PERISTIWA KELAHIRAN YESUS KRISTUS, BUKTI KETEPATAN PENETAPAN WAKTU

Spiros Zodhiates


Pijakan firman : Galatia (4:4). “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang
lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada Hukum Taurat”

Natal bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sebagai peristiwa sebab-akibat dalam sejarah dunia. Natal merupakan peristiwa yang telah diprogramkan oleh Allah sendiri. Meskipun Allah tidak mempunyai komputer sebagaimana yang kita kenal sekarang, namun Ia adalah pribadi yang berintelegensi, dan Ia adalah satu-satunya yang telah memberikan kepada manusia kecerdasan untuk merekayasa komputer. Kalau ia memungkinkan kita mempunyai kemampuan seperti itu, Ia tentu saja memilikinya untuk diri-Nya sendiri. Ia adalah Guru Besarnya para guru besar pemogram.
Mengapa Allah Bapa tidak mengutus AnakNya ke dalam dunia lebih dini, sebelum olehNya atau apakah Dia pada waktu tertentu secara tak terduga 

1. Apa arti “genap waktunya”

Apa maksud Paulus dengan ungkapan “genap waktunya”? Kata genap dalam bahasa Yunani adalah pleroma yang berasal dari pleroo, membuat genap, membuat penuh, dan kata sifat pleres yang artinya penuh, berisi, sempurna. Kata itu bisa mempunyai makna aktif sebagaimana dalam Matius 9:16 dan Markus 2;21. Kata itu dapat bermakna sesuatu yang ditempatkan untuk menutupi suatu kesenjangan, atau sebuah lobang pada pakaian. Dalam pengertian pasif, sebagaimana dalam 1 Korintus 10:26, “bumi serta segala isinya” (kata “segala” diterjemahkan dari pleroma = kepenuhan. 

Apa bedanya kalau saat masuknya Yesus Kristus ke dalam dunia ini berbeda? Dalam hal itu, nubuatan Daniel ihwal waktu masuknya Tuhan Yesus sebagai Mesias Raja ke dalam Yerusalem sebelum kematianNya akan tidak tepat dan ini membuat Firman Allah akan didiskreditkan.

Ini yang Daniel 9:25, 26 katakan; “Maka ketahuilah dan pahamilah; dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanan lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan (kembalinya orang-orang Israel dari pembuangan). Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi (kematian Kristus), padahal tidak ada salahnya apa-apa...”
Itulah pemenuhan nubuatan yang mestinya membuat setiap orang yang tidak percaya berdiri dan menaruh perhatian. Kelahiran Kristus menunggu penggenapan waktu, tepat pada saat yang telah ditentukan. Itu sudah dirancang oleh Allah sendiri. Dan Allah tidak berbuat kesalahan. 

Kata “waktu” adalah chronos yang merujuk pada durasi (lamanya), waktu yang abstrak, yang dirasakan dan diukur dengan turutan/rangkaian obyek dan peristiwa. 

4. Kegenapan waktu

Dalam Efesus 1:10 Paulus mempergunakan ungkapan “kegenapan waktu”, tapi kata yang dipergunakan untuk “waktu” bukan chronon, bentuk jamaknya chronos, waktu, sebagaimana digunakan dalam Galatia 4:4, tetapi kairon, bentuk jamaknya kairos, musim, kesempatan,”.... sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” (Efesus 1:10).

Galatia 4:4 menyatakan bahwa pada waktu yang tepat, cocok, bukan pada waktu sembarangan, “Allah mengtus AnakNya.” Kata Allah didahului kata sandang tertentu yang mengindikasikan kata itu mewakili Allah Bapa. Yesus ketap kali menegaskan bahwa Bapa (Matius 10:40; Markus 9:37; Lukas 10:16; Yohanes 3:17; 34, 5:36, 38; 6:29, 57; 7:29; 8:24; 10:36; 11:42; 17:3, 8:18:1, 21, 23, 25;20:21). 

Ini tidak berarti bahwa sang Anak adalah utusan yang lebih rendah dari pengutus. Yesus Kristus mengkalim diriNya setara dengan Bapa. “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30).
Tapi, Yesus yang sama juga mengakui bahwa di dalam keberadaaNya sebagai Anak manusia untuk merampungkan tugas yang telah dirampungkan kepadaNya, Dia lebih rendah dari Sang Bapa. Bapa lebih besar dari diriNya. KarenaNya Ia mengakui Bapa sebagai yang mengutus Dia (Yohanes 14:28).

Tetapi kata kerja dalam Galatia 4:4 bukan apestelein, bentuk aorist dari apostello, melainkan exapesteilen ex atau ek, yang artinya keluar dari. Hal ini menunjukkan kemesraan, kedekatan yang luar biasa antara Dia yang mengutus dan Dia yang diutus. Dia yang telah diutus, keluar dari pangkuan Dia yang mengutus, Bapa (Yohanes 1:18). Dia yang senantiasa berada dipangkuan sang Bapa telah diutus keluar dari pangkuan sang Bapa telah keluar dari pangkuan sang Bapa untuk merampungkan pekerjaan penebusan.
Kata kerja exapostello yang sama dipergunakan juga dalam Galatia 4:6 keluar dari diriNya sendiri “Roh AnakNya” untuk masuk ke dalam hati kita dan memampukan kita berseru, “ya Abba, ya Bapa.

5. Selaku Allah Anak, Kristus datang ke dalam dunia

Kristus di dalam inkarnasiNya tidak hanya mengklaim bahwa Ia telah diutus, tetapi juga bahwa Ia telah datang secara sukarela ke dalam dunia, yang tidak pernah dapat dikatakan kepada siapa pun juga yang pernah lahir didunia ini. 

Mengapa tidak anda buat Natal ini sebagai peristiwa terbesar dalam kehidupan anda? Akuilah dan bertobatlah dari dosa dan terimalah kedatangan Kristus ke dalam dunia ini sebagai satu-satunya pengharapan anda untuk memperoleh keselamatan.

Pendahuluan memutuskan untuk mengutus AnakNya ke dunia? Mengapa Allah Bapa tidak mengutus AnakNya ke dalam dunia lebih dini, sebelum waktu sebenarnya Ia datang? Apakah waktunya telah ditetapkan sebelumnya olehNya atau apakah Dia pada waktu tertentu secara takterduga memutuskan untuk mengutus AnakNya ke dunia? 
Di dalam Galatia 4:4"genap waktunya” berarti saat yang cocok dan tepat bagi kedatangan Kristus ke dunia. Allah telah menyiapkan dasar pengutusan AnakNya ke dalam dunia. Ia tidak mengutusNya pada tahun atau hari yang terlalu dini atau terlalu lambat dari saat semestinya Ia harus diutus.
2. Waktu dari kelahiran Kristus memperkuat kredibilitas Alkitab
3. Nubuatan Daniel

Bagaimana hal ini diperhitungkan secara kronologis? Saat Artaxerxes Longimanus mengeluarkan dekritnya untuk membangun kembali tembok Yerusalem adalah hari keempatbelas bulan Maret (Nisan) tahun 445 sebelum Masehi (Nehemia 2:1). Untuk membangun kembali tembok Yerusalem dibutuhkan waktu 49 tahun. Ini berarti tembok itu selesai dibangun pada 396 sebelum Masehi. Kalau kita menambahkan 38 tahun kepada 396 kita mendapat 434 tahun yang mengarahkan kita pada tahun penyaliban Kristus. Ini berarti Kristus berusia 38 tahun. Padahal kita tahu bahwa Ia hidup hanya sampai 33 tahun. Perbedaan kelebihan 5 tahun ini terjadi karena perbedaan 5 hari per tahun antara kalender barat yang didasarkan atas tahun matahari, sementara kalender Yahudi yang didasarkan atas tahun bulan yang hanya mempunyai 360 hari. Karena itu, angka 38 ini mesti dikurangi 5, dan kita mendapat 33 (tahun 33 M). Hari keempatbelas bulan Nisan (Maret) tahun 33 M, adalah hari dimana Kristus memasuki Yerusalem sebagai Raja, empat hari sebelum Ia mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita. 

Dari kata ini didapatkan kata “chronometer” (Ing), arloji untuk mengukur waktu tanpa rujukan apapun kepada penggunaan keadaan waktu. Chronos kontras dengan kata Yunani lain, kairos, yang merujuk pada musim atau waktu menurut adanya peristiwa tertentu, kesempatan.

“Genap waktunya” dalam Galatia 4:4 adalah penyelesaian kronologi. Rencana Allah mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal yang telah ditetapkan, dan bahwa setelah 483 tahun (69x7 masa) dari sejak dikeluarkannya dekrit untuk membangun kembali tembok Yerusalem, Yesus akan memasuki Yerusalem sebagai Messiah Raja. Hal ini menunjukkan bahwa, kelak pada suatu waktu, pada akhir dari masa ketujuh puluh, Ia akan memasuki Yerusalem Baru dimana Ia menjadi Rajanya untuk selama-lamanya. (Daniel 9:26; Wahyu 11:2,3;12;14; 13:5-7; 19:11-21; serta Wahyu dalam masa (dispensasi) gereja, yaitu kronologi tak berkuantum (Efesus 3:2-7; Kolose 1:24-29). Masa ketujuh puluh, suatu periode tujuh tahun, akan di mulai kalau, orang-orang percaya yang telah dibangkitkan dan diubah, terangkat ke awan-awan oleh kedatangan Yesus ( 1 Tesalonika 4:15-17).

Disini maknanya adalah penggenapan kesempatan-kesempatan . Ini artinya bahwa Allah akan menuntut perhitungan managemen ihwal bagaimana kita mengisi kesempatan yang telah dipercayakan kepada kita, menghitung keseluruhannya dengan apa arti semuanya itu bagi Kristus di sorga maupun di bumi. Pada waktu yang telah ditunjuk, sang Bapa mengutus AnakNya masuk ke dalam dunia langsung dari pangkuanNya.

Dalam semua rujukan ikwal pengakuan Yesus Kristus bahwa Sang Bapa telah mengutus Dia ke dalam dunia kata kerja yang dipergunakan adalah aposetello, diutus keluar dari. Dan kata kerja inilah kata benda apostolos (rasul) berasal. Rasul adalah seorang utusan, seseorang yang mewakili orang yang mengutus Dia dan tidak pernah kehilangan hubungan dengan orang yang mengutusnya. Itulah sebabnya Yesus secara konsisten mengatakan, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri; sebab apa yang dikerjakan Bapa tidak juga yang dikerjakan Anak.” (Yohanes 5:19, 36; 10:15). “… supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” (Yohanes 10:38; 14:11,20).

“Biarpun Aku bersaksi tentang diriKu itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan kemana Aku pergi.” (Yohanes 8:14). Ia membicarakan kematianNya sebagai saat kemuliaanNya ke dalam mana Ia sendiri datang (Yohanes 12:23, 27). Meskipun Yesus diutus oleh Bapa, namun Dia sudah berada bersama-sama Bapa sejak dari semula, dan bahwa Ia dengan sukarela datang kedunia untuk menyingkapkan Bapa. “Dialah yang menyatakanNya,” (Yohanes 1:18). Kata kerja yang diterjemahkan “menyatakan” ialah exegesato dari mana kata exegesis berasal, yang artinya bahwa Ia datang untuk membuat Allah dapat kenal, dapat dimengerti. Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini untuk dua maksud, pertama, untuk menceritakan kepada kita bahwa Allah bukan sekedar pribadi yang harus ditakuti, tetapi juga harus diterima sebagai Bapa yang mengasihi yang tidak menyesal mengirimkan AnakNya sendiri keluar dari pangkuanNya. Dan kedua, bahwa Dia sendiri (Yesus) tidak menyesal datang ke dalam dunia untuk mati menebus orang-orang berdosa seperti saya dan anda. “...Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan diantara mereka akulah yang paling berdosa,” tulis Paulus dalam 1 Timotius 1:15. Kalau anda tidak dapat mengatakan demikian terhadap kedatangan Kristus ke dalam dunia ini, Natal sama sekali tidak bermanfaat, meskipun anda merayakannya sebagai peristiwa sejarah besar dan mengakuinya setiap kali anda menulis sebelum Masehi atau sesudah Mase

PEMBERITAAN YANG BERPUSAT KEPADA KEBANGKITAN KRISTUS

Spiros Zodhiates


“.... maka sia-sialah pemberitaan kami .....” ( 1 Korintus, 15: 14b).
Seorang petani suatu kali membarter sekeranjang kacang dengan beberapa buku yang ia inginkan. Setelah petani itu berlalu, sipemilik toko membuka selongsong satu buah kacang, dan didapatinya selongsong itu kosong. Dia buka satu lagi, satu lagi, satu lagi dan satu lagi - - akhirnya ia dapatkan semua selongsong itu tidak berisi. Apa gunanya selongsong kacang yang melompong, tidak ada biji atau intinya? Dengan demikian pula jadinya khotbah-khotbah apostolik kalau tidak ada kebangkitan, “Andaikata Kristus tidak dinamgkitkan,  maka sia-sialah pemberitaan kami ..”  tulis Paulus.
Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “sia-sia” dalam ayat 14 adalah kenon (nominatif [bentuk kata benda yang berfungsi sebagai subjek ] netral tunggal dari kenos] dan kenee (nominatif feminin tunggal). Ayat 17 mengulang kembali bagian kedua dari ayat 14, dengan kekecualian bahwa kata Yunaninya bukan kenee tetapi mataia. Pengulangan itu mempunyai maksud tertentu. Kenos (ee) artinya “kosong, hampa, ketiadaan kenyataan,” Mataios (a) artinya, “tiada hasil, tak berbuah, gagal.” Kata yang kedua ini juga adalah kata yang sama dengan yang digunakan dalam Titus 3:9, “Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percecokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia(mataioi) belaka,”
“ Maka sia-sialah pemberitaan kami,” Kata pemberitaan disini adalah keerugma, yang penyampaian khotbah tetapi isinya. Pemberitaan atau khotbah kita akan hampa kalau Kristus tidak bangkit. Kalau kasusnya demikian, mengapa susah-susah berkhotbah,atau memberitakan injil? Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan “pemberitaanku” tetapi”pemberitaan kami”, yang sekali lagi menekankan kebulatan suara para rasul yang telah ia nyakandalam ayat 11: “Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kamu menjadi percaya,”  Ia mau orang-orang Korintus menyadari bahwa ini bukan sekedar simpulan semua rasul yang lebih tua, yang telah melihat Yesus dibumi, dan lebih istimewa setelah kebangkitanNya. Kalau Kristus tidak bangkit dari kubur, maka pemberitaannya dan pemberitaan rasul-rasul lain akan laksana orang selongsong kacang yang hampa, – pemberitaan mereka hanya sekedar kata-kata dan frase melompong tanpa substansi atau jiwa. Dalam kenyataannya, meskipun orang-orang Korintus yang menolak kebangkitan umum itu tidak bermaksud melempar cercaan apapun terhadap pengajaran para rasul, tapi lebih kurang membawanya pada sama sekali kehilangan kepercayaan. Mereka tidak menyadari bahwa dengan implikasi itu mereka memproklamirkan kepada dunia bahwa pengajaran para rasul hanya merupakan suatu mimpi kosong.
 Merupakan kewajiban Paulus untuk tidak mencurangi mereka, sebagaimana semua pelayanan Injil yang setia tidak mencurangi siapapun yang membantah bahwa tidak ada kebangkitan. Karena sangkalan mereka secara logis termasuk kebangkitan Kristus, maka akan fatal bagi keyakinan para rasul untuk menjadi guru-guru penyataan Allah yang serius. Karena kalau ada satu kebenaran yang dengannya para rasul mempertaruhkan kebanggaan mereka sebagai pesuruh-pesuruh Allah, kebenaran itu adalah bahwa Kristus telah bangkit dari kematian. Kebangkitannya merupakan instrumen yang dengannya mereka dapat berhasil membuka jalan bagi perhartian umat. KebangkitanNya merupakan bukti terhadap kebenaran yang mereka bicarakan; yang sesungguhnya merupakan bagian yang paling penting dari apa yang selama ini mereka beritakan.
 Dua bulan berlalu sejak kebangkitan Kristus sebelum para rasul mulai memberitakannya, dengan kepercayaan manusia yang mengetahui bahwa mereka tidak akan dengan berhasil disangkal, dan bahwa pernyataan mereka dapat disidik kebenarannya. Seseorang dapat menjadi rasul hanya kalau ia telah melihat Kristus yang bangkit hingga menunjang kesaksian pribadi mereka dalam mengkhotbah fakta bahwa Kristus telah bangkit dari kematian. Dan tatkala Matias dipilih untuk menempati posisi lowong yang ditinggalkan Yudas, Petrus mendefinisikan pekerjaan rasul : “..menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitanNya” (KPR 1:22).
Kita dapati bahwa khotbah pemberitaan Paulus dan Petrus mencerminkan hal ini. Pokok dari keseluruhan khotbah pertama yang pernah disampaikan Petrus dalam Gereja Kristus, tatkala ia dikelilingi oleh sebelas rasul lain pada hari Pentakosta, adalah kebangkitan, yang harus disaksikan olehnya dan oleh semua rasul disaksikan olehnya dan oleh semua rasul, sebenarnya telah dinubuatkan oleh Daud dalam Mazmur 16 (KPR 2:22-36).
Lagi pula, bagaimana Petrus dapat menjelaskan mujizat penyembuhan menjelaskan mujizat penyembuhan seorang lelaki pincang di Gerbang Indah Bait  Allah, kepada dua alamat yang ia khotbahi, pertama kepada kerumunan penonton, dan berikut ketika ia ditangkap dan dibawa kehadapan Sanhedrin? Dalam kedua kesempatan ia menunjuk mujizat itu sebagai wujud penyataan kuasa Yesus Kristus; yang hidup karena bangkit dari kematian, yang bangkit kembali kendati dibunuh di kayu salib (KPR 3:12-16; 4:8-12).

Kebangkitan Yesus merupakan petunjuk bagi misteri yang begitu membingungkan orang-orang Yahudi dan tua-tua mereka, bahwa orang-orang miskin yang tidak terpelajar dapat mengerjakan mujizat-mujizat seperti itu dan memenangkan pengaruh sedemikan luas. Lagi, ketika terjadi sejumlah besar orang bertobat, dan para rasul ditangkap untuk kedua kalinya dan dituduh telah memenuhi Yerusalem dengan doktrin mereka, apa pembelaan Petrus? Ia mengatakan bahwa para rasul tidak dapat menahannya; kebangkitan itu adalah suatu kenyataan yang didesakkan terhadap mereka. “Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ’Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh” (KPR 5:29-30). 

MENJADI AGEN RAHASIA ALLAH

Spiros Zodhiates


“Demikianlah hendaknya orang memandang kami, sebagai hamba-hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia  Allah  “ (I Korintus 4:1)

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun yang dapat berdalih bahwa ia tidak mengenal Allah, karena Ia dengan jelas dapat dikenali dalam ciptaan-Nya [Roma 1:20]. Dan dengan cara yang sama pembaharuan jiwa dapat dikenali oleh orang lain melalui melihat akibat-akibat dalam kehidupan seseorang itu. Apa itu Allah ? Tidak seorang pun yang dapat secara memadai mendefinisikan sifat-sifat-Nya. Apa itu pembaharuan ? Tidak seorangpun dapat mendifinisikan dalam sifat-sifatnya kecuali dengan akibat akhir dalam kehidupan seseorang.

Seorang guru misionari menceritakan ihwal seorang perempuan Jepang yang bertanya kepadanya bagaimana sekiranya gadis-gadis yang cantik yang diterima oleh sekolahnya. “Mengapa tidak?” timpalnya, “Kami menerima semua gadis yang datang kepada kami.” “Tetapi” lanjut perempuan itu,”seluruh gadis anda nampak sangat cantik” “ Itu karena kami mengajarkan kepada mereka nilai jiwa mereka dalam pandangan Allah,” guru itu menjelaskan ,” dan ini yang membuat wajah mereka begitu cantik” “Baiklah” kata perempuan Jepang itu,” Saya tidak mau anak perempuan saya menjadi seorang Kristen, tetapi saya ingin mengirim anak perempuan saya itu ke sekolah anda supaya hal yang sama juga nampak pada wajahnya.

Kita tahu bahwa seseorang yang telah lahir kembali, bukan karena kita dapat menemukan kebenaran atau kenyataan pembaharuan itu pada suatu tempat pada tubuh mereka, tetapi karena kita dapat melihat buah-buah Roh yang membaharui mereka. Kita menanam benih di dalam tanah dan pada waktunya kita melihat pohon. Kita tidak dapat benar-benar menjelaskan proses itu, tetapi kita dapat melihat hasilnya. Hal itu merupakan suatu misteri namun suatu kebenaran, kenyataan.

Kebangkitan dari kematian merupakan fakta lain atau pernyataan lain yang nampak bertentangan dengan pengalaman kita, atau tidak kesesuaian. Apapun misteri yang dicentelkan kepada pokok ini –dan tidak dapat disangkal ada banyak—timbul dari keberadaannya diluar kemampuan kita dan pengamatan kita. Kita tidak mengetahui secara pasti makna apa kebenaran ini termasuk atau tercakup. Jelas tidak ada kemungkinan di dalamnya. Kuasa yang sama yang telah membentuk tubuh kita dapat dengan nyata merekonstruksinya. Keprigelan yang sama yang telah memelihara jati diri mereka melalui kehidupan dapat menanamkannya kepada tubuh kemuliaan pada kebangkitan. Itu merupakan kerja yang jauh melampaui kuasa manusia, mengatasi akal budi manusia. Itu merupakan bidang operasi Allah ke dalam mana kita tidak dapat masuk, dan jalan itu akan disempurnakan di antara rahasia-rahasia Allah sendiri.

Hanya andaikata tanam-tanaman tidak kita tahu, dan kita mengatakan keberadaannya di planet lain, kita akan mendapati hal itu sangat sulit untuk dipahami. Tanam-tanaman itu muncul, bertumbuh, menguncup, berbunga, dan memberikan buah; bahwa buah ini, jatuh ke bumi, dan menjadi rusak dan mati dan pasti hidup kembali, melestarikan keberadaannya, merupakan fakta yang akrab dengan semua kita. Tetapi itu tidak lebih kurang menakjubkan dan mengherankan. Hal itu merupakan misteri yang besar dalam proses dengan mana perubahan bentuk ini disempurnakan. Itu merupakan misteri besar sebagaimana yang terjadi dengan kebangkitan tubuh manusia.

Kesulitan dalam kasus tanaman tidak akan cukup untuk menyebabkan saya untuk menyangsikannya dalam hal bukti pengertian saya, bagaimanapun. Tak ada misteri yang menyangkut kebangkitan tubuh tidak akan cukup untuk menyebabkan saya menyebut Allah sebagai pendusta, atau untuk mencoba menaruh batas antara apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin. Saya tahu bahwa sama-sama mudah bagi Allah untuk menciptakan dunia sebagaimana Ia menciptakan serangga yang paling kecil yang mengapung di udara.

Kita tidak seharusnya memperkecil unsur-unsur misteri yang mengiringi pewahyuan, karena misteri itu benar-benar cenderung untuk menambah kemujaraban Injil. Sasaran Injil adalah mendamaikan manusia kepada Allah—tentu saja tidak dalam hubungan yang sama, tetapi sebagai pelaku pemberontakan diperdamaikan kepada pemerintahnya yang sangat ramah, pendosa yang bersalah kepada Pembuatnya. Injil menyempurnakan hal ini dengan mewahyukan sifat-sifat Allah, dengan membuatnya dapat dikenali . Itulah sebabnya Injil disebut sebagai kuasa dan hikmat Allah, karena ia secara gamblang memperlihatkan sifat-sifat tabiat-Nya. Injil memperkenalkan Allah sebagai satu-satunya sasaran ibadat yang benar. Injil memperbaharui manusia pada posisi itu dalam mana dapat memanjatkan ibadat dan ketaatan yang dapat diterima.

Fakta dalam mana doktrin ini diletakan harus benar nyata dan tak dapat disangkal. Tetapi alasan doktrin ini, dan jauhnya serta hubungan selanjutnya, barangkali disembunyikan dari pandangan kita. Allah adalah sembahan semesta yang layak, dan ini artinya bahwa pikiran kita harus menghormati Dia dengan perasaan kagum dan tak lazim. Tetapi pernyataan pikiran ini tidak pernah dapat diproduksi oleh segala sesuatu yang sepenuhnya dapat kita pahami. Kebiasaan membiakkan rasa jijik, dan kebiasaan yang berlebihan dengan hal-hal yang kudus kadang-kadang dapat memproduksi kekurangan penghargaan terhadap mereka. Semua pengejaran terhadap pengetahun merupakan suatu jenis penaklukkan . Tidak segera melakukan kita merasa diri kita sendiri tuan dari segala hal ketimbang berhenti memegang sebanyak minat bagi kita. Memproduksi perasaan kagum dan takzim merupakan hal yang esensial untuk ibadah, kita harus mempunyai kesadaran akan kerendahan hati kita sendiri, dan suatu keyakinan yang dalam bahwa ada sesuatu yang agung dan mulia dalam sasaran ibadat secara tak terbatas di atas konsepsi kita.

Makin dengan jelas kita menyadari batas-batas pengetahuan kita dalam setiap arahan semakin dalam kesan kita akan kebesaran Allah, dan makin dengan semakin dalam kita akan menghargai keluasan Keberadaan yang telah menyebarluaskan pekerjaan-Nya di sekitar kita dalam kelimpahan yang tak ada habis-habisnya. Kita juga akan menerima kenyataan bahwa Dia telah mengelilingi kita dengan rintangan –rintangan yang setiap pekerjaan-Nya dan setiap pemisahan pengejawantahan diri-Nya Sendiri, termasuk masalah-masalah yang tidak dapat kita lihat. Oleh karena itu, Wahyu menyesuaikan dirinya sendiri kepada posisi kita. Ia merupakan setelan bagi keadaan mental kita, dan bercampur dengan apa yang jelas dan dengan apa yang tidak jelas karena tidak meliputi pikiran kita yang terbatas, tetapi menuntun kita dalam jalan pengetahuan dan jalan kehidupan. 

(Majalah Berita Mimbar)

Persepakatan atau Persekongkolan?

Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.( Mat. 28:11-15) 

Adanya kumpulan orang memungkinkan terjadinya dua bentuk hubungan yakni konflik atau kesepakatan. Lebih jauh lagi, dua kemungkinan dalam kesepakatan yakni adalah kesepakatan untuk tujuan yang baik dan sebaliknya untuk tujuan jahat, persekongkolan, konspirasi, atau plot. 

Biasanya, motif yang melandasi persekongkolan adalah ambisi untuk menjatuhkan atau merugikan pihak lain sekaligus menguntungkan diri sendiri. Demi sekedar menyelamatkan muka, demi mempertahankan pamor, maka tidak tanggung-tanggung para imam kepala dan tua-tua serta sedadu membuat persekongkolan yang berdampak amat dahsyat yakni mencemarkan keilahian Kristus sekaligus menyesatkan banyak orang hingga masa kini (tidak hanya di saat ditulisnya Injil Matius ini). Tidak mengherankan jika banyak orang di masa kini menyangsikan kebangkitan Kristus dari maut, karena para saksi itu justru membuat kesaksian dusta. 

Sungguh tragis, sebelum disalib Yesuspun telah menjadi korban persekongkolan yang melibatkan Yudas Iskariot, murid yang seharusnya mendukung Gurunya. Setelah Yesus disalib, persekongkolan masih berlanjut, dilakukan oleh pemimpin agama yang seharusnya memberi teladan yang baik. Persekongkolan juga melibatkan serdadu yang dilatih dan terlatih untuk membela kebenaran, bukan untuk menerima uang suap. Dengan demikian, siapapun orangnya akan mudah sekali untuk terbuai oleh keuntungan dari persekongkolan. Persekongkolan ialah cara yang relatif praktis (dan curang) untuk pencapaian tujuan. 

Gagasan persekongkolan tercetus begitu saja tanpa memikirkan akibatnya. Dalam persekongkolan terjadi juga pemaksaan kehendak. Di ayat 13 Imam kepala berkata “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur“. Konspirator jarang memikirkan akibat dari persekongkolan yang mereka buat karena sejak awal mereka tidak menghormati moralitas. Yang menjadi fokus pelaku persekongkolan adalah bagaimana seefektif dan seefisien mungkin mencapai tujuan yang diharapkan, tanpa mempertimbangkan benar-tidaknya cara itu. Terbukti bahwa persekongkolan selalu memutarbalikkan fakta, mengaburkan kebenaran, serta mempraktikkan kebohongan. 

Setiap orang percaya yang juga adalah bagian dari kelompok masyarakat hendaknya waspada dan berhati-hati saat memasuki lapangan sosial yang menghubungkan diri-sendiri dengan orang-orang di sekitar. Tanpa kita sadari dan tanpa kita sengaja, baik secara langsung atau tidak, lingkungan kita sering mempengaruhi kita untuk masuk kedalam sistem persekongkolan yang merugikan pihak lain. Konspirasi, persekongkolan, kongkalikong cenderung sudah menjadi bentuk hubungan yang wajar dalam lingkungan sosial. 

Penting sekali bagi setiap orang percaya untuk sadar dan terjaga saat ia berada dalam kumpulan orang banyak. Jika ia berada dalam kumpulan orang percaya, maka hal itu tidak mengkhawatirkan, karena kumpulan orang percaya adalah kumpulan yang dilandasi oleh kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20). Sebaliknya, kumpulan plural adalah kumpulan yang memiliki lebih besar pengaruh bagi anggota di dalamnya. Sangat disayangkan jika orang percaya justru terpengaruh oleh faktor eksternal. Sudah seharusnya, faktor internal dalam diri orang percaya diberdayakan untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh eksternal yang berusaha menaklukkan faktor internal orang percaya. 

Soerjan – BM 256 




KISAH SEGELAS SUSU

Adalah anak lelaki miskin yang kelaparan dan tak punya uang. Dia nekad mengetuk pintu sebuah rumah untuk minta makanan. Namun keberaniannya lenyap saat pintu dibuka oleh seorang gadis muda. Dia urung minta makanan, dan hanya minta segelas air.Tapi sang gadis tahu, anak ini pasti lapar. Maka, ia membawakan segelas besar susu. “Berapa harga segelas susu ini?” tanya anak lelaki itu.“Ibu mengajarkan kepada saya, jangan minta bayaran atas perbuatan baik kami,” jawab si gadis.“Aku berterima kasih dari hati yang paling dalam… ” balas anak lelaki setelah menenggak habis susu tersebut.Belasan tahun berlalu…Gadis itu tumbuh menjadi wanita dewasa, tapi didiagnosa punya sakit kronis. Dokter di kota kecilnya angkat tangan. Gadis malang itu pun dibawa ke kota besar, di mana terdapat dokter spesialis.

Dokter Howard Kelly dipanggil untuk memeriksa. Saat mendengar nama kota asal wanita itu, terbersit pancaran aneh di mata sang dokter Bergegas ia turun dari kantornya menuju kamar wanita tersebut. Dia langsung mengenali wanita itu. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya wanita itu berhasil disembuhkan. Wanita itu pun menerima amplop tagihan Rumah Sakit. Wajahnya pucat ketakutan, karena dia tak akan mampu bayar, meski dicicil seumur hidup sekalipun. Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu, dan menemukan catatan di pojok atas tagihan…“Telah dibayar lunas dengan segelas susu …” Tertanda, dr. Howard Kelly.

(dr. Howard Kelly adalah anak kelaparan yang pernah ditolong wanita tersebut. Cerita disadur dr buku pengalaman dr. Howard dalam perjalanannya melalui Northern Pennsylvania, AS)
Begitulah …

KERENDAHHATIAN UNTUK MELAYANI, MASIH MENJADI UJIAN.

Tak seorangpun Dia ijinkan terlahir tanpa talenta.
Tak seorangpun Dia tumbuhkan tanpa kemampuan.
Namun tak semua talenta & kemampuan sepenuhnya terhimpun dalam wadah orang percaya. Tak semua orang percaya memiliki alasan jelas dalam menyia-nyiakannya. Berbahagialah mereka yang dalam kerendahhatian menyadari kepercayaan berharga yang sorga berikan.
“Allah bukannya Allah yang tidak adil. Ia tidak melupakan apa yang kalian kerjakan bagi-Nya, dan kasih yang kalian tunjukkan kepada-Nya sewaktu menolong saudara-saudara seiman, dahulu dan sekarang.” (Ibr 6:10, BIS). Selamat Melayani.

Dalam Penjagaan-Nya

Kita memahami bahwa jawaban-Nya atas doa kita adalah “ya”, “belum”, dan “tidak”. Yang paling tidak kita harapkan dan mematahkan semangat kita adalah yang terakhir. Namun ketika kita tetap memiliki pengenalan yang mendalam akan Dia dan berada dalam keadaan “Jiwaku melekat kepada-Mu” (Maz 63:9a), maka kita justru akan makin mempercayai kehendak-Nya yang jauh lebih baik dari yang kita doakan. Dalam penantian kita akan hal terbaik dariNya itu, kita akan tetap berada dalam penjagaan-Nya karena “tangan kanan-Mu menopang aku” (Maz 63:9b).

Tak Sebatas “Tuhan itu Ada”

Dicantumkannya agama dalam kartu identitas kita menunjukkan bahwa kita percaya Tuhan itu ada. Namun seringkali kepercayaan kita memang hanya sebatas Tuhan itu ada. Itulah mengapa Tuhan yang tak terbatas menjadi terbatasi untuk berkarya sebagai pusat kehidupan yang menghidupkan hidup kita. Oleh karena itu libatkan Dia untuk berkuasa atas segala situasi dan di setiap detik aktifitas yang kita jalani. Jangan biarkan kita merasa segalanya telah runyam. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Maz 62:2).

MENGAPA KITA PERLU MENGAKU DOSA PADA SESAMA?

By Spiros Zodhiates,  Th.D

Rasul Yakobus dengan jelas mengatakan,  “Hendaklah kamu saling mengaku dosamu.”  Setelah membaca ayat ini, kita segera sampai pada simpulan bahawa Yakobus tidak sedang membicarakan tentang pengkuan dosa-dosa kita, tetapi tentang kesalahan-kesalahan kita.  Ada dua macam dalam ayat ini,  yang pertama mempergunakan kata hamartias, yang biasanya di terjemahkan “dosa,” dan berikut adalah paraptoomata, yang artinya” keluar garis atau keluar jalur.”  Sama sekali tidak ada perbedaan mana yang  dapat kita pilih  di antara kedua kata ini di pakai sebagai yang pailing tepat, yang \pertama hamartias, artinya dosa dalam pengertian kehilangan tanda yang di berikan kepada kita oleh Allah; dan yang kedua paraptoomata artinya dosa dalam pengertian keluar dari tilas yang telah di tinggalkan oleh Tuhan  untuk kita tapak-tilasi.  Yang kedua menyiratkan yang pertama, karena kalau kita keluar dari jalan yang seharusnya kita lalui, kita tidak pernah sampai ketempat yang kita tuju.  Kalau dari Solo kita hendak ke Jakarta, kita tidak akan pernah tiba di Surabaya.  Kita harus mengambil jalan yang tepat untuk tiba di tempat tujuan yang kita tetapkan sebelumnya.  Karena itu, apapun arti dari kata itu, kata itu menunjuk pada menjadi atau berbuat sesuatu yang asing baik untuk jalan maupun tujuan.

Tak pelak lagi bahwa Yakobus di sini sedang membicarakan orang Kristen.  Ia harus saja mengakhiri cerita tentang seorang saudara yang sakit yang di kunjungi oleh para penatua gereja lokal yang mengurutnya dengan minyak dan mendoakan dia  supaya sembuh.  Yakobus mengatakan keppada kita bahawa  walaupun orang itu berdosa, Tuhan akan mengampuni dia.  Dari perkataan ini, sangat mungkin bahawa orang itu sakit karena dosa, kendatipun kasus ini tidak selalu terkenak pada setiap orang yang sakit.

Ada suatu hubungan yang nyata antara ayat sebelumnya dan ayat ini.  Hubungan ini terlihat dengan di gunakan kata oun, yang artinya, “karena itu.” Mengapa “karena itu”?  Ini merupakan prinsip umum bagi suatu kondisi khusus.  Maka, dalam ayat ini kita mengerti bahawa harus ada pengakuan dosa dalam dua ayat sebelumnya dalam kasus saudara yang sakit.  Ia harus mnengaku dosanya kepada para penatua gereja yang ia panggil untuk datang dan mengunjungi dia.  Dalam prinsip umum ini, Yakobus menyerukan kita  untuk melakukan apa yang di lakukan oleh saudara yang sakit dan berdosa itu.

Tetapi ia kuatir kalau-kalau penatua gereja lokal  itu merasa bahawa  mereka dapat menggolongkan diri mereka sebagai “bapa pengakuan,” Seperti yang di perbuat orang pada akhir-akhir ini.  Kita harus ingat di sini Yakobus tidak mengatakan, “karena itu, akuilah dosamu kepada para penatua.”  Melainkan, “hendaklah kamu saling mengakui dosamu.”  Ini sungguh menarik, Yakobus sedang berbicara kepada orang Kristen secara umum tatkala  ia berkata, “Hendaklah kamu saling mengakui dosa.”
Kalau benar bahawa umat awam, orang biasa yang berdosa, harus mengakui dosa-dosa mereka kepada para penatua gereja  mereka, maka sama benarnya pula para penatua itu harus mengakui dosa-dosa mereka.  Tidak harus kepada sesama penatua, tapi bisa kepada sesama saudaranya di dalam Kristus, saudara mereka secara rohani.  Setelah penyembuhannya, saudara yang sakit ini tidak dapat lagi menyimpan rahasia dosa di dalam dirinya yang membuat dia mengalami penyakit jasmani , sehingga ia menceritakannya kepada tamu-tamu Kristennya itu.  Bahkan seandainya tamu-tamunya itu bukan penatua yang mengemban tanggung jawab tertentu, kita yakin bahawa saudara yang sakit akan tetap mengakui dosa-dosanya kepada mereka.  Dan siapa yang tahu apakah para penatua ini, pada saat ketika saudara yang sudah di sembuhkan membuka hatinya dan mengakui dosanya kepada mereka,  berbalik mengakui dosa-dosa mereka juga kepadanya?

Kata alleelois yang di terjemahkan “saling” sangat menarik. Kata itu berasal dari kata Yunani allos,  “lain.”  Namun masih ada kata Yunani yang lain yang juga mempunyai arti yang sama, yaitu heteros.  Dari kata inilah asal kata “heterogen.”  Alos mengungkap suatu perbedaan menurut angka dan menunjuk pada sesuatu yang lain dari jenis yang sama,  sementara heteros mengungkapkan suatu perbedaan sifat dan menunjuk pada sesuatu yang lain dari jenis yang berbeda.   Ada sesuatu yang Roh Kudus hendak ajarkan kepada kita.  Kata allelois yang di gunakan Yakobus di sini menunjuk pada “orang lain dari kelompok atau golongan yang sama,”  dan berdasarkan sifat kata ini kita tiba pada simpulan bahawa Yakobus menganggap para penatua itu sekualitas dan sederajad  dengan sudara mereka yang mereka doakan itu.
Saudara itu tidak lebih rendah dari mereka, atau mereka lebih tinggi dari dia.  Ia mengakui dosa-dosanya kepada mereka, dan mereka dapat mengakui dosa-dosa mereka kepadanya.  Kenyataan bahawa mereka tidak sakit tidak berarti bahawa mereka bukan orang-orang berdosa, sebaliknya bahawa seseorang sakit tidak selalu karena ia orang berdosa.  Jadi arti mutlak dari ayat ini ialah sebagai orang kristen kita semua pada dasarnya sma, sejauh yang menyangkut kerentanan terhadap dosa, dan dalam mengakui dosa satu terhadap yang lain tanpa membedakan derajad, bahkan pun antara umat awam dan imam.  Seorang imam setelah mendengarkan pengakuan dosa  anggota jemaatnya yang menyesal harus mempunyai keberanian dan daya tahan moral untuk berbalik mengaku dosa-dosanya kepada anggota jemaatnya.  Itulah yang di ajarkan oleh rasul Yakobus.
Tetapi belum aman mendasarkan suatu doktrin pokok yang penting seperti ini pada satu ayat Alkitab saja.  Mari kita selidiki bagian-bagian lain dari Alkitab untuk melihat apakah pada zaman rasuli ada praktek tertentu dari apa yang di kenal sebagai pengakuan dosa.  Dapatkah kita menemukan di dalam Perjsanjian Baru ayat atau kisah yang menunjukan bahawa ada rasul yang menunggu di sebuah ruang kecil.  Menunggu orang yang akan mendatangi mereka dan mengakui dosa-dosa mereka?  Alkitab sama sekali sepi dari persolan ini.  Baik Petrus maupun Yohanes atau Paulus dan tulisan-tulisan mereka tidak pernah menceritakan bahawa da orang yang menghadap mereka untuk mengakui dosa-dosa merreka dan mereka di ampuni.  Apakah itu karena mereka yang bertobat dalam pelayanan mereka menjadi tanpa dosa?  Tidak. Karena mereka terus menyalahkan anak-anak rohani mereka karena keseiringan mereka berbuat dosa. Tidak, tidak ada pengakuan-pengakuan seperti ini di dalam Perjanjian Baru.

Pengakuan dosa pada masa rasul-rasul merupakan sesuatu yang insidental yang tidak di sokong oleh kewajiban dan peraturan rasuli, tetapi yang berasal dari paksaan sengaja dari jiwa pribadi yang membuat pengakuan itu.  Kalau orang tidak mengakui dosanya kepada Paulus, tidak berarti bahawa orang itu akan masuk kedalam nereka.  Pencuri yang di salibkan di sebelah Tuhan Yesus tidak mengakui dosa kepada rasul, karena tidak ada rasul pada waktu itu.  Tetapi ia menangis kepada Kristus, dan puji Tuhan, Kristus siap untuk setiap orang!  Maka kita dapati bahawa tidak ada satu contoh pun di mana ada murid-murid Kristus atau rasul-rasul tertentu  mengajak seseorang untuk datang dan mengakui dosanya kepada mereka.

Ingat perselisihan antara Petrus dengan seseorang yang bernama Simon, yang mencoba menawarkan uang kepadanya untuk mendapatkan karunia Roh Kudus? Petrus menyuruh dia bertobat, tetapi tidak memintanya mengakui dosa-dosanya kepadanya,  melainkan mengakui dosa-dosanya kepada Allah dan menerima pengampunan dari Dia.  “Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengamouni niat hatimu ini.” (Kis. 8:22).  Petrus, tidak seperti mereka yang mengklaim menjadi penerusnya menurut suksesi rasuli, tidak pernah menyuruh Simon mengakui dosa kepadanya, atau memberikan pengampunan dosa kepadanya.

Seluruh dunia kristen mengulangi ucapan doa Bapa kami, setiap kali kita mengulangi doa-doa itu, kita menyatakan bahawa pengakuan dosa itu di tujukan kepada Allah saja dan bahwa pengampunan juga hanya berasal dari Dia dan bukan dari orang biasa.  Kita ucapkan, “Bapa kami di sorga…..ampunilah kesalahan kami” (mat.6 :9,12).

Seorang pemungut cukai mencari belas kasihan, bukan dari manusia melainkan dari Allah, tatkala Ia berkata, “ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,” (Luk. 18:13).  Justru wajar dan logis bahawa pengakuan dosa harus di sampaikan kepada pribadai yang mampu mengampuni dosa; dan hanya Allah yang mmampu melakukannya, seperti yang di nyatakan oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama, pasal satu, ayat sembilan,”Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kta dan menyucikan kita dari segala kejahatan,”  sama sekali tidak masuk akal pergi ke seorang tukang daging untuk membeli buku theologia.  Sama tidak masuk akal pergi kepada seseorang yang tidak sanggup mengampuni dosa kita untuk meminta pengampunan dosa.  Kita benar-benar akan kecewa.  Marilah kita datang kepada Yesus Kristus, karena “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh. 2:2).


Tetapi apakah pengakuan dosa kita kepada sesama saudara berbeda dari pengakuan dosa kita kepada Allah?  Kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah saja, karena hanya Dia yang sanggup mengampuni kita, yang telah melunasi hutang hukuman terhadap dosa kita, mengapa kita di suruh Yakobus  untuk saling mengakui dosa-dosa kita satu terhadap yang lain?

Sekalipun Tak Ada Dasar untuk Berharap

Saat menghadapi kebuntuan, sering kita tergoda untuk memperkirakan cara yang akan Tuhan pakai untuk menolong kita. Seriusnya persoalan menjadikan kita memperhitungkan bahwa Tuhanpun tidak akan memiliki peluang untuk bertindak. Itulah kelemahan kita karena tidak memahami cara kerja Tuhan yang tak selalu bisa kita lihat. "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya" (Rom 4:18}.

Mengingatkan Dia Supaya Tetap Ingat Janjinya

“Ingatlah firman yang Kaukatakan kepada hamba-Mu, oleh karena Engkau telah membuat aku berharap.” (Maz 119:49), Begitu besar pengharapan pemazmur akan janji pertolongan Tuhan sehingga ia mengingatkan Dia supaya tetap ingat janjiNya. Pengharapan dan keyakinan yang sama besarnya tetap harus kita pelihara dan tujukan kepadaNya untuk mendatangkan pertolongan dariNya. Oleh sebab itu, milikilah iman yang sama dengan seorang perempuan yang memiliki iman dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Mat 9:21)  

Kemerdekaan Yang Utuh

Oleh: Pdt. Wahyu Wahono, A.K., M.Th.
 
Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” ( Yohanes 8: 38 )]
“ Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepadaNya, Maka kata-Nya kepada orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Jawab mereka, “ Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun . Bagaimanakan Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka:”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka”.
Berangkat dari judul atau tema di atas maka perlulah kiranya dimuculkan dua pertanyaan besar yaitu; “Apa dan Mengapa kemerdekaan yang utuh itu? Dan, bagaimana mendapatkan kemerdekaan yang utuh?”
Pengantar
Setiap tanggal 17 Agustus kita dapat mengenang kembali hari kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman, perbudakan dan penindasan kaum kolonial. Hari Proklamasi kemerdekaan itu telah menjadi tonggak sejarah yang amat penting bagi bangsa Indonesia. Sejak saat itu bangsa Indonesia telah bebas dari penjajahan kaum kolonial, walaupun selanjutnya berbagai tantangan harus dihadapi untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai. Tantangan yang datang ternyata bukan datang dari luar saja, tetapi juga dari dalam. Sehingga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI) juga ada dalam tantangan. Oleh karena itu kita sebagai anak bangsa dan seluruh elemen di NKRI ini harus merapatkan barisan dan melawan semua bentuk pemecahbelah, terorisme dan apapun yang mengancam NKRI.
Secara lahir kita telah bebas dari perbudakan penjajah yaitu bangsa lain diantaranya; Belanda, Jepang dan Portugis, namun secara batin kita masih mengahadapi persoalan dan terus­menerus berjuang untuk melawan berbagai-bagai tantangan hidup. Kita belum benar-benar mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang utuh yaitu ketentraman, kedamaian, kemakmuran dan keadilan lahir maupun batin ternyata masih jauh dari kita.

Kita berusaha lepas dari semuanya itu tapi kenyataannya kegagalan yang didapat sehingga membuat hati kita semakin sedih, gelisah, kecewa, frustasi, cemas, setres, dan berbagai kondisi hidup menimpanya. Negeri ini dimana kita sebagai anak bangsa menjerit "Aku ingin bebas, aku ingin kemerdekaan sejati, aku ingin lepas dari itu semua" terdengar disana-sini. Suatu kenyataan yang tidak dapa dipungkiri, bahwa jeritan hati setiap insan yang dibelenggu atau diperhamba oleh persoalan dan masalah hidup masih terdengar disana-sini. Kemerdekaan yang utuh masih jauh, belum tercapai, itulah kenyaataan .

Apa dan Mengapa kemerdekaan yang utuh itu?
Sejak Adam dan Hawa melawan perintah Tuhan, mereka jatuh ke dalam dosa. Sejak itulah dosa masuk ke dalam dunia, dan oleh dosa itu juga maut menjalah semua orang. "Sebab semua orang telah berbuat dosa" dan kuasa maut terus­menerus menindas manusia itu sendiri. Perbudakan, penindasan dosa itu meliputi seluruh manusia yang besar, kecil, tua, muda bahkan sejak dari kandunganpun manusia sudah terinfeksi dosa. Celakanya dosa itu meliputi seluruh unsur manusia yaitul tubuh, jiwa dan rohnya. Keberadaan yang demikianlah maka tidak ada alasan manusia untuk menyelamatkan dirinya dengan bentuk dan cara apapun. Manusia telah rusak moralnya dan semuanya itulah sebabnya dikatakan upahnya adalah maut yaitu api neraka. Sungguh mengerikan bukan?
Manusia berdosa adalah manusia yang ada dalam penjajahan kuasa gelapan. Hati, pikiran dan seluruh keberadaan manusia terjajah dan dibelenggu oleh Ibilis. Manusia tidak dapat melepaskan diri dari cengraman-nya. Manusia ada dalam kemauan dan kehendak setan. Seluruh kehendak dan kemauan manusia terprotek oleh Iblis. Manusia tidak dapat melepaskan dirinya. Seluruh keberadaan manusia ada dalam penjajahanya. Manusia dalam seluruh keberadaannya menjadi hamba Iblis dan hamba dosa. Itulah sebabnya manusia memerlukan pribadi yang dapat memberikan kemerdekaan yang utuh, yaitu yang meliputi; tubuh, jiwa dan rohnya.

Dalam konteks pengetahuan manusia memang banyak yang dianggap benar. Namun suatu kenyataan bahwa benar dalam konteks pengetahuan dunia dan manusia tidak dapat menjadi alat, obat dan pembasmi dosa. “Kebenaran” dalam koteks manusia tidak akan mampu dan dapat menghancurkan kekuasaan Iblis. Hanyalah “KEBENARAN” dalam Tuhan Yesus Kristuslah yang dapat menyelesaikan penyakit yang membahayakan yaitu dosa dan menghancurkan kuasa Iblis. Kebanaran dalam Tuhan Yesus tidak membutuhkan tambahan, sudah cukup untuk menyelesaikan dosa dan menyelematkan manusia dari api jahanam.

Bagian firman Tuhan di atas menunjukkan arti dan perlunya kemerdekaan yang sebenarnya yaitu kemerdekaan yang utuh dalam kehidupan setiap manusia. Karena dikatakan bahwa semua manusia telah terjajah oleh dosa. Semua manusia membutuhkan kemerdekaan. Setiap orang perlu benar-benar merdeka lahir dan batinnya. Setiap orang perlu benar-benar merdeka yaitu mengalami dan mencapai damai sejahtera. Setiap orang perlu benar-benar merdeka yaitu terlepas dari kekangan takut, gelisah, setres dan berbagai penyakit jiwa yang melanda. Setiap orang perlu sadar dari perbudakan guru yang menyesatkan dan membawa kebinasaan yaitu Iblis dan antek-anteknya, dan berpaling serta menyerahkan diri serta menjadi murid dari Guru Agung yang akan dan menjamin hidup dalam kesentosaan. Setiap orang perlu dimerdekakan dari penjajah hati, pikiran bahkan seluruh hidupnya. Setiap orang siapapun dia, dimanapun berada memerlukan kemerdekaan yang utuh.
Bagaimana mendapatkan kemerdekaan yang utuh?
Terungkap secara jelas bahwa prinsip dasar untuk ada dalam kemerdekaan yang utuh adalah percaya. Kita harus masuk dalam areal percaya dengan penuh kesadaran bahwa ada pribadi yang sanggup mengerjakan dan memberikan kemerdekaan yang utuh. Siapapun kita, bukan hanya orang Yahudi, tapi kita juga non Yahudi kalau percaya pasti akan memperolehnya.
Langkah berikut adalah tetap dalam perkataan-Nya atau firman-Nya. Ini berarti kita ada dalam penyerahan secara totol pada bimbingan dan arahan firman-Nya. Kita membuang semua konsep, ajaran-ajaran yang kita pegang dan jadikan sebagai kebanggaan atau unggulkan dari pada Dia yang adalah pencipta dan penguasa satu-satunya. Kita harus berpaut dan beriman pada Dia saja. Kita harus meninggalkan pengalaman dan keberimanan yang lampau, dan mengarahkan diri pada jaminan yang kekal dalam firman-Nya. Karena keselamatan hanya terjamin apabila kita tetap dalam firman-Nya. Murid yang sejati sudah seharusnya senantiasa taat pada perkataan-Nya. Sekarang kita ada pada satu keputusan yaitu tetap dalam kebenaran firman Tuhan, perkataan Tuhan Yesus Kristus, Sang Pembebas dan penolong satu-satunya. Langkah yang kita buat itu ternya akan membawa kita untuk mengetahui kebenaran yang memberikan atau menjamin kemerdekaan yang utuh itu.

. Dan sekarang perlu masuk dan menjadi murid yang sejati agar kemerdekaan itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Sebagai murid sejati yaitu tetap dalam firman atau pengajaran-Nya. Ia tidak akan mendengar dan melakukan yang bukan firman Tuhan. Sebagai murid yang sajati akan tetap dan focus pada pengajaran-Nya. Sebagai murid yang sejati tidak akan pernah walau sedikit melupakan ajaran-Nya. Ia akan memegang apa yang dikatakan, “ Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, “ ( Amsal 3: 1 ).
Sebagai seorang yang telah masuk dan menerima kemerdekaan yang utuh sudah pasti tahu bahwa Allah mengasihi manusia, karena kasihNya yang besar itu maka Ia memberikan Sang Penyelamat atau Sang Pembebas bagi manusia. Perhatikanlah Firman Allah ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga dikaruniakan AnakNya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Yohanes 3:16. Sudah pasti bahwa seorang yang telah menerima kemerdekaan yang utuh tidak akan menyia-nyiakan kasih yang begitu besar dan luar biasa.
Yesus Kristus datang untuk menebus manusia dari dosa­dosanya, agar manusia yang sungguh percaya dan menerima Dia akan memperoleh kemerdekaanyang utuh dan sejati. Dia yang tidak berdosa memerdekakan kita dari kuasa dosa dan maut, dengan cara Ia mati di kayu salib. Kemerdekaan yang utuh dan sejati hanya ada di dalam Yesus Kristus. Di luar Yesus yang ada hanyalah perhambaan dan kehidupan menuju kebinasaan. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun bener-berar merdeka. Yoh 8:36. Sekarang Anda, saya dan kita semua yang percaya, menderima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi ada dan pasti benar-benar merdeka. Untuk itu marilah kita teriakkan yel-yel, “Merdeka, merdeka, merdeka”. Merdeka roh kita, jiwa kita, tubuh kita. Merdeka selama-lamanya yaitu dibumi dan di sorga. Merdeka takkala kita hidup di dunia ini maupun kelak kita meninggalkan dunia ini. “ Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya”. ( I Tesalonika 5: 23,24 ). SALAM MERDEKA, OYE.

Berseru & Bersyukur

Kita berdoa dan berseru dengan mengimani pertolongan-Nya atas kecemasan dan keraguan kita "Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus." (Maz3:5). Kita juga berdoa dan bersyukur mengimani bajwa keadaan baik kita semata-karena kebaikan-Nya. "Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku." (Maz 34:2).

Semua Doa Terjawab

Jangan lekas percaya bahwa tidak semua doa dijawab Tuhan. Jawaban-Nya sering jauh lebih bermanfaat dari yang kita minta. Ketika Paulus minta kesembuhan. yang ia peroleh adlh perubahan karakter yaitu kerendahan hati untuk merendahkan diri. Jika ia tidak memiliki kerendahan hati mana mungkin ia merasa layak untuk bermegah dalam Tuhan karena menjadi orang yang dipakai-Nya untuk memberkati banyak jemaat. “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. (2Kor 12:7). "Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Maz 56:9)

Masih Ada Tuhan


”Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya”. (Lukas 7:14-15):

Peristiwa matinya anak tunggal lakii-laki dari seorang janda sudah terjadi. Kesedihan menghinggapi hati wanita itu . Masalah atau persoalan hidup itu sudah terjadi. Manusia itu hidup untuk menghindarkan diri dari kematian, namun anak itu tidak bisa menghindar. Bersyukur bahwa Tuhan Yesus memiliki hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan. Ia sanggup memberi jalan keluar atas permasalahan keluarga yang berduka ini, bahkan ketika permasalahan itu sudah memuncak. Yesus mempertimbangkan bahwa anak itu masih perlu hidup beberapa tahun lagi supaya ibunya tidak larut dalam kedukaan.

Kalau Yesus bisa membangunkan orang mati berarti Ia bisa melakukan apa saja, kepada siapa saja, hingga hari ini. Di luar sana, orang sudah menganggap Tuhan itu tidak ada. Mereka membunuh Tuhan dengan pikiranNya. Mereka tidak sadar  bahwa sesungguhnya merekalah yang patut dikasihani. Berbahagialah mereka yang mempercayai kasih dan kuasa Yesus bagi hidupnya. Sadarilah bahwa Yesus sedang mempertimbangkan hal baik dan saat yang baik untuk diberikan kepada kita dan dilakukan untuk kita.

DASAR REWEL (Dialog: Tuhan & Hamba-Nya)

H: Tuhan, mengapa Engkau membiarkan Aku terpuruk justru saat aku berapi-api melayanimu.
T: Supaya kamu terus bergantung pada-Ku
H: Tapi aku sudah tidak tahan, Tuhan.
T: Kamu pasti tahan, Aku akan menyertaimu dan memberi jalan keluar bagimu..
H:  Kalau sudah habis kesabaranku bagaimana?
T: Kalau memang begitu apa yang akan kau lakukan.
H: Menurutku lebih baik aku meninggalkanMu dan tidak lagi perlu melayaniMu.
T: Kalau begitu silahkan saja.
H: Apakah nantinya Engkau tidak merasa kehilangan Aku?
T: Sudah pasti Aku kehilangan sekali atas kepergianmu?
H:   Apakah Engkau akan bisa menemukan penggantiku?
T:   Sudah pasti, masih banyak yang bisa menggantikanmu dan ia pasti mau.
H:   Rasanya tidak adil dan merepotkan Engkau sendiri.
T:   Kenapa begitu?
H:   Daripada Engkau kerepotan mencari penggantiku apa tidak lebih baik Engkau
      menyelesaikan masalahku sekarang supaya aku tidak meninggalkanMu.
T:   Aturan mainnya tidak begitu. Dasar rewel.

Mujizat


Mereka berkata terhadap Allah: "Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun? - Mazmur 78:19

Beberapa waktu yang lalu saya melihat film lama, Ten Commandments, cerita tentang pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Saat melihat visualisasi dari cerita-cerita Alkitab itu, saya bisa bayangkan betapa dahsyat mujijat demi mujijat yang Tuhan lakukan di depan mata bangsa Israel. Betapa tidak? Sepuluh tulah terjadi, dan yang lebih luar biasa lagi, mata mereka melihat tongkat Musa membelah laut Kolsom! Tak berapa lama kemudian mata mereka juga melihat tentara Mesir dikubur hidup-hidup di laut itu juga.
Tuhan sudah membuat banyak mujijat di depan bangsa Israel, namun yang mengherankan adalah melihat kenyataan bahwa mereka tetap saja meragukan Tuhan. Mereka protes dan marah-marah saat tidak ada air. Mereka mengancam akan kembali ke Mesir saat tidak mendapatkan makanan. Mereka meragukan Tuhan. Menurut saya ini pola pikir mereka ini cukup aneh, jika Tuhan dengan mudah bisa membelah Laut Kolsom, masakan Tuhan yang sama tak bisa menyediakan air dan makanan bagi mereka?
Saya mentertawakan cara berpikir bangsa Israel yang bodoh, tapi sesungguhnya saya juga sering melakukan hal itu. Saya tahu bahwa Tuhan sudah melakukan mujijat demi mujijat yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Namun giliran saya menemui sedikit masalah dalam hidup saya, kadangkala saya meragukan pertolongan Tuhan. Saya tergoda untuk berpikir, apakah Tuhan bisa menolong dari masalah yang sedemikian kompleks?

Apakah Anda juga mengalami hal ini? Tak seharusnya kita meragukan pertolongan Tuhan, sebab sampai hari ini mujijatNya terus terjadi. Jika Tuhan bisa menyembuhkan orang yang hampir mati bahkan membangkitkan orang yang sudah mati, masakan Tuhan yang sama tak bisa menyembuhkan kita? Jika Tuhan bisa memberkati nelayan sederhana macam Petrus dengan tangkapan yang sangat banyak, masakan Tuhan yang sama tak bisa memberkati usaha kita? Jika Tuhan bisa membawa orang sulit macam Zakheus untuk bertobat, masakan Ia tak bisa melakukannya untuk keluarga kita? Masalahnya hanya satu, kita seringkali meragukannya. Jika saja kita hidup bukan dengan apa yang kita lihat, tetapi dengan apa yang kita percayai, maka kita akan melihat mujijat demi mujijat terjadi.

Sumber:
http://www.renungan-spirit.com/renungan-kristen.html

Ingin Mengalami Mujizat? Datang Kepada Tuhan!


Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2013
Baca:  Mazmur 77:1-21

"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala."
  Mazmur 77:12

Mujizat-mujizat yang tertulis di dalam Alkitab bukanlah cerita fiksi pengantar tidur, tapi merupakan kisah nyata sebagai bukti bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang ajaib dan berkuasa.  Mengapa Alkitab mencatat tiap-tiap kejadian secara detil?  Supaya kita makin kuat dan teguh di dalam Tuhan.  Mungkin ada yang berkata,  "Ah, itu
kan terjadi di masa lalu dan tak mungkin terulang, karena zaman sudah berubah!"  Penulis tegaskan:  dunia ini boleh saja berubah, tapi kuasa Tuhan tidak pernah berubah, kekal untuk selama-lamanya.  "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."  (Matius 24:35)  dan   "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  (Ibrani 13:8).  Meski dunia penuh goncangan, kita orang percaya,  "...menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut."  (Ibrani 12:28)

Contoh mujizat di masa lampau tertulis dalam 2 Raja-Raja 4:1-7.  Kisah seorang janda miskin yang sedang mengalami persoalan berat:  berutang banyak, menghadapi penagih utang dan anaknya hendak diambil sebagai jaminan.  Dalam keadaan terjepit mengadulah ia kepada Elisa, nabi yang mendapat pengurapan dua kali lipat.  Tanya Elisa,  "Apa yang kau punya?"  Janda itu menjawab ia hanya punya sedikit minyak dalam buli-buli.  Lalu Elisa memerintahkan janda itu untuk mengumpulkan bejana kosong sebanyak-banyaknya, sampai ia harus meminjam kepada tetangganya.  Apa yang terjadi?  Waktu minyak itu dituang, minyak itu mengalir terus-menerus sampai seluruh bejana kosong terisi penuh, hingga janda itu dapat membayar seluruh utangnya.


Saat dalam pergumulan berat, janda itu datang ke alamat yang tepat  (nabi Tuhan), bukan mencari  'alamat palsu', artinya mencari Tuhan dan berseru kepadaNya.  Saat diperintahkan mengumpulkan bejana-bejana kosong, janda ini pun taat.  Inilah iman yang hidup yaitu iman yang disertai perbuatan.  Akhirnya ia pun mengalami mujizat luar biasa!

Mutiara Kata


Be optimistic, be energetic, & be lively.
Tuhan masih ada dan masih berkerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, untuk mempedulikan kita & mengarahkah langkah kita keluar dari kerikil-kerikil yang menghambat perjalanan hidup kita.
“Engkau tidak meninggalkan mereka di padang gurun karena kasih sayang-Mu yang besar. Tiang awan tidak berpindah dari atas mereka pada siang hari untuk memimpin mereka pada perjalanan, begitu juga tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui.” (Neh 9:19)

*****************************

Kerinduan-Nya
Kerinduan-Nya adalah bertemu dengan kita, apapun keadaan dan keberadaan kita. "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. " (Luk 19:5). So, sebenarnya Dia tidak pernah jauh, apalagi menjauhi kita.

Ada saatnya kita sungkan menerima Yesus masuk dalam kehidupan kita. Zakheus malu menerima Yesus karena menyadari bahwa rumah dan seisinya yang adalah hasil penyalahgunaan kewenangan dalam memungut pajak, tidak pantas bagi Yesus yang mulia. Namun Yesus bersikeras untuk berkunjung ke rumah Zakheus. Yesus tidak menghakimi perbuatan Zakheus melainkan justru Ia menghargai niatnya yang sungguh untuk menemukan Dia. Kasih-Nya yang besar mengisi kekosongan hidup Zakheus yang bergelimang harta dunia. Kiranya perjumpaan kita dengan Yesus hari ini di Rumah Tuhan menyegarkan dan menghidupkan hidup kita. "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. " (Luk 19:5). -Pdt. J.H. Lesnussa

*****************************
Saya Tidak Sanggup
Seringkali reaksi pertama kita atas masalah atau tugas yang kita anggap berat adalah "Saya tidak sanggup". Namun firman Tuhan meneguhkan kita bahwa "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Itu berarti kita dimungkinkan untuk menangani atau menghadapi setiap persoalan yang ada ketika kita melibatkan Kristus di dalamnya. Sederhananya, tidak berlebihan jika kita mengharapkan sesuatu terjadi di luar jangkauan kesanggupan kita "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37).

*****************************


Menyenangkan Hati Tuhan
Mestinya yang kita perjuangkan dalam hidup ini mengarah pada "menyenangkan hati Tuhan. Ketika Dia merasa senang atas apa yang kita sudah lakukan, apa sih yang tidak akan Ia berikan untuk kita? Di saat kita masih menjadi seteru-Nya, Ia memberi anak-Nya yang tunggal, bukan anak yang ke sekian. Itu berarti Ia memberi kita segala yang Ia punya. Terlebih ketika kita sudah menjadi anak-anak-Nya, makin tergerak dan bersukacitalah hati-Nya untuk memenuhi semua keperluan kita. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19).

*****************************

ASAL TIDAK BIMBANG

"Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?”’ (Yer 32:27)

Ketika kita sedang menghadapi sesuatu yang nampaknya tidak mungkin untuk kita atasi, milikilah iman karena tiada yang mustahil ketika Allah di pihak kita.   Bukankah firman Tuhan mengatakan “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia “? (1Yoh 4:4)

Oleh karena itu jangan menyerah ketika menghadapi apa yang nampaknya mustahil karena kita percaya muzijat itu masih ada dan masih berlangsung.

Ingatlah juga apa yang Yesus ucapkan "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.  Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mrk 11:23-24).

Akhirnya, ketika suatu saat kita terjebak dalam perasaan bahwa sesuatu tidak mungkin terjadi; ingatlah firman Tuhan ini “Berdirilah dengan teguh dalam iman! (1Kor 16:13).   Jika kehendak Tuhan meliputi kita, apapun bisa terjadi!

Pastor Allen

Kesungguhan dalam berurusan dengan Rumah Tuhan

(1Tawarikh 22:1-16)

Biasanya orang berdoa memohon kepada Tuhan untuk bisa memiliki rumah. Namun dalam bacaan 1Tawarikh 22:1-16 kita bisa menemukan adanya orang-orang yang membuatkan rumah untuk Tuhan. Apa Tuhan itu kalau tidak dibuatkan rumah terus tidak bisa berteduh? Tentu saja tidak. Pengertian rumah Tuhan adalah tempat bagi pertemuan dua hati yaitu hati Tuhan dan hati umat-Nya. Ini tentang orang-orang yang peduli pada Tuhan, tentang mereka yang menghormati Tuhan. Dengan usahanya, mereka ingin menyenangkan hati Tuhan.
Bagi Raja Daud, membangun Bait Allah / Rumah Allah  merupakan prioritas dalam hidupnya. Walaupun tidak diizinkan membangun sendiri, dia berusaha sungguh-sungguh untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembangunan Bait Allah tersebut.
Sikap Raja Daud tersebut amat mengesankan bila kita mengingat bahwa yang akan mendapat penghormatan bila Bait Allah itu telah berhasil dibangun bukan dirinya, melainkan anak-Nya-Salomo. Raja Daud berusaha melakukan yang terbaik-tidak asal-asalan, bukan untuk kesuksesan dirinya sendiri, melainkan untuk ketenaran anaknya.
Bait Allah adalah lanjutan dari Kemah Suci. Kemah Suci/Kemah Pertemuan/Tabernakel adalah Kaabah Allah. Kemah Suci dibuat di kaki gunung Sinai di bawah pimpinan Musa dengan teliti sesuai petunjuk dari Allah.Kemah itu dibongkar pasang selama 40 tahun perjalanan bangsa Israel dari Sinai sampai ke tanah Kanaan. Bait Allah melambangkan "Kehadiran Allah yang menetap", Bait Allah adalah tempat pertemuan Allah dengan umat-Nya. Jika Bait Allah terbengkelai maka yang terjadi adalah "jadilah kehendak saya" Melalui Kristus, setiap orang percaya bisa menjadi Bait Allah/Kaabah Allah, karena Allah menetap/tinggal/diam di sana. Di jaman anugerah ini Kaabah Allah bisa ada di mana-mana, dimanapun orang percaya ada di sana.(Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1Kor 3:16)
Ay 1.  “Maka kata Daud, Di sinilah rumah TUHAN, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel."  è Setiap anak Tuhan perlu memiliki kepekaan dan keyakinan akan pimpinan Tuhan. Biarlah Tuhan yang mendahului setiap rencana kita dan menunjukkan kepada kita suatu tempa yang Ia kehendaki untuk melakukan sesuatu.Ay 5.  “dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa besarnya sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri" è Biarlah segala sesuatu yang kita lakukan adalah bagi hormat dan kemasyhuran nama-Nya, bukan untuk kemuliaan kita para pelayan-Nya.
Ay 6. “Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel” Daud naik tahta melalui liku-liku dan keringat perjuangan, tapi Ia tidak diijinkan Allah mendirikan Bait Allah. Sebaliknya Salomo naik tahta dengan hanya satu tugas yakni membangun rumah bagi Allah Israel.
Ay 8. “tetapi firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab sudah banyak darah kautumpahkan ke tanah di hadapan-Ku. è Meskipun sebagian besar peperangan yang dijalani Daud adalah atas dasar perintah dan pertolongan Tuhan  namun Allah tidak menghendaki adanya ingatan akan telah adanya peperangan/kekerasan. Tangan Daud berlumuran darah juga karena peristiwa Batsyeba/Uria”
Ay 9. “Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya.” è Salomo/ shalom= Kedamaian, Rumah Tuhan bukanlah tempat pertumpahan darah. “Rumah Allah” ini harus melambangkan kedamaian/perdamaian. Gereja bukanlah tempat untuk merusak jiwa tapi tempat menyelamatkan jiwa.” Bukan tempat huru-hara.
Ay 14. ”Sesungguhnya, sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi.”  è Daud menyadari bahwa jumlah itu mungkin tidak cukup, tetapi Daud pun hanya mampu menyediakan sejumlah itu bagi Salomo, karena kondisi kerajaan Israel pada waktu itu pun dalam kesusahan, karena adanya peperangan dan pemberontakan yang cukup menguras kas negara.  Akan tetapi, Daud pun memberikan hal terakhir yang ia miliki kepada Salomo, yaitu semangatnya. 
Ay 16. “Mulailah bekerja! TUHAN kiranya menyertai engkau!" è Saat kita menyadari bahwa Allah menyertai kita, janganlah hal itu menjadikan kita malah malas untuk berusaha. Karena Allah menyertai kita di sepangjang hidup kita, maka mari kita melakukan sesuatu bersama Dia


Mari kita Lebih Serius dalam berurusan dengan Rumah Tuhan.


Dijagai-Nya Yang Teguh Dan Yang Percaya


“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wah 2:4)


Banyak carut marut kehidupan diakibatkan oleh hilangnya cinta mula-mula, diawali dengan meninggalkan cinta kepada Tuhan diikuti oleh hilangnya cinta kepada sesama. Betapa hebat daya rusak dari hilangnya cinta mula-mula.


Ketika kita mengasihi Dia dengan cinta mula-mula, kita akan terus mempercayai campur tangan Dia dalam kehidupan kita. Terpeliharanya cinta mula-mula memungkinkan terpeliharanya iman dari rongrongan persoalan hidup. Ketika kita mengasihi Dia dengan cinta mula-mula kita akan memelihara iman dan melakukan perbuatan iman yang ajeg, bersikap dan bertindak seperti yang dikehendaki oleh Dia yang kita kasihi. Sebaliknya, Meninggalkan kasih mula-mula berakibat pada :kegersangan, kehampaan, kekeringan rohani, ketakutan, kekejaman dsb. Meninggalkan cinta mula-mula berarti menghilangkan kasih yang pernah kita berikan kepada-Nya dan berarti berhentinya kita dari mengandalkan Dia sebagai Penolong kita. Tanpa cinta mula-mula tak akan ada lagi rasa sungkan dan hormat kita kepada-Nya. Cinta mula-mula dimungkinkan tinggal sebagai kenangan yang pernah kita miliki. Ketika hal itu terjadi maka penyembahan dan pelayanan kita hanya akan menjadi rutinitas yang monoton, begitu-begitu saja, hanya sebagai kepatutan agamawi.


Kalau akibat dari hilangnya cinta mula-mula adalah kerunyaman, sebaliknya buah dari terpeliharanya cinta mula-mula “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” (Yes 26:3)


Berbahagialah yang teguh mempercayai Tuhan, yang mengasihi Tuhan dan berbahagialah yang teguh dalam melayani Tuhan. 


Akhirnya,


Landasilah dengan kasih jerih payahmu dan ketekunanmuLandasilah dengan kasih ketidaksabaranmu terhadap orang-orang jahatLandasilah dengan kasih kesabaranmu karena nama-Nya ;Landasilah dengan kasih jerih-lelahmu dalam melayani-Nya. 

Persungutan, Kecemberutan & Kekecutan hati


Salah satu alasan mengapa kita mengeluh adalah karena kita merasa tidak memperoleh yang kita harapkan atau justru karena mendapatkan yang tidak kita harapkan. Namun ada saatnya yang terjadi dalam kehidupan adalah yang tidak bisa kita hindari. Itulah yang menimbulkan persungutan, kecemberutan serta kekecutan hati. Semua itu berpengaruh pada penampilan keluar jasmaniah kita maupun ketergerusan batiniah kita. Pilihan yang tepat untuk masalah tersebut tidak lain adalah mengenyahkan keluhan, karena di luar itu bukan pilihan. Yang mendasari dari tidak adanya alasan untuk mengeluh adalah bahwa  “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu” (Maz. 34-20).  Persungutan tidak merubah keadaan. Sebaliknya “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amz  17:22).

Kalau “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom 8:28), maka kebaikan yang akan Ia datangkan akan lebih mudah terjadi saat kita memelihara hati yang bersyukur dan mempercayai kesetiaan dan pemeliharaan-Nya. -Yanrose