:19

Beberapa waktu yang lalu saya melihat film lama, Ten Commandments, cerita tentang pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Saat melihat visualisasi dari cerita-cerita Alkitab itu, saya bisa bayangkan betapa dahsyat mujijat demi mujijat yang Tuhan lakukan di depan mata bangsa Israel. Betapa tidak? Sepuluh tulah terjadi, dan yang lebih luar biasa lagi, mata mereka melihat tongkat Musa membelah laut Kolsom! Tak berapa lama kemudian mata mereka juga melihat tentara Mesir dikubur hidup-hidup di laut itu juga.
Tuhan sudah membuat banyak mujijat di depan bangsa Israel, namun yang mengherankan adalah melihat kenyataan bahwa mereka tetap saja meragukan Tuhan. Mereka protes dan marah-marah saat tidak ada air. Mereka mengancam akan kembali ke Mesir saat tidak mendapatkan makanan. Mereka meragukan Tuhan. Menurut saya ini pola pikir mereka ini cukup aneh, jika Tuhan dengan mudah bisa membelah Laut Kolsom, masakan Tuhan yang sama tak bisa menyediakan air dan makanan bagi mereka?
Saya mentertawakan cara berpikir bangsa Israel yang bodoh, tapi sesungguhnya saya juga sering melakukan hal itu. Saya tahu bahwa Tuhan sudah melakukan mujijat demi mujijat yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Namun giliran saya menemui sedikit masalah dalam hidup saya, kadangkala saya meragukan pertolongan Tuhan. Saya tergoda untuk berpikir, apakah Tuhan bisa menolong dari masalah yang sedemikian kompleks?

Apakah Anda juga mengalami hal ini? Tak seharusnya kita meragukan pertolongan Tuhan, sebab sampai hari ini mujijatNya terus terjadi. Jika Tuhan bisa menyembuhkan orang yang hampir mati bahkan membangkitkan orang yang sudah mati, masakan Tuhan yang sama tak bisa menyembuhkan kita? Jika Tuhan bisa memberkati nelayan sederhana macam Petrus dengan tangkapan yang sangat banyak, masakan Tuhan yang sama tak bisa memberkati usaha kita? Jika Tuhan bisa membawa orang sulit macam Zakheus untuk bertobat, masakan Ia tak bisa melakukannya untuk keluarga kita? Masalahnya hanya satu, kita seringkali meragukannya. Jika saja kita hidup bukan dengan apa yang kita lihat, tetapi dengan apa yang kita percayai, maka kita akan melihat mujijat demi mujijat terjadi.

Sumber:
http://www.renungan-spirit.com/renungan-kristen.html

Ingin Mengalami Mujizat? Datang Kepada Tuhan!


Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2013
Baca:  Mazmur 77:1-21

"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala."
  Mazmur 77:12

Mujizat-mujizat yang tertulis di dalam Alkitab bukanlah cerita fiksi pengantar tidur, tapi merupakan kisah nyata sebagai bukti bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang ajaib dan berkuasa.  Mengapa Alkitab mencatat tiap-tiap kejadian secara detil?  Supaya kita makin kuat dan teguh di dalam Tuhan.  Mungkin ada yang berkata,  "Ah, itu
kan terjadi di masa lalu dan tak mungkin terulang, karena zaman sudah berubah!"  Penulis tegaskan:  dunia ini boleh saja berubah, tapi kuasa Tuhan tidak pernah berubah, kekal untuk selama-lamanya.  "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."  (Matius 24:35)  dan   "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  (Ibrani 13:8).  Meski dunia penuh goncangan, kita orang percaya,  "...menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut."  (Ibrani 12:28)

Contoh mujizat di masa lampau tertulis dalam 2 Raja-Raja 4:1-7.  Kisah seorang janda miskin yang sedang mengalami persoalan berat:  berutang banyak, menghadapi penagih utang dan anaknya hendak diambil sebagai jaminan.  Dalam keadaan terjepit mengadulah ia kepada Elisa, nabi yang mendapat pengurapan dua kali lipat.  Tanya Elisa,  "Apa yang kau punya?"  Janda itu menjawab ia hanya punya sedikit minyak dalam buli-buli.  Lalu Elisa memerintahkan janda itu untuk mengumpulkan bejana kosong sebanyak-banyaknya, sampai ia harus meminjam kepada tetangganya.  Apa yang terjadi?  Waktu minyak itu dituang, minyak itu mengalir terus-menerus sampai seluruh bejana kosong terisi penuh, hingga janda itu dapat membayar seluruh utangnya.


Saat dalam pergumulan berat, janda itu datang ke alamat yang tepat  (nabi Tuhan), bukan mencari  'alamat palsu', artinya mencari Tuhan dan berseru kepadaNya.  Saat diperintahkan mengumpulkan bejana-bejana kosong, janda ini pun taat.  Inilah iman yang hidup yaitu iman yang disertai perbuatan.  Akhirnya ia pun mengalami mujizat luar biasa!

Mutiara Kata


Be optimistic, be energetic, & be lively.
Tuhan masih ada dan masih berkerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, untuk mempedulikan kita & mengarahkah langkah kita keluar dari kerikil-kerikil yang menghambat perjalanan hidup kita.
“Engkau tidak meninggalkan mereka di padang gurun karena kasih sayang-Mu yang besar. Tiang awan tidak berpindah dari atas mereka pada siang hari untuk memimpin mereka pada perjalanan, begitu juga tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui.” (Neh 9:19)

*****************************

Kerinduan-Nya
Kerinduan-Nya adalah bertemu dengan kita, apapun keadaan dan keberadaan kita. "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. " (Luk 19:5). So, sebenarnya Dia tidak pernah jauh, apalagi menjauhi kita.

Ada saatnya kita sungkan menerima Yesus masuk dalam kehidupan kita. Zakheus malu menerima Yesus karena menyadari bahwa rumah dan seisinya yang adalah hasil penyalahgunaan kewenangan dalam memungut pajak, tidak pantas bagi Yesus yang mulia. Namun Yesus bersikeras untuk berkunjung ke rumah Zakheus. Yesus tidak menghakimi perbuatan Zakheus melainkan justru Ia menghargai niatnya yang sungguh untuk menemukan Dia. Kasih-Nya yang besar mengisi kekosongan hidup Zakheus yang bergelimang harta dunia. Kiranya perjumpaan kita dengan Yesus hari ini di Rumah Tuhan menyegarkan dan menghidupkan hidup kita. "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. " (Luk 19:5). -Pdt. J.H. Lesnussa

*****************************
Saya Tidak Sanggup
Seringkali reaksi pertama kita atas masalah atau tugas yang kita anggap berat adalah "Saya tidak sanggup". Namun firman Tuhan meneguhkan kita bahwa "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Itu berarti kita dimungkinkan untuk menangani atau menghadapi setiap persoalan yang ada ketika kita melibatkan Kristus di dalamnya. Sederhananya, tidak berlebihan jika kita mengharapkan sesuatu terjadi di luar jangkauan kesanggupan kita "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37).

*****************************


Menyenangkan Hati Tuhan
Mestinya yang kita perjuangkan dalam hidup ini mengarah pada "menyenangkan hati Tuhan. Ketika Dia merasa senang atas apa yang kita sudah lakukan, apa sih yang tidak akan Ia berikan untuk kita? Di saat kita masih menjadi seteru-Nya, Ia memberi anak-Nya yang tunggal, bukan anak yang ke sekian. Itu berarti Ia memberi kita segala yang Ia punya. Terlebih ketika kita sudah menjadi anak-anak-Nya, makin tergerak dan bersukacitalah hati-Nya untuk memenuhi semua keperluan kita. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19).

*****************************

ASAL TIDAK BIMBANG

"Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?”’ (Yer 32:27)

Ketika kita sedang menghadapi sesuatu yang nampaknya tidak mungkin untuk kita atasi, milikilah iman karena tiada yang mustahil ketika Allah di pihak kita.   Bukankah firman Tuhan mengatakan “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia “? (1Yoh 4:4)

Oleh karena itu jangan menyerah ketika menghadapi apa yang nampaknya mustahil karena kita percaya muzijat itu masih ada dan masih berlangsung.

Ingatlah juga apa yang Yesus ucapkan "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.  Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mrk 11:23-24).

Akhirnya, ketika suatu saat kita terjebak dalam perasaan bahwa sesuatu tidak mungkin terjadi; ingatlah firman Tuhan ini “Berdirilah dengan teguh dalam iman! (1Kor 16:13).   Jika kehendak Tuhan meliputi kita, apapun bisa terjadi!

Pastor Allen

Kesungguhan dalam berurusan dengan Rumah Tuhan

(1Tawarikh 22:1-16)

Biasanya orang berdoa memohon kepada Tuhan untuk bisa memiliki rumah. Namun dalam bacaan 1Tawarikh 22:1-16 kita bisa menemukan adanya orang-orang yang membuatkan rumah untuk Tuhan. Apa Tuhan itu kalau tidak dibuatkan rumah terus tidak bisa berteduh? Tentu saja tidak. Pengertian rumah Tuhan adalah tempat bagi pertemuan dua hati yaitu hati Tuhan dan hati umat-Nya. Ini tentang orang-orang yang peduli pada Tuhan, tentang mereka yang menghormati Tuhan. Dengan usahanya, mereka ingin menyenangkan hati Tuhan.
Bagi Raja Daud, membangun Bait Allah / Rumah Allah  merupakan prioritas dalam hidupnya. Walaupun tidak diizinkan membangun sendiri, dia berusaha sungguh-sungguh untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembangunan Bait Allah tersebut.
Sikap Raja Daud tersebut amat mengesankan bila kita mengingat bahwa yang akan mendapat penghormatan bila Bait Allah itu telah berhasil dibangun bukan dirinya, melainkan anak-Nya-Salomo. Raja Daud berusaha melakukan yang terbaik-tidak asal-asalan, bukan untuk kesuksesan dirinya sendiri, melainkan untuk ketenaran anaknya.
Bait Allah adalah lanjutan dari Kemah Suci. Kemah Suci/Kemah Pertemuan/Tabernakel adalah Kaabah Allah. Kemah Suci dibuat di kaki gunung Sinai di bawah pimpinan Musa dengan teliti sesuai petunjuk dari Allah.Kemah itu dibongkar pasang selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel dari Sinai sampai ke tanah Kanaan. Bait Allah melambangkan "Kehadiran Allah yang menetap", Bait Allah adalah tempat pertemuan Allah dengan umat-Nya. Jika Bait Allah terbengkelai maka yang terjadi adalah "jadilah kehendak saya" Melalui Kristus, setiap orang percaya bisa menjadi Bait Allah/Kaabah Allah, karena Allah menetap/tinggal/diam di sana. Di jaman anugerah ini Kaabah Allah bisa ada di mana-mana, dimanapun orang percaya ada di sana.(Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1Kor 3:16)
Ay 1.  “Maka kata Daud, Di sinilah rumah TUHAN, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel."  Ã¨ Setiap anak Tuhan perlu memiliki kepekaan dan keyakinan akan pimpinan Tuhan. Biarlah Tuhan yang mendahului setiap rencana kita dan menunjukkan kepada kita suatu tempa yang Ia kehendaki untuk melakukan sesuatu.Ay 5.  “dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa besarnya sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri" è Biarlah segala sesuatu yang kita lakukan adalah bagi hormat dan kemasyhuran nama-Nya, bukan untuk kemuliaan kita para pelayan-Nya.
Ay 6. “Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel” Daud naik tahta melalui liku-liku dan keringat perjuangan, tapi Ia tidak diijinkan Allah mendirikan Bait Allah. Sebaliknya Salomo naik tahta dengan hanya satu tugas yakni membangun rumah bagi Allah Israel.
Ay 8. “tetapi firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab sudah banyak darah kautumpahkan ke tanah di hadapan-Ku. è Meskipun sebagian besar peperangan yang dijalani Daud adalah atas dasar perintah dan pertolongan Tuhan  namun Allah tidak menghendaki adanya ingatan akan telah adanya peperangan/kekerasan. Tangan Daud berlumuran darah juga karena peristiwa Batsyeba/Uria”
Ay 9. “Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya.” è Salomo/ shalom= Kedamaian, Rumah Tuhan bukanlah tempat pertumpahan darah. “Rumah Allah” ini harus melambangkan kedamaian/perdamaian. Gereja bukanlah tempat untuk merusak jiwa tapi tempat menyelamatkan jiwa.” Bukan tempat huru-hara.
Ay 14. ”Sesungguhnya, sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi.”  Ã¨ Daud menyadari bahwa jumlah itu mungkin tidak cukup, tetapi Daud pun hanya mampu menyediakan sejumlah itu bagi Salomo, karena kondisi kerajaan Israel pada waktu itu pun dalam kesusahan, karena adanya peperangan dan pemberontakan yang cukup menguras kas negara.  Akan tetapi, Daud pun memberikan hal terakhir yang ia miliki kepada Salomo, yaitu semangatnya. 
Ay 16. “Mulailah bekerja! TUHAN kiranya menyertai engkau!" è Saat kita menyadari bahwa Allah menyertai kita, janganlah hal itu menjadikan kita malah malas untuk berusaha. Karena Allah menyertai kita di sepangjang hidup kita, maka mari kita melakukan sesuatu bersama Dia


Mari kita Lebih Serius dalam berurusan dengan Rumah Tuhan.


Dijagai-Nya Yang Teguh Dan Yang Percaya


“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wah 2:4)


Banyak carut marut kehidupan diakibatkan oleh hilangnya cinta mula-mula, diawali dengan meninggalkan cinta kepada Tuhan diikuti oleh hilangnya cinta kepada sesama. Betapa hebat daya rusak dari hilangnya cinta mula-mula.


Ketika kita mengasihi Dia dengan cinta mula-mula, kita akan terus mempercayai campur tangan Dia dalam kehidupan kita. Terpeliharanya cinta mula-mula memungkinkan terpeliharanya iman dari rongrongan persoalan hidup. Ketika kita mengasihi Dia dengan cinta mula-mula kita akan memelihara iman dan melakukan perbuatan iman yang ajeg, bersikap dan bertindak seperti yang dikehendaki oleh Dia yang kita kasihi. Sebaliknya, Meninggalkan kasih mula-mula berakibat pada :kegersangan, kehampaan, kekeringan rohani, ketakutan, kekejaman dsb. Meninggalkan cinta mula-mula berarti menghilangkan kasih yang pernah kita berikan kepada-Nya dan berarti berhentinya kita dari mengandalkan Dia sebagai Penolong kita. Tanpa cinta mula-mula tak akan ada lagi rasa sungkan dan hormat kita kepada-Nya. Cinta mula-mula dimungkinkan tinggal sebagai kenangan yang pernah kita miliki. Ketika hal itu terjadi maka penyembahan dan pelayanan kita hanya akan menjadi rutinitas yang monoton, begitu-begitu saja, hanya sebagai kepatutan agamawi.


Kalau akibat dari hilangnya cinta mula-mula adalah kerunyaman, sebaliknya buah dari terpeliharanya cinta mula-mula “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” (Yes 26:3)


Berbahagialah yang teguh mempercayai Tuhan, yang mengasihi Tuhan dan berbahagialah yang teguh dalam melayani Tuhan. 


Akhirnya,


Landasilah dengan kasih jerih payahmu dan ketekunanmuLandasilah dengan kasih ketidaksabaranmu terhadap orang-orang jahatLandasilah dengan kasih kesabaranmu karena nama-Nya ;Landasilah dengan kasih jerih-lelahmu dalam melayani-Nya. 

Persungutan, Kecemberutan & Kekecutan hati


Salah satu alasan mengapa kita mengeluh adalah karena kita merasa tidak memperoleh yang kita harapkan atau justru karena mendapatkan yang tidak kita harapkan. Namun ada saatnya yang terjadi dalam kehidupan adalah yang tidak bisa kita hindari. Itulah yang menimbulkan persungutan, kecemberutan serta kekecutan hati. Semua itu berpengaruh pada penampilan keluar jasmaniah kita maupun ketergerusan batiniah kita. Pilihan yang tepat untuk masalah tersebut tidak lain adalah mengenyahkan keluhan, karena di luar itu bukan pilihan. Yang mendasari dari tidak adanya alasan untuk mengeluh adalah bahwa  “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu” (Maz. 34-20).  Persungutan tidak merubah keadaan. Sebaliknya “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amz  17:22).

Kalau “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom 8:28), maka kebaikan yang akan Ia datangkan akan lebih mudah terjadi saat kita memelihara hati yang bersyukur dan mempercayai kesetiaan dan pemeliharaan-Nya. -Yanrose

KERENDAHAN HATI DI MASA SULIT


“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”
(Yak 4:10)

Kadangkala kita mengalami perasaan tertekan karena berbagai peristiwa dalam kehidupan.  Perasaan ini juga dialami rasul Paulus ketika ia mengatakan “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2Kor 4:8-9).


Ketika kita mengalami hal yang sama ingatlah apa yang diucapkan Raja Daud saat ia menulis “Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.” (Maz 138:7).


Oleh karena itu kita tidak perlu patah semangat dalam menghadapi setiap kesulitan. Ketika rasul Paulus merasakan tekanan hidup ia memiliki ketegaran yang mana kitapun diharapkan memiliki ketegaran yang sama. “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.  Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.  Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2Kor 4:16-18).

Akhirnya, “rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1Pet 5:6-7).

Pastor Allen

Ketika Terbentang “Penyeberangan Yang Mendebarkan”


“kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (Yos 1:0)
Kapanpun Anda mengalami ketakutan, ketahuilah bahwa  “TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."  (Ul 31:8)
Yang terjadi ketika ketakutan tiba kita cenderung membesar-besarkan masalah melalui alam pikiran kita. Ingatlah bahwa kekhawatiran adalah kebalikan dari iman.
Tuhan telah berjanji bahwa “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau”.  (Yes 43:2). Ayat ini merujuk pada anak-anak-Nya yang menyeberangi Laut Merah dan juga perlindungan yang Ia berikan kepada Sadrakh, Mesakh Abednego di tungku api yang membara. Kedua peristiwa tersebut merupakan contoh tentang bagaimana Allah telah menolong anak-anak-Nya di masa lalu.
Oleh karena itu Raja dengan tegas mengucapkan “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. ". (Maz 23:4).
Jadi, ketika terbentang di hadapan kita “penyeberangan yang mendebarkan”, ketahuilah bahwa Tuhan akan menolong Anda karena di masa lalu Ia telah melakukannya bagi anak-anak-Nya. Akhirnya anda juga bisa dengan penuh kepastian mengucapkan “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Maz 27:1)
Pastor Allen 

SIKAP ANAK MENCERMINKAN SIKAP ORANG TUA

Di dalam cara yang sama seorang anak akan berkomunikasi dengan orang lain.
Berbicaralah lembut kepada anak anda jika anda ingin dia berkomunikasi secara lembut dengan orang lain.
Mendengarlah denga penuh perhatian dan penuh kesabaran kepada anak anda jika anda ingin ia berbicara dengan serupa kepada anda.


Jika anda menunjukan ketidakacuhan yang sama akan ditunjukannya kepada orang lain.
Jika anda ingin sungguh-sungguh ingin menemukan ciri sejati anak anda amatilah dengan hati-hati sikapnya dengan teman sebayanya. Hal ini dapat memampukan anda untuk menilai keefektifan sikap anda di rumah dan pengaruh sekolah dan kontak-konta lain.
Semangat kepercayaan diri lebih dapat dipangang ketimbang ajaran. Anak anda akan menghadapi situasi yang sulit dengan yang dia lihat dan menghadapi situasi serupa itu.
Jika anda pemboros, anak anda juga akan demikian.
Jangan menahan anak anda untuk masuk dalam suatu dilemma pencarian pemecahan bagi persoalan keluarga, biarlah mereka mengalami sosialisasi, pekerjaan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga atau finansial.

Anak yang bertumbuh dalam kelimpahan finansial akan membangun gaya hidup santai.
Singkapkanlah kepada anak anda tokoh-tokoh yang berguna yang dapat mereka idolakan sebagai pahlawan. Jika anda tidak memperkenalkan mana yang baik di pahlawankan, mereka akan mengambilnya dari TV, sekolah atau lingkungan lain yang barang kali yang tak diinginkan. 

Spiros Zodhiates

Para Orang Tua & Remajanya


Belajarlah bagaimana mengatakan “tidak!” Mereka akan terus mendesak orang tua mereka sepanjang orang tua membiarkan mereka.

Kerap kali para remaja ingin orang tua mereka mengatakan “tidak!” Meraka akan terus mendesak orang tua mereka sepanjang orang tua membiarkan mereka.

Penulihlah kebutuhan mereka, bukan keinginan mereka.

Para remaja suka berpergian bersama-sama dengan suatu kelompok, bahkan sekalipun bukan ke tempat-tempat yang paling mereka sukai. Mereka akan mencoba untuk menempatkan suatu perjalanan yang salah pada orang tua mereka dengan mengatakan, “teman-teman saya diizinkan orang tua mereka.” Dalam banyak kasus, ini tidak benar.

Bertindaklah sesuai dengan prinsip, bukan karena tekanan.

Para remaja akan terus menekankan orang tua mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi orang tua tetap pada patokan pada prinsip. Remaja ingin pergi ke pesta minum; tetapi prinsip adalah remaja tidak boleh minum, itu melawan hukum dan menyebabkan ketidak matangan sosial dan emosi.

Berbicarlah kepada anak-anak, jangan berkomunikasi.

Komunikasi merupakan istilah yang telah dipakai berlibih-lebihan yang menyiratkan suatu perangkat khusus yang berisi garis permulaan dalam formula yang mesti dituruti para orang tua. Kita tidak butuh garis penuntun, atau suatu formula, kita perlu berbicara kepada anak-anak kita, menganai perasaan mereka, apa yang mereka pikirkan, dan apa kebutuhan mereka .

Jadilah orang tua yang gigih.

Para remaja sangat gigih dalam berusaha mendapatkan keinginan mereka, tetapi para orang tua harus lebih gigih lagi dalam melihat bahwa kebutuhan mereka terpenuhi.

Pergunakanlah wibawa, bukan kekuasaan.

Para orang tua harus mempergunakan wibawa yang didasarkan pada hikmat, pengetahuan dan kerampilan yang unggul. Sedangkan kuasa di dasarkan pada kekuatan dan tekanan yang lebih unggul. Hal ini mematikan inisiatif dan kreatifitas mereka.


Hadapilah situasi yang terjadi dengan tenang.

Jika remaja melakukan suatu kesalahan, hadapilah persoalan itu. Jangan menunggu amarah bertambah sehingga terjadi ledakan. (Majalah Berita Mimbar)

Jadi Teman Bagi Keluarga Anda



Keremajaan merupakan periode yang paling riskan dalam kehidupan kita,  ketika di satu pihak kita bergumul  untuk ketakbergantungan kita kepada orang lain dan jati diri kita dan dipihak lain yang kita inginkan  (secara sembunyi,  diam-diam) merasakan keamanan dengan tetap menjadi kanak-kanak.  Saat ini  merupakan  saat mengingini melepaskan belenggu tetapi sementara itu mengkuatirkan masa depan,  terhadap rasa tak aman akan pengambilan keputusan itulah,  kebertemanan  dan identifikasi dalam sebuah kelompok menjadi prioritas.
Sebuah kelompok majalah telah  melakukan survei mengenai “Mengapa Anak-anak Remaja Pergi ke Kelompok Muda-mudi?”   Salah satu dari dua alasan teratas ialah bahwa para remaja pergi kelompok muda-mudi karena suka berteman dengan pemimpin kelompok muda-mudi itu.  Hal ini membuat suatu penyataan yang besar mengenai betapa pentingnya bagi para remaja untuk mempunyai hubungan yang erat dengan seorang yang lebih tua dari mereka,  kepada siapa mereka menaruh hormat,  penghargaan.  Masalahnya ialah:  Bagaimana kita bisa menjadi teman dari para remaja kita?
Saya ingin menyentuh tiga bidang yang sangat penting untuk para orang tua yang ingin menjadi teman untuk para remajanya.

Keseimbangan antara kasih dan disiplin

Mula-mula harus ada keseimbangan antara kasih dan disiplin.  Saya pernah melihat akibat yang dialami oleh sebuah keluarga  yang tidak yakin terhadap pendisiplinan  anak-anak mereka.  Anak-anak tidak mempunyai batasan-batasan yang jelas,  tidak ada daerah yang aman,  tidak ada tempat untuk meletakan kaki mereka dengan kuat dan berkata,  “Yang ini dapat diterima,  itu tidak!”  Saya menjumpai bahwa hal itu memberi tekanan kepada anak-anak untuk mencari batasan-batsan yang benar.  Mereka benci rasa tidak aman terhadap jenis ini  dan kehilangan penghargaan terhadap mereka yang tidak cukup kuat untuk menyediakan bagi mereka rasa aman yang mereka perlukan dalam bidang ini.
Amsal 22:15 mengatakan,  “Kebodohan melekat pada hati orang muda,  tetapi tongkat didikan akan mengusir mereka dari padanya.”  Amsal 23:113,  mengatakan:  “Jangan menolak didikan bagi anakmu,  ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya denga rotan.  Ayat 4  meneruskan,  :  engakau memukulnya dengan rotan;  tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.”
Sisi lain dari bidang ini adalah persoalan kasih.  Memaparkan seorang anak dengan begitu saja karena frustrasi menunjukan hilangnya kontrol  diri dan suatu pendekatan dengan kegeraman.  Disipilin ditandai dengan bekerja sama di dalam kasih.  Saya yakin bahwa keseimbangan antara kasih dan disiplin  merupakan persyaratan bagi para remaja untuk menghargai orang tuanya.  Jadilah bukan hanya sebagai orang tua tetapi juga sebagai teman bagi remaja kita,  barulah mereka menghargai kita.

Ketulusan

Bidang kedua ialah menjadi “tulus”  bagi anak-anak kita.  Inilah aspek terbesar dalam komunikasi.  Tidak ada hubungan yang di dalamnya orang saling melihat setiap hari dapat bertahan jika komunikisi tidak berhasil.  Ia melihat bahwa jika seorang teman tinggal di tempat yang lain,  hubungan mereka tetap erat sekalipun tingkat komunikasinya menurun secara drastis. Tetapi jika tempat tinggalnya berdekatan dengan komunikasinya menurun hubungan akan menjadi tegang.  Yang satu heran jika yang lain terbalik, dan kemudian yang lain heran mengapa yang pertama berpikir sehingga mereka berdua mungkin.  Permainan tebak-tebakan  curiga  dan rasa tidak percaya akan menghebat hingga komunikasi diperbaiki atau pertanyaan dijawab,  atau hubungan itu mati.  Ini merupakan “rubah-rubah kecil,  yang merusak ladang anggur”  hubungan.

Komunikasi

Kita harus memelihara jalur komunikasi dengan para remaja kita.  Kita harus terbuka terhadap mereka,  atau kita tidak dapat mengharapkan bahwa mereka akan berlaku demikian terhadap kita,  mempunyai kemampuan untuk menjadi tulus selama masa ini dalam kehidupan mereka tatkala ada begitu banyak keputusana yang harus dibuat dan pertanyaan yang harus dijawab.

Waktu untuk berteman

Terakhir,  menjadi teman bagi remaja-remaja anda memerlukan waktu.  Di dalam  masyarakat zaman yang serba cepat,  kita harus bergumul dengan waktu untuk menyediakan waktu yang cukup untuk anak-anak kita. “Kelaliman dari yang mendesak” dapat merampok dari kita  hal-hal yang penting.  Remaja-remaja kita dapat bertumbuh dan menjadi dewasa jika kita menanam persediaan waktu dengan mereka “suatu hari tertentu.”  Nyayian  “Kucing dalam ayunan”  menggambarkan segala sesuatu menganai seorang ayah yang mempunyai perhatian untuk menyediakan waktu bagi anak laki-lakinya, tetapi tidak pernah mendapatkannya.  Yang menjadi tragedi ialah rugi sesuatu yang tidak pernah kita dapati sebelumnya.  Jika mereka pergi,  itulah waktu yang kita mesti luangkan untuk mereka,  yang akan kita ingat dengan kemesraan;  bukan waktu yang kita luangkan untuk kesibukan pekerjaan.
Tidaklah penting bahwa kita dapat memikat mereka. Yang penting ialah bahwa kita bersenang-senang dengan mereka dan mereka mendapatkan pesannya – bahwa kita tidak hanya mengasihi mereka, tetapi mengasihi bersama-sama dengan mereka.  Hal ini akan membangun gambaran diri mereka sendiri dan keberteman kita dengan mereka. Juga membangun ingatan sampai pada akhir hidup.

Ron Marrujo
Glad Tidings 

Jendela Dunia Baru

Beberapa tahun yang lalu, saya tinggal disebuah bangunan apartemen tempat tinggal saya. Saya bisa memandang melampaui lorong antara dua bangunan apartemen ke arah apartemen sebelah yang sama lantainya dengan saya. Di situ tinggal seorang wanita, yang tidak saya kenal, sekalipun saya bisa melihat begitu ia duduk di dekat jendela setiap sore untuk merajut atau membaca.Setelah beberapa bulan berlalu, saya mulai mendapati jendala itu nampak kotor. Segala sesuatu telah kabur karena corengan. Saya berkata kepada diri sendiri, “heran, mengapa wanita itu tidak membersihkan jendela apartemennya?Jendela itu kelihatan mengerikan!”

Pada suatu pagi yang cerah, saya memutuskan untuk membersihkan apartemen saya sesuai dengan kebiasaan tahunan. Juga saya mencuci kaca jendela bagian dalam.Pada petang hari, setelah semua rampung, saya duduk dekat jendala dengan secangkir kopi pelepas lelah. Saya terkejut. Di sebelah sana, wanita itu terlihat duduk dekat jendela seperti biasanya. Saya bisa melihatnya dengan jelas. Jendela apartemennya bersih!Kenyataan itu menyedarkan saya. Saya mengeritik jendelanya yang kotor, tetapi saya memandang lewat jendela saya sendiri yang kotor!Hal itu benar-benar pelajaran yang obyektif. Betapa sering saya melihat, dan mengeritik orang lain melalui selubung kedunguan saya sendiri, melalui kabut kekurangan saya sendiri.

Sejak itu, setiap kali saya tergoda untuk menghakimi orang, terlebih dahulu saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Apakah saya melihat kepadanya melalui jendela saya sendiri yang kotor ?” Kemudian saya mencoba menggosok, memoles jendela dunia saya sendiri supaya saya dapat melihat dunia luar dengan lebih jelas. Dan tahukah Anda? Cara itu terbukti ampuh. ( Ruth E Knowlon, Majalah Berita Mimbar)

Rest in the Lord


Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; … (Maz 37:7)

Di kehidupan dunia masa kini, kesabaran adalah sesuatu yang susah ditemukan. Kita sudah terbiasa dengan sesuatu yang instan dalam segala hal, mulai dari cara menghidangkan makan sampai cara berkirim surat. Kesabaran sejati telah menjadi suatu seni yang hilang di hari-hari ini.
Penting bagi kita untuk mengingat bahwa kesabaran adalah suatu kebajikan. Jadi, apapun yang Anda usahakan untuk Anda capai, laksanakanlah dengan kerja keras dan kesabaran karena pencapaian sejati tidak terjadi secara mudah atau secara instan. “ agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” (Ibr 6:12). Oleh sebab itu tanamkan iman Anda dalam Tuhan, bekerja keraslah dan milikilah kesabaran


-Pastor Allen

Ia Tidak ijinkan Bahtera Hidup Anda Karam


TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Maz 118:6)

Kita semua sering mengalami kesulitan hidup dari waktu ke waktu. Kesulitan itu terjadi saat kita berurusan dengan orang atau ketika kita menghadapi situasi yang membuat kita patah semangat. Sering kali kesulitan-kesulitan itu bahkan memuncak pada titik batas kekuatan kita. Di situlah kita merasa tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Nah, kalau semua itu terjadi, ingatlah bahwa Firman Tuhan mengatakan “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Fil 4:13). Oleh karena itu, ketika Anda diperhadapkan pada sesuatu yang terasa sulit, mengapa tidak minta tolong kepada Tuhan? Bukankan tertulis dalam Alkitab “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.?" (Lukas 1:37). Ingatlah bahwa dengan pertolongan Tuhan, Nuh membangun bahtera sedangkan para profesional membangunTitanic yang akhirnya karam.

Jangan pernah merasa berkecil hati ketika Anda memiliki kuasa dahsyat Allah di pihak Anda. Apapun kesulitan Anda, entah besar atau kecil, tidak akan mampu menandingi kuasa-Nya! Akhirnya, hadapilah setiap permasalahan dengan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menolong Anda. Amen.

Pastor Allen

APAKAH KEMATIAN ITU HANYA SEPERTI TIDUR?


Spiros Zodhiates, Th.D

“Tetapi beberapa diantaranya telah meninggal (jatuh tertidur)” 
I Korintus 15:6c.

Pernahkah Anda merasa begitu lelah sehingga anda hampir tidak dapat menunggu untuk menjatuhkan diri ke tempat tidur? Kita semua pernah merasa begitu, suatu saat atau disaat yang lain. Betapa melegakan rasanya membaringkan tubuh anda yang letih dan kemudian menutup mata, tidur. Kata ini, “tidur”, mengandung makna menyenangkan, dan menyejukkan. Dan tidur di dalam Alkitab digandengkan dengan suatu pokok yang sangat menakutkan manusia lebih dari satu kali, dan dengan mereka membiarkan percakapan mereka pun sebagai renungan yang membingungkan. Pokok itu adalah “kematian”. Kita bergerenyit jika kita mendengarkannya. 

Itulah sebabnya mengapa minat kita begitu dibangkitkan oleh ungkapan yang dipakai Rasul Paulus dalam membicarakan 500 saksi yang melihat Yesus Kristus setelah kebangkitanNya. Ketika Paulus menulis peristiwa itu setelah dua puluh lima tahun kemudian, ia mengatakan bahwa lebih dari setengahnya telah “jatuh tertidur”(versi NIV dan KIV). Mengapa Paulus mempergunakan ungkapan ini alih-alih dengan sederhana menyatakan bahwa mereka telah meninggal? Apakah karena ia ragu-ragu untuk menyebut sebuah sekop sebagai sebuah sekop, oleh karena itu ia mempergunakan bentuk penghalusan untuk melembutkan kata yang jelek? Sama sekali tidak! Ia mempergunakan terminologi yang cocok bagi pengalaman ini untuk orang Kristen, dalam memandang kenyataan kebangkitan tubuh Tuhan Yesus Kristus. 

Perjanjian Baru sering kali membicarakan kematian alamiah manusia sebagai sebuah sekop, oleh karena itu ia mempergunakan terminologi yang cocok bagi pengalaman ini untuk orang Kristen, dalam memandang kenyataan kebangkitan tubuh Tuhan Yesus Kristus. Perjanjian Baru sering kali membicarakan kematian alamiah manusia sebagai tidur. Barangkali penandaan ini disebabkan oleh beberapa acuan kematian sebagai tidurnya jiwa manusia. Bagaimanapun, kita akan melihat nanti bahwa terminologi ini mengacu hanya pada tidurnya tubuh dan bukan jiwa.

Kata kerja Yunani yang dipergunakan untuk “tidur” di dalalm 1 Korintus 15:6 adalah ekoimeetheesan, bentuk aorist pasif dari koimaoo, bentuk tengah dan pasif dari yang digunakan secara intransitive (tak berpelengkap). Makna utama dari kata ini adalah tidur alamiah yang menghabiskan dua per tiga dari seluruh waktu hidup kita. Kata ini dipergunakan sebagai kematian karena, dalam kematian seperti dalam tidur, menurut cara Alkitab, kita berbaring untuk bangun kembali belakangan. Juga dalam kematian, seperti dalam tidur, tubuh tetap diam, tenang dan hening. 

Nah, ketika tidur, meskipun rasa jasmani kita dipotong dari kesadaran kontraknya dengan dunia sekeliling kita, namun pikiran atau jiwa kita masih tetap aktif. Para saintis yang pernah mengukur aktivitas mental manusia sementara ia tidur menemukan bahkan memecahkan persoalan dalam mimpi mereka dan bangun keesokan paginya dengan pengertian yang lebih baik mengenai situasi yang membingungkan ketimbang sebelum mereka pergi tidur. Ketika anda tidur, kesadaran anda tetap ada, bahkan sekali pun tubuh anda telah “mati bagi dunia”. Dalam mempergunakan terminologi untuk kematian yang menunjuk kepada tidur alamiah, Paulus mengharap kita mengerti bahwa kebangkitan itu menyangkut tubuh, dan bukan jiwa, karena itu hanya tubuh yang jatuh tertidur dalam kematian, jiwa tetap menguasai kesadaran. 

Alkitab tidak pernah membicarakan Yesus Kristus bahwa Ia “jatuh tertidur,” tetapi bahwa Ia mati (1 Korintus 15:3). Masih mengacu kepada mereka yang mati dengan iman di dalam Dia, gagasan itu melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka jatuh tertidur. Meskipun Alkitab menceritakan kepada kita bahwa Tuhan merupakan “buah sulung dari mereka yang jatuh tertidur” ( 1 Korintus 15:20), namun Alkitab tidak mengatakan bahwa Ia sendiri jatuh tertidur. Mengapa begitu?

Kita yakin bahwa Allah di dalam kemahatahuanNya, telah melihat lebih dahulu bahwa akan ada banyak keragu-raguan berkenaan dengan kenyataan kematian Kristus. Oleh karena itu, Ia menginspirasikan kepada para penulis Alkitab untuk mempergunakan penyusunan kata-kata yang lebih berhati-hati pada bagian ini. Orang Islam, sebagai contoh, mengklaim bahwa Yesus tidak benar-benar mati, dan banyak kalangan rasionalis mencoba mati-matian untuk membuktikan hal yang sama. Coba bayangkan betapa sukarnya kasus mereka ditangani jika tiga hari Ia berada di dalam kubur. Tidak, terminologi ini yang secara umum dipergunakan untuk kematian orang Kristen tidak pernah diterapkan kepada kematian Yesus Kristus. 

Frasa “jatuh tertidur” telah dipergunakan untuk menggambarkan kematian, bahkan pun dikenakan kepada orang-orang kudus yang telah mati sebelum Tuhan Yesus datang ke bumi (Matius 27:52; KPR 13:36). Frasa ini dipergunakan juga untuk Lazarus sewaktu Tuhan sendiri sudah ada di bumi (Yohanes 11:11). Dan frasa ini pun dipergunakan untuk orang-orang percaya setelah kenaikan Tuhan Yesus (KPR 7:60; I Korintus 11:30; 15:6; I Tesalonika 4:13-15; pernah menubuatkan bahwa Dia sendiri akan jatuh tertidur dan kemudian bangun lagi. 

Kematian dan kebangkitan Tuhan berhubungan pasti dengan kematian dan kebangkitan kita sendiri, dan hal ini di ungkapkan oleh pelambangan tidur karena mengacu kepada kematian jasmaniah kita sebagai anak-anak Allah. Sungguh luar biasa dan indah untuk mencatat bahwa Perjanjian Baru hampir tidak pernah memakai terminologi mati dan kematian untuk menunjukkan perceraian tubuh dan jiwa. Kata itu tetap merupakan kata yang kabur untuk menggambarkan kenyataan keterpisahan jiwa dari Allah, dan secara luar biasa mempergunakan pengertian-pengertian itu sebagai bayangan dan lambang fakta raga manusia terpisah dari rumah di mana ia tinggal di dunia ini. Tetapi Kekristenan dan dunia mempergunakan metafora ini untuk kematian dengan alasan-alasan yang secara langsung berlawanan. Dunia begitu khawatir terhadap kematian yang berani tidak bernama dan merupakan sesuatu yang jelek. Iman orang Kristen tidak begitu menakuti kematian. Bahwa kematian itu tidak terpikir sebagai peristiwa yang sebanding dengan nama panggilannya, tetapi teminologinya sekedar jatuh tertidur. Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa semua orang Kristen telah mencapai damai yang sempurna di dalam hati dan pikiran dengan menghargai kematian, tetapi semakin dekat mereka datang kepada Kristus dan makin dalam mereka membenamkan diri di dalam Firman Allah, kematian menampakkan kepada mereka akhir dari kehidupan dan kebanyakan mereka memahaminya sebagai jatuh tertidur, dari mana mereka bangun untuk pengalaman supremasi kepenuhan hidup di dalam Kristus untuk selama-lamanya. 

Bahkan ketika keadaan pada waktu meninggalkan dunia ini begitu menyakitkan dan keras, Alkitab tetap mempergunakan terminologi “jatuh tertidur”. Tidak menyolok ketika martir Kristen yang pertama, memar oleh batu dan mati dalam keadaan hancur berdarah, dikatakan jatuh tertidur? Jika sekiranya ada contoh di dalam mana metafor yang lembut nampak tidak tepat, itu adalah kematian yang kejam, menerima teriakan banyak orang yang melempari dia dengan batu. Meskipun begitu,” setelah selesai berkata-kata, ia jatuh tertidur.” (KPR 7:60). Jika itu benar kematian serupa itu, tidak ada kesakitan jasmaniah bagi siapa saja membuat kata yang lembut tidak tepat untuk setiap orang (Lihat Alexander Madaren, Expositions of Holy Scripture, 1 Corinthian, pp. 211-212). 

Gagasan mengenai kematian sebagai tidur saja bukan sekedar ide Kristen. Orang-orang Yahudi secara sempurna sangat akrab dengan gagasan itu, karena mereka membicarakan kematian mereka sebagai (Ulangan 31:16; 2 Semuel 7:12; 1 Raja-Raja 2:10; Ayub 7:21). Anda akan menemukan tidur dipergunakan sebagai lambang kematian di dalam filsafat Yunani, di dalam semua puisi, dan banyak literatur prosa dunia. Sangat menarik untuk mencatat bahwa dalam era post Kristen, pada pertengahan abad ketiga jika tidak terlalu awal, orang-orang Yunani menyebutkan pekuburan mereka koi meeteeria, “tempat tidur”. Dari kata Yunani inilah orang Inggris mendapatkan kata “cemetery”, pekuburan. 

Bagaimanapun, Tuhan Yesus Kristus dan Rasul Paulus tidak berbicara sekedar seperti puisi atau filsafat tetapi telah mempergunakan bahasa yang amat sangat nyata. Karena kenyataan kebangkitan Kristus, kematian hanyalah merupakan tidur, karena di dalam Dia kebangkitan dan bangunnya kita dari pertiduran itu pasti.(BM)

Rest in the Lord

Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; … (Maz 37:7)
Di kehidupan dunia masa kini, kesabaran adalah sesuatu yang susah ditemukan. Kita sudah terbiasa dengan sesuatu yang instan dalam segala hal, mulai dari cara menghidangkan makan sampai cara berkirim surat. Kesabaran sejati telah menjadi suatu seni yang hilang di hari-hari ini.
Penting bagi kita untuk mengingat bahwa kesabaran adalah suatu kebajikan. Jadi, apapun yang Anda usahakan untuk Anda capai, laksanakanlah dengan kerja keras dan kesabaran karena pencapaian sejati tidak terjadi secara mudah atau secara instan. “ agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” (Ibr 6:12). Oleh sebab itu tanamkan iman Anda dalam Tuhan, bekerja keraslah dan milikilah kesabaran
-Pastor Allen

JANGAN TETAP BERNYALI TIKUS

ANGAN TETAP BERNYALI TIKUS

Tema tentang kebaikan Allah tidak pernah habis kita gali, karena kebaikan Allah takmungkin dapat dihitung dan tak ternilai besarnya. Baik orang mempercayai atau tidak akan kasihNya, kasihNya tak berubah dan tetap bernilai.

Cerita lama dari India menceritakan tentang tikus yang ketakutan karena melihat seekor kucing. Itu sebabnya tikus tersebut pergi kepada tukang sihir untuk menyulapnya menjadi kucing. Setelah tikus tersebut jadi kucing, kembali lagi ia dicekam rasa takut karena melihat anjing. Maka segera saja ia kembali ke tukang sihir dan minta mengubahnya menjadi anjing. Setelah jadi anjing, lagi-lagi ia takut ketika bertemu dengan macan dan minta kepada tukang sihir untuk mengubahnya menjadi macan. Tetapi ketika ia datang lagi dengan keluhan bahwa ia bertemu dengan pemburu, si tukang sihir menolak membantu lagi, “Akan saya ubah kamu jadi tikus lagi, sebab, sekalipun badanmu macan, nyalimu masih tetap nyali tikus.”

Ketika kita percaya kepada Yesus, kita diubah menjadi manusia baru. Hanya sayang, kita seperti cerita klasik tersebut. Kita mengaku sudah menjadi manusia baru, tapi “nyali” kita tidak baru. Daripada mengijinkan Kristus menguasai kehidupan kita, kita lebih mengijinkan ketakutan yang menguasai kita. Bukan iman, tapi rasa kuatir. Bukan keberanian, tapi rasa cemas. Tak heran sukacita kita padam. Tak ada senyum. Tak ada keceriaan. Sebaliknya, kegelisahan dan ketakutanlah yang terungkap dari hidup kita.

Jadi, kita tidak perlu menjadi apa atau siapa. Yang terutama kita harus menjadi orang percaya yang mempercayakan segala sesuatu dalam hidup kita termasuk permasalahan kita kepada Yesus. Inilah saatnya kita membuktikan dan mengalami pertolonganNya seperti yang telah dialami, dinikmati dan disaksikan banyak orang.

Dalam Nehemia 9:19  dikatakan “Engkau tidak meninggalkan mereka di padang gurun karena kasih sayang-Mu yang besar. Tiang awan tidak berpindah dari atas mereka pada siang hari untuk memimpin mereka pada perjalanan, begitu juga tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui.” (Yanrus)