Showing posts with label Family Altar. Show all posts
Showing posts with label Family Altar. Show all posts

SIKAP ANAK MENCERMINKAN SIKAP ORANG TUA

Di dalam cara yang sama seorang anak akan berkomunikasi dengan orang lain.
Berbicaralah lembut kepada anak anda jika anda ingin dia berkomunikasi secara lembut dengan orang lain.
Mendengarlah denga penuh perhatian dan penuh kesabaran kepada anak anda jika anda ingin ia berbicara dengan serupa kepada anda.


Jika anda menunjukan ketidakacuhan yang sama akan ditunjukannya kepada orang lain.
Jika anda ingin sungguh-sungguh ingin menemukan ciri sejati anak anda amatilah dengan hati-hati sikapnya dengan teman sebayanya. Hal ini dapat memampukan anda untuk menilai keefektifan sikap anda di rumah dan pengaruh sekolah dan kontak-konta lain.
Semangat kepercayaan diri lebih dapat dipangang ketimbang ajaran. Anak anda akan menghadapi situasi yang sulit dengan yang dia lihat dan menghadapi situasi serupa itu.
Jika anda pemboros, anak anda juga akan demikian.
Jangan menahan anak anda untuk masuk dalam suatu dilemma pencarian pemecahan bagi persoalan keluarga, biarlah mereka mengalami sosialisasi, pekerjaan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga atau finansial.

Anak yang bertumbuh dalam kelimpahan finansial akan membangun gaya hidup santai.
Singkapkanlah kepada anak anda tokoh-tokoh yang berguna yang dapat mereka idolakan sebagai pahlawan. Jika anda tidak memperkenalkan mana yang baik di pahlawankan, mereka akan mengambilnya dari TV, sekolah atau lingkungan lain yang barang kali yang tak diinginkan. 

Spiros Zodhiates

Para Orang Tua & Remajanya


Belajarlah bagaimana mengatakan “tidak!” Mereka akan terus mendesak orang tua mereka sepanjang orang tua membiarkan mereka.

Kerap kali para remaja ingin orang tua mereka mengatakan “tidak!” Meraka akan terus mendesak orang tua mereka sepanjang orang tua membiarkan mereka.

Penulihlah kebutuhan mereka, bukan keinginan mereka.

Para remaja suka berpergian bersama-sama dengan suatu kelompok, bahkan sekalipun bukan ke tempat-tempat yang paling mereka sukai. Mereka akan mencoba untuk menempatkan suatu perjalanan yang salah pada orang tua mereka dengan mengatakan, “teman-teman saya diizinkan orang tua mereka.” Dalam banyak kasus, ini tidak benar.

Bertindaklah sesuai dengan prinsip, bukan karena tekanan.

Para remaja akan terus menekankan orang tua mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi orang tua tetap pada patokan pada prinsip. Remaja ingin pergi ke pesta minum; tetapi prinsip adalah remaja tidak boleh minum, itu melawan hukum dan menyebabkan ketidak matangan sosial dan emosi.

Berbicarlah kepada anak-anak, jangan berkomunikasi.

Komunikasi merupakan istilah yang telah dipakai berlibih-lebihan yang menyiratkan suatu perangkat khusus yang berisi garis permulaan dalam formula yang mesti dituruti para orang tua. Kita tidak butuh garis penuntun, atau suatu formula, kita perlu berbicara kepada anak-anak kita, menganai perasaan mereka, apa yang mereka pikirkan, dan apa kebutuhan mereka .

Jadilah orang tua yang gigih.

Para remaja sangat gigih dalam berusaha mendapatkan keinginan mereka, tetapi para orang tua harus lebih gigih lagi dalam melihat bahwa kebutuhan mereka terpenuhi.

Pergunakanlah wibawa, bukan kekuasaan.

Para orang tua harus mempergunakan wibawa yang didasarkan pada hikmat, pengetahuan dan kerampilan yang unggul. Sedangkan kuasa di dasarkan pada kekuatan dan tekanan yang lebih unggul. Hal ini mematikan inisiatif dan kreatifitas mereka.


Hadapilah situasi yang terjadi dengan tenang.

Jika remaja melakukan suatu kesalahan, hadapilah persoalan itu. Jangan menunggu amarah bertambah sehingga terjadi ledakan. (Majalah Berita Mimbar)

Jadi Teman Bagi Keluarga Anda



Keremajaan merupakan periode yang paling riskan dalam kehidupan kita,  ketika di satu pihak kita bergumul  untuk ketakbergantungan kita kepada orang lain dan jati diri kita dan dipihak lain yang kita inginkan  (secara sembunyi,  diam-diam) merasakan keamanan dengan tetap menjadi kanak-kanak.  Saat ini  merupakan  saat mengingini melepaskan belenggu tetapi sementara itu mengkuatirkan masa depan,  terhadap rasa tak aman akan pengambilan keputusan itulah,  kebertemanan  dan identifikasi dalam sebuah kelompok menjadi prioritas.
Sebuah kelompok majalah telah  melakukan survei mengenai “Mengapa Anak-anak Remaja Pergi ke Kelompok Muda-mudi?”   Salah satu dari dua alasan teratas ialah bahwa para remaja pergi kelompok muda-mudi karena suka berteman dengan pemimpin kelompok muda-mudi itu.  Hal ini membuat suatu penyataan yang besar mengenai betapa pentingnya bagi para remaja untuk mempunyai hubungan yang erat dengan seorang yang lebih tua dari mereka,  kepada siapa mereka menaruh hormat,  penghargaan.  Masalahnya ialah:  Bagaimana kita bisa menjadi teman dari para remaja kita?
Saya ingin menyentuh tiga bidang yang sangat penting untuk para orang tua yang ingin menjadi teman untuk para remajanya.

Keseimbangan antara kasih dan disiplin

Mula-mula harus ada keseimbangan antara kasih dan disiplin.  Saya pernah melihat akibat yang dialami oleh sebuah keluarga  yang tidak yakin terhadap pendisiplinan  anak-anak mereka.  Anak-anak tidak mempunyai batasan-batasan yang jelas,  tidak ada daerah yang aman,  tidak ada tempat untuk meletakan kaki mereka dengan kuat dan berkata,  “Yang ini dapat diterima,  itu tidak!”  Saya menjumpai bahwa hal itu memberi tekanan kepada anak-anak untuk mencari batasan-batsan yang benar.  Mereka benci rasa tidak aman terhadap jenis ini  dan kehilangan penghargaan terhadap mereka yang tidak cukup kuat untuk menyediakan bagi mereka rasa aman yang mereka perlukan dalam bidang ini.
Amsal 22:15 mengatakan,  “Kebodohan melekat pada hati orang muda,  tetapi tongkat didikan akan mengusir mereka dari padanya.”  Amsal 23:113,  mengatakan:  “Jangan menolak didikan bagi anakmu,  ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya denga rotan.  Ayat 4  meneruskan,  :  engakau memukulnya dengan rotan;  tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.”
Sisi lain dari bidang ini adalah persoalan kasih.  Memaparkan seorang anak dengan begitu saja karena frustrasi menunjukan hilangnya kontrol  diri dan suatu pendekatan dengan kegeraman.  Disipilin ditandai dengan bekerja sama di dalam kasih.  Saya yakin bahwa keseimbangan antara kasih dan disiplin  merupakan persyaratan bagi para remaja untuk menghargai orang tuanya.  Jadilah bukan hanya sebagai orang tua tetapi juga sebagai teman bagi remaja kita,  barulah mereka menghargai kita.

Ketulusan

Bidang kedua ialah menjadi “tulus”  bagi anak-anak kita.  Inilah aspek terbesar dalam komunikasi.  Tidak ada hubungan yang di dalamnya orang saling melihat setiap hari dapat bertahan jika komunikisi tidak berhasil.  Ia melihat bahwa jika seorang teman tinggal di tempat yang lain,  hubungan mereka tetap erat sekalipun tingkat komunikasinya menurun secara drastis. Tetapi jika tempat tinggalnya berdekatan dengan komunikasinya menurun hubungan akan menjadi tegang.  Yang satu heran jika yang lain terbalik, dan kemudian yang lain heran mengapa yang pertama berpikir sehingga mereka berdua mungkin.  Permainan tebak-tebakan  curiga  dan rasa tidak percaya akan menghebat hingga komunikasi diperbaiki atau pertanyaan dijawab,  atau hubungan itu mati.  Ini merupakan “rubah-rubah kecil,  yang merusak ladang anggur”  hubungan.

Komunikasi

Kita harus memelihara jalur komunikasi dengan para remaja kita.  Kita harus terbuka terhadap mereka,  atau kita tidak dapat mengharapkan bahwa mereka akan berlaku demikian terhadap kita,  mempunyai kemampuan untuk menjadi tulus selama masa ini dalam kehidupan mereka tatkala ada begitu banyak keputusana yang harus dibuat dan pertanyaan yang harus dijawab.

Waktu untuk berteman

Terakhir,  menjadi teman bagi remaja-remaja anda memerlukan waktu.  Di dalam  masyarakat zaman yang serba cepat,  kita harus bergumul dengan waktu untuk menyediakan waktu yang cukup untuk anak-anak kita. “Kelaliman dari yang mendesak” dapat merampok dari kita  hal-hal yang penting.  Remaja-remaja kita dapat bertumbuh dan menjadi dewasa jika kita menanam persediaan waktu dengan mereka “suatu hari tertentu.”  Nyayian  “Kucing dalam ayunan”  menggambarkan segala sesuatu menganai seorang ayah yang mempunyai perhatian untuk menyediakan waktu bagi anak laki-lakinya, tetapi tidak pernah mendapatkannya.  Yang menjadi tragedi ialah rugi sesuatu yang tidak pernah kita dapati sebelumnya.  Jika mereka pergi,  itulah waktu yang kita mesti luangkan untuk mereka,  yang akan kita ingat dengan kemesraan;  bukan waktu yang kita luangkan untuk kesibukan pekerjaan.
Tidaklah penting bahwa kita dapat memikat mereka. Yang penting ialah bahwa kita bersenang-senang dengan mereka dan mereka mendapatkan pesannya – bahwa kita tidak hanya mengasihi mereka, tetapi mengasihi bersama-sama dengan mereka.  Hal ini akan membangun gambaran diri mereka sendiri dan keberteman kita dengan mereka. Juga membangun ingatan sampai pada akhir hidup.

Ron Marrujo
Glad Tidings 

Kecintaan Pada Keluarga

Kecintaan kepada keluarga atau yang lebih spesifik kepada pasangan hidup bisa atau biasanya diawali dengan masa perkawanan dan kemudian meningkat pada masa pacaran, selanjutnya dua insan tersebut memasuki kehidupan berumah tangga. Harapan setiap orang yang terlibat di dalamnya adalah supaya keduanya termasuk anak-anak mereka tetap saling setia dalam ikatan keluarga tersebut. Ketentuan yang berlaku di beberapa sekolah tinggi Theologia adalah bahwa setiap mahasiswa hanya diijinkan berpacaran dengan sesama mahasiswa dalam kampus yang sama sebanyak satu kali. Putus sambung pacaran tetap diijinkan selama ia berpacaran dengan mahasiswa yang sama. Hal ini salah satunya dimaksudkan untuk mendorong mereka untuk lebih bersungguh dalam menilai urusan pasangan hidup.

Sepasang suami istri datang ke sebuah sumur keramat untuk meminta berkah dalam hidupnya. Pertama, sang suami melemparkan bunga tujuh rupa ke dalam sumur tersebut sambil komat-kamit membacakan doa dan keinginannya. Beberapa waktu kemudian giliran istrinya untuk melakukan seperti apa yang telah dilakukan sang suami, memanjatkan keinginan pada sumur keramat tersebut. Si istri begitu khusuk, menunduk begitu dalam sehingga ketika suaminya memegang pantatnya si istri justru jatuh ke dalam sumur dan mati tenggelam. "Wow, terkabul! Benar-benar sumur keramat," kata si suami spontan.
(kutipan dari www.kapanlagi.com/a/sumur-keramat.html)

Rupanya kisah di atas membuktikan betapa mahal dan langkanya untuk menemukan kecintaan kepada keluarga. Banyak orang yang mengalami kesulitan besar dalam memelihara kesetiaan. Diyakini bahwa kesulitan besar untuk menjadi setia menimbulkan kesulitan bagi orang lain yang seharusnya pantas dan layak mendapat kesetiaan dari mereka yang tidak setia.Intinya, ketidaksetiaan itu menimbulkan korban.

Memang tidak mudah menemukan pribadi yang setia. Bahkan sering kali orang mengutarakan keluhannya atas mutu kesetiaan sahabatnya. Mereka tidak gampang menerima keadaan saat mengetahui bahwa orang-orang dekat yang mereka kasihi justru menjadi orang yang mereka simpulkan sebagai orang yang telah mengkhianatinya. Itulah mengapa pemazmur sangat memberi perhatian dan keprihatinan tentang arti penting keberadaan orang yang dia sebut sebagai seorang sahabat. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Maz. 17:17). Tentu saja pemazmur merasa bahwa kehadiran sahabat sangat ia butuhkan di saat orang-orang dekatnya tidak peduli kepada keresahan hatinya.
Kembali kepada hal kesetiaan atas keluarga, kesetiaan bertipe ini juga disimpulkan sebagai sedang memudar. Semakin banyaknya peristiwa ketidaksetiaan juga sudah membuahkan diterbitkan banyak aturan formal (undang-undang) yag mengurusi urusan  yang sebenarnya menjadi urusan internal rumah tangga seseorang.

Dalam Alkitab kita bisa menemukan salah satu tokoh yang pantas diteladani. Dia adalah Yosua. Dia tidak hanya memiliki mutu kesetiaan yang tinggi dan dalam kepada bangsanya tapi juga pada keluarganya. Komitmennya dapat kita baca di ayat ini : Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15).   
Ucapan itu selain merupakan tantangan Yosua kepada bangsanya, yakni tantangan supaya mereka tetap setia kepada Tuhan, juga menggambarkan ketegasan Yosua dalam memutuskan sesuatu untuk kebaikan keluarganya. Ia setia kepada keluarganya  oleh karena itu ia berprakarsa dan melakukan yang terbaik untuk keselamatan keluarganya dengan membawa keluarga tersebut pada kehidupan yang disertai hadirat Tuhan. Bisa kita bayangkan bahwa kalau itu merupakan tantangan kepada bangsanya, tentu saja erat dengan keadaan saat itu dimana makin banyak orang, tetangga, kerabat, rekan kerjanya yang secara tidak sadar menjauh dari Tuhan sehingga sangat dimunkinkan berakibat buruk kepada keluarga mereka. Hal itu yang dilihat Yosua dalam pengalaman hidupnya di tengah bangsanya yang sering plin-plan kepada Tuhan. Yosua menyadari bahwa tak seorangpun termasuk tak satu keluargapun akan luput dari hukuman Tuhan jika mereka tak bosan-bosannya mengabaikan Tuhan.

Akhirnya, tantangan Yosua kepada bangsanya untuk memutuskan sesuatu, juga mestinya menjadi tantangan bagi kita untuk berprakarsa dan mewujudkan kesetiaan dan kecintaan kepada keluarga kita. Moga kita senantiasa dimampukan olehNya dalam megupayakan kebaikan bagi keluarga kita, yakni kebaikan yang dikenanNya. Amin. God bless you and beloved family.
 
(Soerjan - Berita Mimbar Magazine)