Showing posts with label In His Way. Show all posts
Showing posts with label In His Way. Show all posts

Kemerdekaan Yang Utuh

Oleh: Pdt. Wahyu Wahono, A.K., M.Th.
 
Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” ( Yohanes 8: 38 )]
“ Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepadaNya, Maka kata-Nya kepada orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Jawab mereka, “ Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun . Bagaimanakan Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka:”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka”.
Berangkat dari judul atau tema di atas maka perlulah kiranya dimuculkan dua pertanyaan besar yaitu; “Apa dan Mengapa kemerdekaan yang utuh itu? Dan, bagaimana mendapatkan kemerdekaan yang utuh?”
Pengantar
Setiap tanggal 17 Agustus kita dapat mengenang kembali hari kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman, perbudakan dan penindasan kaum kolonial. Hari Proklamasi kemerdekaan itu telah menjadi tonggak sejarah yang amat penting bagi bangsa Indonesia. Sejak saat itu bangsa Indonesia telah bebas dari penjajahan kaum kolonial, walaupun selanjutnya berbagai tantangan harus dihadapi untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai. Tantangan yang datang ternyata bukan datang dari luar saja, tetapi juga dari dalam. Sehingga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI) juga ada dalam tantangan. Oleh karena itu kita sebagai anak bangsa dan seluruh elemen di NKRI ini harus merapatkan barisan dan melawan semua bentuk pemecahbelah, terorisme dan apapun yang mengancam NKRI.
Secara lahir kita telah bebas dari perbudakan penjajah yaitu bangsa lain diantaranya; Belanda, Jepang dan Portugis, namun secara batin kita masih mengahadapi persoalan dan terus­menerus berjuang untuk melawan berbagai-bagai tantangan hidup. Kita belum benar-benar mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang utuh yaitu ketentraman, kedamaian, kemakmuran dan keadilan lahir maupun batin ternyata masih jauh dari kita.

Kita berusaha lepas dari semuanya itu tapi kenyataannya kegagalan yang didapat sehingga membuat hati kita semakin sedih, gelisah, kecewa, frustasi, cemas, setres, dan berbagai kondisi hidup menimpanya. Negeri ini dimana kita sebagai anak bangsa menjerit "Aku ingin bebas, aku ingin kemerdekaan sejati, aku ingin lepas dari itu semua" terdengar disana-sini. Suatu kenyataan yang tidak dapa dipungkiri, bahwa jeritan hati setiap insan yang dibelenggu atau diperhamba oleh persoalan dan masalah hidup masih terdengar disana-sini. Kemerdekaan yang utuh masih jauh, belum tercapai, itulah kenyaataan .

Apa dan Mengapa kemerdekaan yang utuh itu?
Sejak Adam dan Hawa melawan perintah Tuhan, mereka jatuh ke dalam dosa. Sejak itulah dosa masuk ke dalam dunia, dan oleh dosa itu juga maut menjalah semua orang. "Sebab semua orang telah berbuat dosa" dan kuasa maut terus­menerus menindas manusia itu sendiri. Perbudakan, penindasan dosa itu meliputi seluruh manusia yang besar, kecil, tua, muda bahkan sejak dari kandunganpun manusia sudah terinfeksi dosa. Celakanya dosa itu meliputi seluruh unsur manusia yaitul tubuh, jiwa dan rohnya. Keberadaan yang demikianlah maka tidak ada alasan manusia untuk menyelamatkan dirinya dengan bentuk dan cara apapun. Manusia telah rusak moralnya dan semuanya itulah sebabnya dikatakan upahnya adalah maut yaitu api neraka. Sungguh mengerikan bukan?
Manusia berdosa adalah manusia yang ada dalam penjajahan kuasa gelapan. Hati, pikiran dan seluruh keberadaan manusia terjajah dan dibelenggu oleh Ibilis. Manusia tidak dapat melepaskan diri dari cengraman-nya. Manusia ada dalam kemauan dan kehendak setan. Seluruh kehendak dan kemauan manusia terprotek oleh Iblis. Manusia tidak dapat melepaskan dirinya. Seluruh keberadaan manusia ada dalam penjajahanya. Manusia dalam seluruh keberadaannya menjadi hamba Iblis dan hamba dosa. Itulah sebabnya manusia memerlukan pribadi yang dapat memberikan kemerdekaan yang utuh, yaitu yang meliputi; tubuh, jiwa dan rohnya.

Dalam konteks pengetahuan manusia memang banyak yang dianggap benar. Namun suatu kenyataan bahwa benar dalam konteks pengetahuan dunia dan manusia tidak dapat menjadi alat, obat dan pembasmi dosa. “Kebenaran” dalam koteks manusia tidak akan mampu dan dapat menghancurkan kekuasaan Iblis. Hanyalah “KEBENARAN” dalam Tuhan Yesus Kristuslah yang dapat menyelesaikan penyakit yang membahayakan yaitu dosa dan menghancurkan kuasa Iblis. Kebanaran dalam Tuhan Yesus tidak membutuhkan tambahan, sudah cukup untuk menyelesaikan dosa dan menyelematkan manusia dari api jahanam.

Bagian firman Tuhan di atas menunjukkan arti dan perlunya kemerdekaan yang sebenarnya yaitu kemerdekaan yang utuh dalam kehidupan setiap manusia. Karena dikatakan bahwa semua manusia telah terjajah oleh dosa. Semua manusia membutuhkan kemerdekaan. Setiap orang perlu benar-benar merdeka lahir dan batinnya. Setiap orang perlu benar-benar merdeka yaitu mengalami dan mencapai damai sejahtera. Setiap orang perlu benar-benar merdeka yaitu terlepas dari kekangan takut, gelisah, setres dan berbagai penyakit jiwa yang melanda. Setiap orang perlu sadar dari perbudakan guru yang menyesatkan dan membawa kebinasaan yaitu Iblis dan antek-anteknya, dan berpaling serta menyerahkan diri serta menjadi murid dari Guru Agung yang akan dan menjamin hidup dalam kesentosaan. Setiap orang perlu dimerdekakan dari penjajah hati, pikiran bahkan seluruh hidupnya. Setiap orang siapapun dia, dimanapun berada memerlukan kemerdekaan yang utuh.
Bagaimana mendapatkan kemerdekaan yang utuh?
Terungkap secara jelas bahwa prinsip dasar untuk ada dalam kemerdekaan yang utuh adalah percaya. Kita harus masuk dalam areal percaya dengan penuh kesadaran bahwa ada pribadi yang sanggup mengerjakan dan memberikan kemerdekaan yang utuh. Siapapun kita, bukan hanya orang Yahudi, tapi kita juga non Yahudi kalau percaya pasti akan memperolehnya.
Langkah berikut adalah tetap dalam perkataan-Nya atau firman-Nya. Ini berarti kita ada dalam penyerahan secara totol pada bimbingan dan arahan firman-Nya. Kita membuang semua konsep, ajaran-ajaran yang kita pegang dan jadikan sebagai kebanggaan atau unggulkan dari pada Dia yang adalah pencipta dan penguasa satu-satunya. Kita harus berpaut dan beriman pada Dia saja. Kita harus meninggalkan pengalaman dan keberimanan yang lampau, dan mengarahkan diri pada jaminan yang kekal dalam firman-Nya. Karena keselamatan hanya terjamin apabila kita tetap dalam firman-Nya. Murid yang sejati sudah seharusnya senantiasa taat pada perkataan-Nya. Sekarang kita ada pada satu keputusan yaitu tetap dalam kebenaran firman Tuhan, perkataan Tuhan Yesus Kristus, Sang Pembebas dan penolong satu-satunya. Langkah yang kita buat itu ternya akan membawa kita untuk mengetahui kebenaran yang memberikan atau menjamin kemerdekaan yang utuh itu.

. Dan sekarang perlu masuk dan menjadi murid yang sejati agar kemerdekaan itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Sebagai murid sejati yaitu tetap dalam firman atau pengajaran-Nya. Ia tidak akan mendengar dan melakukan yang bukan firman Tuhan. Sebagai murid yang sajati akan tetap dan focus pada pengajaran-Nya. Sebagai murid yang sejati tidak akan pernah walau sedikit melupakan ajaran-Nya. Ia akan memegang apa yang dikatakan, “ Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, “ ( Amsal 3: 1 ).
Sebagai seorang yang telah masuk dan menerima kemerdekaan yang utuh sudah pasti tahu bahwa Allah mengasihi manusia, karena kasihNya yang besar itu maka Ia memberikan Sang Penyelamat atau Sang Pembebas bagi manusia. Perhatikanlah Firman Allah ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga dikaruniakan AnakNya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Yohanes 3:16. Sudah pasti bahwa seorang yang telah menerima kemerdekaan yang utuh tidak akan menyia-nyiakan kasih yang begitu besar dan luar biasa.
Yesus Kristus datang untuk menebus manusia dari dosa­dosanya, agar manusia yang sungguh percaya dan menerima Dia akan memperoleh kemerdekaanyang utuh dan sejati. Dia yang tidak berdosa memerdekakan kita dari kuasa dosa dan maut, dengan cara Ia mati di kayu salib. Kemerdekaan yang utuh dan sejati hanya ada di dalam Yesus Kristus. Di luar Yesus yang ada hanyalah perhambaan dan kehidupan menuju kebinasaan. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun bener-berar merdeka. Yoh 8:36. Sekarang Anda, saya dan kita semua yang percaya, menderima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi ada dan pasti benar-benar merdeka. Untuk itu marilah kita teriakkan yel-yel, “Merdeka, merdeka, merdeka”. Merdeka roh kita, jiwa kita, tubuh kita. Merdeka selama-lamanya yaitu dibumi dan di sorga. Merdeka takkala kita hidup di dunia ini maupun kelak kita meninggalkan dunia ini. “ Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya”. ( I Tesalonika 5: 23,24 ). SALAM MERDEKA, OYE.

Kesungguhan dalam berurusan dengan Rumah Tuhan

(1Tawarikh 22:1-16)

Biasanya orang berdoa memohon kepada Tuhan untuk bisa memiliki rumah. Namun dalam bacaan 1Tawarikh 22:1-16 kita bisa menemukan adanya orang-orang yang membuatkan rumah untuk Tuhan. Apa Tuhan itu kalau tidak dibuatkan rumah terus tidak bisa berteduh? Tentu saja tidak. Pengertian rumah Tuhan adalah tempat bagi pertemuan dua hati yaitu hati Tuhan dan hati umat-Nya. Ini tentang orang-orang yang peduli pada Tuhan, tentang mereka yang menghormati Tuhan. Dengan usahanya, mereka ingin menyenangkan hati Tuhan.
Bagi Raja Daud, membangun Bait Allah / Rumah Allah  merupakan prioritas dalam hidupnya. Walaupun tidak diizinkan membangun sendiri, dia berusaha sungguh-sungguh untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembangunan Bait Allah tersebut.
Sikap Raja Daud tersebut amat mengesankan bila kita mengingat bahwa yang akan mendapat penghormatan bila Bait Allah itu telah berhasil dibangun bukan dirinya, melainkan anak-Nya-Salomo. Raja Daud berusaha melakukan yang terbaik-tidak asal-asalan, bukan untuk kesuksesan dirinya sendiri, melainkan untuk ketenaran anaknya.
Bait Allah adalah lanjutan dari Kemah Suci. Kemah Suci/Kemah Pertemuan/Tabernakel adalah Kaabah Allah. Kemah Suci dibuat di kaki gunung Sinai di bawah pimpinan Musa dengan teliti sesuai petunjuk dari Allah.Kemah itu dibongkar pasang selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel dari Sinai sampai ke tanah Kanaan. Bait Allah melambangkan "Kehadiran Allah yang menetap", Bait Allah adalah tempat pertemuan Allah dengan umat-Nya. Jika Bait Allah terbengkelai maka yang terjadi adalah "jadilah kehendak saya" Melalui Kristus, setiap orang percaya bisa menjadi Bait Allah/Kaabah Allah, karena Allah menetap/tinggal/diam di sana. Di jaman anugerah ini Kaabah Allah bisa ada di mana-mana, dimanapun orang percaya ada di sana.(Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1Kor 3:16)
Ay 1.  “Maka kata Daud, Di sinilah rumah TUHAN, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel."  è Setiap anak Tuhan perlu memiliki kepekaan dan keyakinan akan pimpinan Tuhan. Biarlah Tuhan yang mendahului setiap rencana kita dan menunjukkan kepada kita suatu tempa yang Ia kehendaki untuk melakukan sesuatu.Ay 5.  “dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa besarnya sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri" è Biarlah segala sesuatu yang kita lakukan adalah bagi hormat dan kemasyhuran nama-Nya, bukan untuk kemuliaan kita para pelayan-Nya.
Ay 6. “Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel” Daud naik tahta melalui liku-liku dan keringat perjuangan, tapi Ia tidak diijinkan Allah mendirikan Bait Allah. Sebaliknya Salomo naik tahta dengan hanya satu tugas yakni membangun rumah bagi Allah Israel.
Ay 8. “tetapi firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab sudah banyak darah kautumpahkan ke tanah di hadapan-Ku. è Meskipun sebagian besar peperangan yang dijalani Daud adalah atas dasar perintah dan pertolongan Tuhan  namun Allah tidak menghendaki adanya ingatan akan telah adanya peperangan/kekerasan. Tangan Daud berlumuran darah juga karena peristiwa Batsyeba/Uria”
Ay 9. “Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya.” è Salomo/ shalom= Kedamaian, Rumah Tuhan bukanlah tempat pertumpahan darah. “Rumah Allah” ini harus melambangkan kedamaian/perdamaian. Gereja bukanlah tempat untuk merusak jiwa tapi tempat menyelamatkan jiwa.” Bukan tempat huru-hara.
Ay 14. ”Sesungguhnya, sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi.”  è Daud menyadari bahwa jumlah itu mungkin tidak cukup, tetapi Daud pun hanya mampu menyediakan sejumlah itu bagi Salomo, karena kondisi kerajaan Israel pada waktu itu pun dalam kesusahan, karena adanya peperangan dan pemberontakan yang cukup menguras kas negara.  Akan tetapi, Daud pun memberikan hal terakhir yang ia miliki kepada Salomo, yaitu semangatnya. 
Ay 16. “Mulailah bekerja! TUHAN kiranya menyertai engkau!" è Saat kita menyadari bahwa Allah menyertai kita, janganlah hal itu menjadikan kita malah malas untuk berusaha. Karena Allah menyertai kita di sepangjang hidup kita, maka mari kita melakukan sesuatu bersama Dia


Mari kita Lebih Serius dalam berurusan dengan Rumah Tuhan.


JANGAN TETAP BERNYALI TIKUS

ANGAN TETAP BERNYALI TIKUS

Tema tentang kebaikan Allah tidak pernah habis kita gali, karena kebaikan Allah takmungkin dapat dihitung dan tak ternilai besarnya. Baik orang mempercayai atau tidak akan kasihNya, kasihNya tak berubah dan tetap bernilai.

Cerita lama dari India menceritakan tentang tikus yang ketakutan karena melihat seekor kucing. Itu sebabnya tikus tersebut pergi kepada tukang sihir untuk menyulapnya menjadi kucing. Setelah tikus tersebut jadi kucing, kembali lagi ia dicekam rasa takut karena melihat anjing. Maka segera saja ia kembali ke tukang sihir dan minta mengubahnya menjadi anjing. Setelah jadi anjing, lagi-lagi ia takut ketika bertemu dengan macan dan minta kepada tukang sihir untuk mengubahnya menjadi macan. Tetapi ketika ia datang lagi dengan keluhan bahwa ia bertemu dengan pemburu, si tukang sihir menolak membantu lagi, “Akan saya ubah kamu jadi tikus lagi, sebab, sekalipun badanmu macan, nyalimu masih tetap nyali tikus.”

Ketika kita percaya kepada Yesus, kita diubah menjadi manusia baru. Hanya sayang, kita seperti cerita klasik tersebut. Kita mengaku sudah menjadi manusia baru, tapi “nyali” kita tidak baru. Daripada mengijinkan Kristus menguasai kehidupan kita, kita lebih mengijinkan ketakutan yang menguasai kita. Bukan iman, tapi rasa kuatir. Bukan keberanian, tapi rasa cemas. Tak heran sukacita kita padam. Tak ada senyum. Tak ada keceriaan. Sebaliknya, kegelisahan dan ketakutanlah yang terungkap dari hidup kita.

Jadi, kita tidak perlu menjadi apa atau siapa. Yang terutama kita harus menjadi orang percaya yang mempercayakan segala sesuatu dalam hidup kita termasuk permasalahan kita kepada Yesus. Inilah saatnya kita membuktikan dan mengalami pertolonganNya seperti yang telah dialami, dinikmati dan disaksikan banyak orang.

Dalam Nehemia 9:19  dikatakan “Engkau tidak meninggalkan mereka di padang gurun karena kasih sayang-Mu yang besar. Tiang awan tidak berpindah dari atas mereka pada siang hari untuk memimpin mereka pada perjalanan, begitu juga tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui.” (Yanrus)


Merendahkan Diri Demi Memuliakan Kristus

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”. (Efesus 2:10).

Kita seharusnya bangga karena Allah sengaja menghadirkan kita ke dunia untuk melakukan kehendakNya yang mulia. Allah berprakarsa dan menyimpan maksud  atas  hidup kita. Dan maksud itu tidak lain adalah supaya kita melakukan yang baik menurut takaran yang Allah tentukan. Kita diciptakan oleh Allah yang sama, tetapi kita memiliki kepribadian yang berbeda. Kepribadian yang berbeda inilah yang menandakan kesungguhan Allah dalam menciptakan kita.

Jika Allah tidak secara serius dalam menciptakan kita, maka Ia tidak akan susah-susah mengukir kepribadian manusia sehingga kepribadian tersebut akan sama atau paling tidak mirip antara yang satu dengan yang lain. Menciptakan pribadi yang berbeda malah menyulitkan Allah sendiri. Kalau Allah tidak mau repot-repot dalam menciptakan manusia, maka Ia akan membuat manusia berpribadi sama dengan temperamen yang sama. Sebaliknya, apa yang ditemukan atau diciptakan manusia cenderung menjadi suatu produk yang berkarakter dan spesikfikasi yang sama. Akan tetapi, apapun keberbedaan kita,  Allah menghendaki supaya kita tetap mencerminkan citra Allah.

Kita harus mengenali diri kita sendiri.

Dalam  suratnya  Kepada Jemaat di Efesus,  Rasul Paulus menasihatkan supaya setiap orang terus menghayati keberadaan dirinya sendiri bukannya bersusah payah untuk menjadi sama seperti orang lain. Yang utama dari hal ini adalah mengenal dirinya sendiri sebagai buatan Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Mengenali diri sendiri juga berarti bahwa setiap orang percaya harus menyadari kemampuan dan peranannya masing-masing.

Kristus adalah kepala bagi jemaat sedangkan jemaat adalah tubuh yang memiliki berbagai anggota. Allah berkehendak supaya anggota-anggota tubuh itu berfungsi dan bergerak sebagaimana seharusnya mereka berperan di bawah kendali kepala. Kalau para anggota tubuh misalnya tangan ingin menjadi seperti kaki dan sebaliknya, pasti ada sesuatu yang salah dan akan mengakibatkan kesalahan pula. Yang harus kita contoh dari orang lain adalah keteladanan dan sifat baik mereka, tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus menempatkan diri kita pada tempat dan keadaan mereka.

Pandangan Kita atas diri kita haruslah menurut ukuran Allah.

Pandangan kita atas diri sendiri akan sangat mempengaruhi semua bidang kehidupan kita. Kalau pandangan kita atas diri kita sendiri berdasarkan firman Tuhan, maka kita akan menyadari bahwa kehidupan kita akan berharga bagiNya. Prinsip yang menjadi standard dunia berkata bahwa nilai seseorang ditentukan oleh kekayaan, jabatan atau pekerjaan orang itu Kalau jabatan atau pekerjaan berubah, nilai manusia juga  akan berubah.  Karena itu, kalau kita mengikuti filsafat dunia ini, nilai kita  akan berubah setiap kali keadaan kita berubah. Dengan demikian pandangan  kita atas diri sendiri sangat tidak stabil.

Allah mengasihi kita sebagaimana kita adanya, entah kita kaya atau miskin, pintar atau tidak, kuat atau lemah. Nilai kita  dihadapan-Nya tidak ditentukan oleh perubahan yang terjadi dalam diri  kita, atau di sekitar kita. Oleh karena itu setiap orang percaya harus menerima diri kita sebagaimana  adanya sama seperti Allah yang selalu menghargai keberadaan kita.

Kita harus Menerima Diri Sendiri.

Setiap orang diciptakan Allah secara unik dan masing-masing mempunyai kelebihan, keterbatasan  dan kekurangan masing-masing.  Tidak ada seorang pun yang sempurna selain Yesus! Sering kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Bila kita berbuat demikian, maka ada dua kemungkinan yang terjadi:  kita akan merasa lebih baik daripada orang lain sehingga kita menjadi sombong, jauh dari rendah hati. Kemungkinan yang kedua adalah bahwa kita akan merasa lebih rendah daripada orang lain sehingga kita kehilangan rasa harga diri. Mustahil seseorang bisa sombong dan rendah hati pada saat yang sama.  Ujung atau kaitan langsung dari meninggikan diri sendiri adalah merendahkan orang lain. Rasa puas dan bermegah dalam Kristus atas apa yang kita miliki atau atas apa yang kita capai menimbulkan dorongan untuk semakin maju. Sebaliknya, kesombongan dan rendah diri menjadikan kita makin mundur atau bahkan memundurkan sesama kita. (Soerjan-BM Edisi 255 Jan-Maret 2003)

Memberi & Menerima Pengaruh yg Semestinya



  • Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. (Yoh. 21:3).
Adalah keharusan bagi setiap orang, siapapun dia, untuk berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan sesamanya. Dalam interaksi tersebut terjadilah situasi saling mempengaruhi. Simon Petrus berkata: "Aku pergi menangkap ikan." Mereka menjawab: "Kami pergi juga dengan engkau." Para murid ini berada dalam situasi yang sama, senasib sepenanggungan. Paska kematian Yesus, hidup mereka dicekam ketakutan luar biasa. Mereka masih trauma dengan kekejaman orang Yahudi dan tentara Romawi. Para murid juga tahu bahwa ketika menginterogasi Yesus, Imam Besar bertanya kepada Yesus tentang ajaran-Nya dan murid-murid-Nya.

Orang-orang awam sipilpun mencurigai Petrus. Keluarga dari Maltus yang dipotong telinganya oleh petrus juga mencurigai Petrus. Itulah suasana ketakutan luar biasa. Itulah suasana dan situasi dimana Yesus tidak ada di tengah-tengah mereka. Demikian juga, mereka tereliminasi secara sosial. Mereka dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Mereka takut kepada orang banyak.
Sepeninggalan Yesus, para murid itu kalang-kabut bagaikan anak ayam kehilangan induk. Tidak ada lagi panutan, tidak ada lagi figur yang bisa mereka jadikan tempat memperoleh kekuatan.
Lebih celaka lagi, tanpa hadirat Kristus mereka dibutakan secara rohani. Karena kebutaan rohani, Simon Petrus berinisiatif untuk menangkap ikan. Demikian pula, para koleganya terpengaruh dengan apa yang akan dilakukan Simon Petrus, menjala ikan. Sebelumnya, begitu turun gunung, Yesus menjumpai murid-murid pertama dan menetapkan mereka menjadi pejala manusia, beralih dari profesi menjala ikan.

Seolah-olah mereka melupakan hal itu. Rancangan Yesus adalah bahwa mereka harus beralih profesi dari menjala ikan menjadi menjala manusia. Kalaupun mereka kembali kepada profesi yang lama, itu pasti ada hal-hal yang tidak semestinya. Hal itu pasti disebabkan tidak adanya keterlibatan Yesus di tengah-tengah mereka. Memang ayat ini tidak boleh diartikan bahwa semua penjala ikan itu tidak baik atau sebaliknya penjala manusia itu mesti baik. Yang perlu ditekankan di sini adalah pesan yang mengatakan bahwa setiap orang harus ingat dan sadar akan panggilan Allah, yakni melayani.
Demikianlah yang akan terjadi jika kita tidak mengundang Yesus ke dalam persekutuan kita. Tanpa adanya Yesus di tengah-tengah persekutuan kita maka ada kemungkinan kita memberi pengaruh yang tidak semestinya kepada orang lain atau sebaliknya menerima pengaruh yang tak semestinya dari orang lain.

–Soerjan - Berita Mimbar